The Angel Wants To Be Spoiled With Me

The Angel Wants To Be Spoiled With Me
Malaikat Itu Tersenyum - Sebuah Rencana?



"Hey, Rian. Kenapa kamu tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi?" tanya Charlotte yang kini tengah menyiapkan makan siang.


"Apa kau yakin? Lagipula aku pikir menceritakan tentang kau yang ingin melompat untuk mengakhiri hidup itu bukanlah hal yang pantas untuk diceritakan pada Ibuku. Selain itu, aku rasa kau tidak ingin aku menyinggung hal tersebut, kan?" jawabku menjelaskan.


Setelah cukup tenang, Charlotte segera kembali ke sikapnya yang tegar. Maksudku, tidakkah aku terlalu ikut campur dengan masalahnya? Terakhir kali aku melakukannya, aku merasa kalau tindakanku itu terlalu egois. Jadi aku putuskan untuk tidak menceritakan masalah yang dialami Charlotte lagi, kecuali dia sendiri yang menginginkannya.


"Ngomong-ngomong, bukankah kau terlalu sering membuat masakan menggunakan bahan-bahan di tempatmu? Apa persediaan bahan makanan milikmu tidak ada masalah?" tanyaku mengalihkan topik.


"Jika dipikir lagi, stok bahan makanan milikku juga mulai menipis. Selain itu, aku juga belum mendapatkan uang saku bulanan dari Papa," jelas Charlotte.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi membelinya sore nanti?" ajakku.


"Huh? Apa itu tidak masalah?" tanya Charlotte.


"Ya, tentu. Lagipula aku baru saja mendapatkan uang bulanan dari Ibuku. Jadi aku rasa ini bukan masalah untuk belanja?" ungkapku.


Charlotte terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu, dia kemudian datang dari dapur membawakan makanan yang telah dia buat untuk makan siang kami. Kemudian setelah meletakkannya ke atas meja, dia pun duduk di depanku.


"Baiklah, tapi kita akan pergi nanti sore. Aku ada sesuatu yang ingin dilakukan setelah ini," jelas Charlotte.


"Aku mengerti," balasku.


Aku tidak menanyakan apa yang ingin dia lakukan setelah makan siang. Kau tahu, ada beberapa hal yang tidak seharusnya kita tanyakan pada seorang gadis, bukan?


Aku dan Charlotte lalu menyantap makan siang. Setelah itu, Charlotte mencuci piring kotornya dan pamit undur diri setelahnya. Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk mengisi waktu luang?


"Hmm? Ini kan, Kartu Pelajar Charlotte?" gumamku setelah mengambil sebuah kartu yang tergeletak di lantai.


Apa Charlotte tidak sengaja menjatuhkannya?


"Oh? Ulang tahunnya 28 September?" ujarku saat memeriksa Kartu Pelajar Charlotte.


Tunggu, bukankah itu besok?


Aku mengambil ponsel dan mengecek kalender untuk melihat tanggal. Tidak salah lagi, besok adalah Hari Ulang Tahunnya Charlotte.


"Ulang tahun, kah? Apa sebaiknya aku menyiapkan hadiah untuknya?" gumamku.


Ugh.. aku tidak terbiasa melakukan ini. Biasanya aku hanya mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" saja pada Mira. Jika pun memberi hadiah, aku hanya memberikan permen padanya.


"Yah, aku pikir tidak masalah untuk berjalan-jalan sebentar?" ucapku yang memutuskan keluar dari apartemen.


Tidak lupa, aku meletakkan Kartu Pelajar milik Charlotte di tempat yang aman dan mengunci pintu apartemenku dengan baik sebelum pergi. Aku juga berpikir untuk memberikan kunci cadangan apartemenku pada Charlotte, tapi aku rasa itu bukanlah ide yang bagus.


"Baiklah, ayo pergi cari angin sebentar!"


***


Meskipun aku mengatakannya, kenapa malah bertemu pasangan bucin di tempat seperti ini sih?


Aku menghela nafas cukup panjang ketika duduk di bangku yang sama dengan Dani dan Mira di sebuah kafe. Seriusan, kenapa aku selalu bertemu dengan mereka berdua saat libur sekolah, sih? Bukankah sudah cukup untuk bertemu mereka di sekolah dan bukan hari libur?!


