
"Begitu kah? Jadi mereka membawanya ke tempat yang tidak diawasi CCTV?" ujarku yang menyadari sesuatu.
Aku segera menyiapkan ponselku untuk berjaga-jaga sekaligus berniat merekam kejadian ini. Karena jika ini direkam, maka aku memiliki sesuatu untuk mengancamnya. Tentunya aku telah mempersiapkan banyak hal dengan matang, jadi tidak akan ada masalah untuk kedepannya. Mungkin?
Pada saat mereka berhenti di sebuah tempat yang kosong, aku segera mencari posisi aman dan bagus untuk merekamnya. Benar saja, tepat ketika tombol rekam aku tekan. Mereka segera memulai perundungannya dengan memukul perut dan menginjak kaki Charlotte dengan kuat.
Charlotte tidak berteriak, dia mempertahankan senyumannya meskipun merasa sakit. Aku ingin segera menghentikannya, tapi saat ini masih belum cukup bukti untuk direkam. Jadi bertahanlah sebentar lagi, Charlotte.
"Senyuman itu, benar-benar sangat menyebalkan tahu!" ucap gadis berandalan itu menendang wajah Charlotte tanpa ragu.
"Hey, kenapa kamu melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya telah aku lakukan padamu?" tanya Charlotte yang terlihat bingung.
"Oh? Kau baru menanyakannya sekarang?" sahutnya.
"Itu semua karena dirimu yang merebut gelar gadis populer dariku! Seharusnya aku yang menjadi gadis populer, tapi kau merebutnya!" ungkapnya.
Mendengar alasan seperti itu, membuatku merasa kesal dan marah yang sudah tidak bisa aku tahan lagi. Jadi aku memutuskan untuk keluar sembari melanjutkan rekamannya. Namun agar tidak dicurigai merekam, aku meletakkan ponselku di saku yang mana lensa kameranya masih merekam.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyaku memanggil.
"Merundung seseorang bukanlah hal yang baik," lanjutku.
"Itu bukan urusanmu! Pergilah!" balas gadis berandalan itu.
"Benarkah? Berarti kalian tidak masalah dibawa masuk ke ruang BP?" ungkapku sedikit mengancam.
Gadis itu berdecak kesal dan pergi meninggalkan Charlotte berdua bersamaku. Aku berjalan mendekati Charlotte, berniat untuk menenangkannya setelah menghentikan rekaman yang aku lakukan sebelumnya. Tapi baru saja selangkah, aku mendengar isak tangis Charlotte begitu jelas.
"Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, hiks.. kenapa ini terjadi padaku?" lirih Charlotte.
Aku terdiam, entah kenapa langkah kakiku berhenti. Sungguh tidak bisa dipercaya, sosok yang dianggap sebagai Malaikat oleh banyak orang. Ternyata memiliki hati yang sangat rapuh dan dia tidak pernah menunjukkannya pada siapapun. Aku menggelengkan kepalaku dan duduk tepat di sampingnya. Aku mengangkat kepala Charlotte dan meletakkannya di pundakku.
"Tak apa, kau bisa menangis di pundakku sepuasnya," ujarku yang membuat Charlotte menangis sejadi-jadinya.
***
"Ugh.. ini benar-benar memalukan untukku menangis dihadapan seseorang," ucapnya malu.
"Sungguh? Itu yang kau katakan setelah aku meminjamkan pundak padamu?" ledekku.
"Maaf. Terimakasih telah meminjamkan pundakmu," balasnya tersenyum.
"Hey, aku hanya bercanda tahu," ungkapku.
"Aku tahu kok!" balasnya tersenyum lagi.
Ugh.. mendapatkan senyuman manis seperti itu dua kali benar-benar membuatku salah tingkah. Aku tidak tahu kalau dia semanis dan seimut ini?!
"Rian, terimakasih telah membantuku sekali lagi. Tapi kenapa kamu repot-repot melakukannya? Bukankah saat pagi tadi kamu bilang padaku untuk mengabaikan dirimu saat disekolah?" tanya Charlotte bingung.
"Ah, tentang itu.. kau tahu kalau dirimu itu sangat populer bukan? Aku hanya tidak ingin para laki-laki itu memberikan tatapan membunuh padaku. Terlebih lagi, aku tidak sepopuler dirimu. Jadi bisa dikatakan kalau aku merasa tidak pantas berada disam--"
"Cukup, jangan katakan itu. Bagiku, kamu itu adalah pria yang baik lho!" potong Charlotte.
"Kamu mengingatkan aku tentang orang-orang yang aku sayangi saat itu. Bahkan sekarang pun kamu menghentikan perundungan yang aku alami," jelas Charlotte.
"Jadi berhentilah untuk merendahkan dirimu sendiri, oke?" lanjutnya.
Aku terdiam, tidak menyangka kalau akan mendapatkan pujian seperti itu. Apakah kehidupanku mulai berubah semenjak bertemu dengannya? Aku melirik kearah Charlotte, pipinya sedikit memerah. Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk menanyakannya.
