
Aku membuka mataku, di depanku saat ini ada seorang gadis berambut pirang yang juga tengah tertidur di sebelahku. Bangun dan duduk di kasur, aku mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
"Oh, benar. Kami berdua tidur bersama yah?" gumamku mengingat.
Meskipun aku mengatakan tidur bersama, pada dasarnya kami murni hanya tidur bersama tanpa melakukan hal yang biasanya sepasang kekasih lakukan. Menghela nafas lega karena tidak terjadi apapun antara aku dan Charlotte, aku berjalan keluar dari kamar menuju kamar mandi.
"Dia benar-benar melakukannya?" ucapku.
Semua pakaian kotor yang aku letakkan di tempat pakaian telah dicuci dan dijemur pada area kamar mandi. Ya, itu wajar mengingat dia melakukannya saat malam sih.
Aku membasuh wajah setelah menyikat gigi dan mengganti pakaianku yang penuh keringat dengan yang baru. Tentu saja, aku membawa pakaian tersebut dari lemari sebelum kesini.
Aku bergegas keluar dari kamar mandi dan membuat kopi. Setidaknya, aku mungkin harus membuatkannya kopi? Tapi aku tidak tahu dia akan menyukainya atau tidak?
Krek~
Charlotte keluar dari kamar, wajahnya sedikit memerah ketika aku meliriknya. Begitu juga aku. Maksudku, bukankah wajar aku sedikit malu dengan kejadian semalam kan?
"Apa kau.. mau kopi?" tanyaku.
"Un! Jika boleh, tambahkan susu sedikit," jawabnya mengangguk pelan.
"Tentu," sahutku singkat.
"Apa aku bisa meminjam kamar mandinya untuk membasuh wajah?" mohon Charlotte.
"Lakukan sesukamu," balasku melambaikan tangan.
Charlotte lalu pergi ke kamar mandi, meninggalkanku sendirian disini. Sial! Bukankah ini canggung sekali? Apakah ini yang dirasakan oleh semua pengantin baru setelah menikah? Meskipun aku dan Charlotte tidak memiliki hubungan seperti itu sih.
"Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Mana mungkin Charlotte mau bersama dengan pria menyedihkan sepertiku?" gumamku.
***
Kamar mandi, tanpa Adrian sadari. Charlotte tengah memandangi wajahnya yang memerah di cermin.
"Uh.. apa kami tidak melakukannya? Tidak, aku yakin Rian tidak melakukannya kan?" gumam Charlotte memegangi kedua pipinya.
"Tapi.. jika memang Rian melakukannya saat aku tertidur? Aku pikir itu bukan masalah?" lirihnya yang membuat wajahnya semakin memerah.
Bahkan kepalanya kini telah mengeluarkan asap tebal, membayangkan perbuatan nakal yang dilakukan Adrian kepadanya.
***
"Ah, selamat datang kembali?" panggilku saat melihat Charlotte keluar dari kamar mandi.
Charlotte membalasnya dengan senyuman, dia berjalan ke dapur untuk membuat sarapan. Aku menyeruput kopi hitam yang masih sedikit panas, lalu meletakkannya kembali diatas piring kecil.
"Terimakasih karena telah berbaik hati untuk mencuci pakaianku," ungkapku.
"Tidak masalah! Lagipula, aku sendiri yang ingin melakukannya," jelas Charlotte.
Charlotte mengambil dua butir telur, beberapa sosis dari lemari es, serta empat buah roti tawar dari rak piring. Mungkinkah dia ingin membuat roti bakar? Aku tidak memiliki Toaster sih, mungkin aku akan membelinya hari ini.
"Ugh.. benar juga, uangku sangat tipis sekarang," ingatku.
Sepertinya aku memang harus pergi bekerja paruh waktu lagi mulai hari ini?
Ting!
Ponselku berbunyi, menunjukkan sebuah pesan dari ibuku. Mungkin dia ingin menanyakan kabarku lagi hari ini? Oh, benar juga. Sekarangkan awal bulan? Apa ibu memberikan uang saku untukku bulan ini?
Aku membuka ponsel dan mengeceknya. Lalu saat aku membacanya, secara spontan aku menyembur kopi yang tengah diminum. Charlotte yang melihatnya segera menghampiri sembari membawakan sarapan yang telah dibuatnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Charlotte meletakkan roti bakar buatannya di meja makan.
"Uhuk.. uhuk.. tidak apa sih. Aku hanya sedikit terkejut saja barusan. Sepertinya aku akan kedatangan tamu hari ini?" balasku terbatuk-batuk.
"Benarkah? Apa itu Dani dan Mira? Seharusnya kamu tidak perlu memikirkannya kan?" sahutnya tertawa.
"Ibuku, akan datang berkunjung," jelasku yang membuat Charlotte terdiam sesaat.
"Begitu yah?" balasnya tersenyum.
"Tunggu, apa-apaan dengan senyum itu?" tanyaku.
"Kenapa? Bukankah itu hal yang wajar bagi seorang Ibu mengkhawatirkan keadaan anaknya?" jawab Charlotte.
"Kau tidak mengerti! Dia sangat menyeramkan saat marah!" ungkapku panik.
"Bagaimana jika dia tahu kalau seorang gadis sering bermain ke tempatku?!" lanjutku yang semakin panik.
"Huh? Apa itu masalah yang kamu harus khawatirkan? Mengingat kamu bilang kalau Mira adalah teman masa kecilmu?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Mira itu berbeda! Ibuku sangat sensitif dengan bau! Bahkan sangking sensitifnya, dia bisa menyadari bau semua rekan kerja Ayahku!" jelasku.