"Kau terlihat kecewa saat duduk dengan kami? Sebegitu enggannya kau tidak ingin bertemu kami?" tanya Dani.


"Mau jawaban jujur yang menyakitkan?" balasku menantang.


"Ugh, aku pass dulu untuk saat ini," sahut Dani.


"Wah~ Siapa sangka Rian akan menjadi se bad boy ini? Aku jadi kasihan pada Charlotte," tambah Dani yang membuatku semakin kesal.


"Baiklah, sudah cukup. Mari cari tanah lapang dan biarkan aku menghajar wajahmu itu," kesalku menggulung lengan.


"Hey, santai bung! Kami hanya bercanda, kan Mira?" sahut Dani melirik Mira.


Mira tidak menjawab, dia hanya bersiul sembari mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Membuat Dani berkeringat karena pacarnya melarikan diri dari percakapan tadi. Aku menghela nafas sekali lagi, kemudian duduk tenang setelah memesan minuman.


"Mbak, masukkan tagihannya ke pria ini yah!" pintaku menunjuk Dani.


"Woy! Aku kan hanya berhutang RP, 10.000,00- saja! Kenapa kau malah membuatku membayar minuman yang harganya dua kali lipat dari hutangku?" tanya Dani panik sekaligus bingung.


"Aku akan menggantinya besok! Jadi tenang saja," balasku santai.


"Ugh.. aku bukan dompet darurat kau tahu?" gumamnya.


"Itu juga berlaku padamu, bodoh!" sahutku yang mendengar gumamannya.


Tidak lama setelah itu, minuman yang aku pesan datang. Dani kemudian menanyakan apa yang terjadi. Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun pada mereka. Jadi aku pun menceritakannya pada mereka berdua, karena aku yakin mereka bisa dipercaya untuk menjaga rahasia.


"Eh?! Char besok ulang tahun?!" tanya Mira terkejut.


"Jadi kau bingung hadiah apa yang harus kau berikan untuknya?" sahut Dani ikut bertanya.


"Yah, seperti itulah!" balasku singkat.


"Hadiah Ulang Tahun, kah? Biasanya sih aku memberikan aksesoris untuk ulang tahun Mira," jelas Dani.


"Aksesoris? Jadi kau juga berpikir begitu yah? Namun bukankah itu sedikit berlebihan?" ungkapku.


"Yah, tapi ini Charlotte lho? Aku rasa hadiah apapun darimu pasti akan diterima?" jawab Dani.


"Apapun?" ucapku bingung.


"Bagaimana darimu, Mira?" tanyaku mengalihkan pandangan pada Mira.


"Hmm? Aku tidak terlalu paham dengan kesukaan Char? Tapi apa yang dikatakan oleh Dani ada benarnya kok! Hadiah apapun, jika diberikan dengan tulus pasti akan diterima!" jawab Mira.


Hadiah yang diberikan dengan tulus? Mungkin aku sekarang tahu apa yang harus aku berikan pada Charlotte sekarang? Namun entah bagaimana aku juga merasa kurang yakin pada saat yang sama.


Pada akhirnya, kami pun berdiskusi panjang lebar dan sebelum pergi dari sana. Dani menyerahkan dia buah tiket yang dia dapatkan dari sebuah event.


"Kau serius memberikan ini?" tanyaku ragu untuk mengambilnya.


"Jangan khawatir! Aku dan Mira bisa membelinya besok! Setidaknya ini akan membuat kalian tidak terlihat seperti kencan atau semacamnya," jelas Dani.


Kau pikir aku bodoh? Jelas-jelas ini adalah Double Date! Yah, itupun jika mereka benar-benar datang dan tidak scam padaku.


"Baiklah! Tapi berjanjilah untuk datang besok! Kita akan bertemu di halte bus terdekat besok jam 10 pagi! Itu juga kalau dia menerimanya, sih?" ucapku.


"Hehe, berjuanglah untuk menyakinkannya oke?" balas Dani.


Aku hanya mengangguk pelan dan berjalan pulang sembari melambaikan tangan. Tiket Masuk Taman Bermain yah? Tidak salah lagi, ini sih tempat dimana setiap pasangan melakukan kencan! Apapun itu, terlepas dari Charlotte menerimanya atau tidak. Mungkin aku akan tetap datang walau sendirian?