"Ada apa, Char? Wajahmu memerah?" tanyaku.
"Itu.. aku pikir mengatakan "berdiri di sampingku" itu terlalu awal, kan?" jawabnya dengan malu-malu.
Menyadari maksudnya, aku segera panik dan mencoba menjelaskannya. Tapi karena panik, aku tidak bisa mengatakannya dengan baik.
Charlotte mencium pipiku dan memalingkan wajahnya. Aku bisa melihat pipinya semakin merah merona.
"Itu.. tolong anggap saja sebagai balasan karena telah membantuku," ucapnya tanpa melihat kearah ku.
Aku tidak bisa berkata apapun lagi, pada saat ini entah kenapa aku benar-benar ingin memeluknya. Tapi jika aku melakukan itu, mungkin dia akan membencinya. Karena itulah, aku berhasil menahan diriku dan segera bangun dari dudukku.
"Apa kau bisa berjalan?" tanyaku mengulurkan tangan.
"Sepertinya bisa?" jawabnya meraih uluran tanganku dan berdiri.
Tetapi saat dia ingin melangkah, Charlotte jatuh kembali dan mengerang sakit. Melihatnya, aku segera membungkukkan badanku dan berniat memberinya bantuan berupa gendong belakang.
"Kemarilah, aku akan membawamu ke UKS," ujarku.
"Eh? Apa tidak masalah?" tanyanya.
Jika kau menanyakan masalah atau tidak, tentu saja ini masalah. Karena bisa saja para fans Charlotte akan mengutukku. Tapi jika aku tidak melakukannya, maka itu sama saja dengan mengabaikan Charlotte. Itulah kenapa, aku lebih memilih dikutuk mereka daripada membiarkannya ditempat ini sendiri.
"Bukan masalah! Karena itulah, cepat naik dan biarkan aku membawamu ke UKS!" pintaku.
Charlotte hanya bisa menurut dan membiarkanku menggendong dirinya. Meskipun tubuhnya mungil, ternyata dia cukup berat juga yah? Apalagi dadanya menempel pada punggungku. Sialan! Apa aku telah melakukan tindakan pelecehan tanpa sadar?
"Apa aku tidak berat?" tanya Charlotte.
"Tentu saja, kau berat!" jawabku jujur.
Charlotte lalu mencubit pipiku sembari cemberut. Dia mengatakan akan lebih baik kalau aku tidak jujur mendengar pertanyaan tersebut. Hey, kau tahu selama ini aku tidak terlalu suka berbohong lho!
"Kalau begitu, aku akan membawamu sekarang. Jadi bertahanlah sampai kita berada di UKS yah," ungkapku.
"Un!" sahutnya pelan.
***
Butuh waktu lama untuk sampai di UKS. Kenapa? Itu karena aku harus menjawab banyak pertanyaan dari banyak orang yang melihatku menggendong Charlotte. Pada saat aku meminta bantuan dari Charlotte untuk menjelaskan, gadis itu malah memilih tidur dalam gendonganku.
"Aku lega karena bisa lolos dari berbagai pertanyaan berkatmu. Terimakasih, Leon!" ungkapku.
"Jangan dipikirkan! Sudah sewajarnya kita membantu teman yang membutuhkan bukan?" sahut Leon.
Benar, jika bukan karena Leon Rangga Putra teman sekelas yang bisa dibilang sangat populer dikalangan gadis. Aku tidak mungkin bisa sampai ke UKS. Pria berambut pirang dengan gaya rambut spiral itu segera pamit karena ada pekerjaan lain. Aku mengucapkan terimakasih sekali lagi, sebelum menatap Charlotte dengan tatapan datar.
"Aku tahu kau berpura-pura tidur semenjak tadi, Char!" ungkapku.
Charlotte lalu membuka matanya dengan tawa cengengesan, dia kemudian bangun dan duduk di kasur UKS.
"Hehe, ketahuan yah?" sahut Charlotte.
"Tentu saja bukan! Memangnya kau pikir aku tidak tahu kalau selama dalam perjalanan kau tersenyum? Puas melihatku disudutkan selama diperjalanan?" keluhku.
"Kamu marah?" tanya Charlotte dengan wajah tak bersalah.
Gadis ini sepertinya memang ingin membuatku kesal yah? Pake nanya aku marah atau tidak lagi?
"Terserahlah, sebentar lagi waktu makan siang. Aku akan mengambil bekal dulu di kelas," balasku.
"Aku juga akan mengambilnya untukmu, jadi duduk dan diam saja disana oke?" lanjutku berjalan meninggalkan ruang UKS.
"Kamu benar-benar sangat curang yah?" lirih Charlotte pelan.
Aku mendengarnya, tapi memutuskan untuk mengabaikan itu karena aku pikir salah dengar. Jadi aku pun bergegas kembali ke kelas untuk mengambil bekal Charlotte dan milikku.