"Heh~ Begitu yah~ Kamu benar, Mira dan aku itu berbeda~" ucap Charlotte dengan tatapan datar.
"Duh! Maksudku adalah aku tidak ingin dia berpikir yang aneh-aneh tentang dirimu!!" teriakku kesal.
Agh! Sejak kapan dia menjadi gadis egois seperti ini? Dimana? Dimana Charlotte yang dikenal oleh semua orang sebagai Malaikat itu pergi?!
"Untuk hari ini, bisa kau tinggal di rumahmu? Aku mohon!" ungkapku memohon.
"Tidak mau! Lagipula aku juga penasaran dengan Ibumu, Rian," balasnya menolak.
Ugh.. aku tidak mengerti lagi jalan pikirannya!
Knock! Knock!
"Cih, sudah sampai kah?" gumamku.
"Kalau begitu, aku akan menyapa--"
"Tidak! Untuk kali ini, tolong tetaplah di kamarku sampai Ibuku pulang, oke!" ungkapku mendorong paksanya menuju kamarku dan menguncinya.
Maafkan aku, Charlotte. Tolong salahkan egomu itu dan jangan marah padaku oke? Suara ketukan terdengar sekali lagi dengan cukup keras. Tapi bedanya kali ini, ada suara seorang wanita setelah ketukan tersebut
"Sampai berapa lama lagi kamu ingin membuat Ibumu ini menunggu, Rian?!" teriaknya.
Aku segera berjalan dengan cepat, berusaha untuk menggapai gagang pintu sebelum Ibuku memutuskan mendobraknya. Jika itu benar-benar terjadi, aku harus menggantinya dan itu benar-benar harus aku hindari.
Krek~
Aku membuka pintunya dan memperlihatkan wanita berambut hitam pendek dengan kacamatanya. Terlihat dia juga memegang sebuah Pad ditangannya dan masih mengenakan seragam kantornya.
"Ha-Halo, Bu!" sapaku.
"Oh? Aku pikir tidak akan mendengarmu memanggilku dengan sebutan Ibu lagi?" sahutnya.
"Jadi bagaimana sekolahmu?" lanjutnya bertanya setelah masuk ke dalam rumahku.
"Itu cukup baik! Aku telah berusaha yang terbaik untuk tidak mendapatkan nilai merah sama sekali dalam ujian harian dan pertengahan semester!" jelasku.
Ibuku terdiam ketika dia menginjakkan kakinya ke lantai apartemenku. Penasaran, aku pun bertanya padanya.
"Ada apa, Ibu?" tanyaku.
"Ini sangat bersih? Apa kamu membersihkannya kemarin?" balasnya bertanya.
Aku hanya bisa mengangguk tanpa menjawabnya. Maaf karena mengakui hasil kerja kerasmu, Charlotte! Terimakasih karena sudah membersihkannya kemarin!
"Hmm? Apa kamu meminum dua gelas kopi dan sarapan sebanyak dua porsi?" tanyanya lagi saat melihat meja makan.
Geh! Ini gawat, aku lupa tentang itu! Jika begini terus, Ibu akan curiga dan mulai memeriksa tempat lainnya!
"A-Ah, itu? Sebenarnya.."
"Hmm? Kamu juga mencuci pakaian yah?" ujar ibuku saat melihat kamar mandi.
"Tetapi kenapa aku seperti mencium bau perempuan yang tidak aku kenal yah?" lanjutnya yang membuatku semakin panik.
Ibuku lalu pergi menuju kamar tidurku. Tapi dengan segera aku menghalanginya agar tidak membuka pintu kamarku.
"Menyingkir," ucapnya dengan tatapan serius.
"Bisakah Ibu berjanji untuk tidak marah terlebih dahulu?" pintaku.
"Jika ini tentang majalah dewasa yang kamu sembunyikan di bawah kasur, maka tenang saja!" sahut Ibu.
"Bukan begitu! Yah, itu sih tidak masalah. Maksudku, berjanjilah untuk tidak marah oke?!" mohonku.
"Hah~ Baiklah! Jadi apa yang kamu sembunyikan? Apa kamu menyewa wanita malam?" balas Ibu yang membuatku merasa sedikit kesal.
"Char, itu bukan gadis murahan! Eh?"
Gawat, aku keceplosan! Tatapan dingin dari ibu, sangat menyeramkan! Dia terlihat sangat marah, bahkan tanpa ragu mendorongku untuk menyingkir dari depan pintu.
Krek~
Pintu kamarku dibuka oleh Ibu, berakhir sudah. Aku harap Charlotte bisa memaafkan diriku dan masih ingin tetap berteman denganku.
"Rian? Bisakah kamu menjelaskannya?" ucap Ibuku.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengurungnya dalam kamar. Hanya saja, aku takut Ibu akan marah padanya," jelasku merasa bersalah.
"Marah? Kepada Gadis Malaikat yang sedang tertidur manis begitu?" tanya Ibuku.
"Eh? Apa yang Ibu mak--"
Swoosh~
Sebuah angin tak kasat mata berhembus kencang menerpa wajahku. Apa yang saat ini aku pikirkan adalah sebuah keindahan yang tidak ternilai harganya. Aku benar-benar ingin merekam semua ini dengan mataku, bahkan aku sama sekali tidak bisa mengalihkan mataku darinya.
"Oh? Selamat pagi, Rian?" ucapnya tersenyum setelah membuka matanya.