
"Enak!" ucap Charlotte setelah menggigit Crepe miliknya.
Aku senang dia menyukainya, sembari memakan Crepe Blueberry milikku, aku menikmati waktu bersama mereka. Namun semua itu sedikit berubah, ketika Charlotte menyodorkan Crepe miliknya kepadaku.
"Cobalah! Aku juga akan mencoba milikmu nanti," ungkapnya tersenyum.
"Eh? Tapi bukankah itu--"
"Sudah! Lakukan saja, Rian!" potong Mira.
Aku melihat Dani dan Mira yang tengah tersenyum menantikan momen ini. Sialan! Mungkinkah ini tujuan kalian? Apa yang kalian katakan pada hati polos Charlotte saat aku pergi tadi, huh?!
Melihat wajah malu-malu dari Charlotte, membuatku terpaksa melakukannya untuk menghargai perjuangannya. Kalau begitu, tanpa ragu aku akan memakannya! Persetan dengan ciuman tak langsung! Jika Charlotte bisa menahan malunya, maka aku juga bisa!!
Aku memakan bagian yang belum dimakan oleh Charlotte. Begitupula Charlotte yang memakan bagian belum aku makan. Tapi tetap saja, jika kami menghabiskan Crepe-nya, bukankah itu akan terjadi ciuman tak langsung?
"Bagaimana ciuman tidak langsung pertamamu?" tanya Dani mengejek.
"Berisik! Kau punya hutang padaku sebanyak dua puluh ribu!" balasku kesal.
"Tunggu, bukankah harganya lima ribuan?" sahutnya terkejut.
Aku diam mengabaikan Dani, sementara Mira tertawa menikmati tontonan barusan. Wajah Charlotte terlihat semakin merah padam karenanya. Seriusan? Jika kau malu, jangan ikuti perkataan gadis menyebalkan itu Charlotte!
"Abaikan pembicaraan tadi. Apakah yang kau katakan barusan itu benar, Rian?" tanya Dani dengan wajah serius.
"Ya, begitulah. Aku bisa menunjukkan videonya pada kalian. Tapi untuk berjaga-jaga, lebih baik gunakan Earphone untuk mendengarnya," ungkapku mengeluarkan ponsel yang telah terpasang Earphone.
Dani dan Mira yang menonton serta mengetahui alasan kenapa Charlotte dirundung benar-benar kesal sekaligus bingung. Sementara Charlotte, wajahnya terlihat pucat saat tahu aku merekam video tersebut. Aku ingin menenangkannya dengan memegang tangannya, tapi tidak jadi karena aku pikir itu hanya memanfaatkan kesempatan dan itu mungkin akan buruk nantinya.
"Apa-apaan ini? Kau bercanda?" ucap Dani tak percaya.
"Berpikir selama ini Char mendapatkan perundungan, aku tidak mau percaya dengan ini!" sahut Mira.
"Tapi itulah kenyataannya. Aku sudah meminta gadis itu untuk tidak melakukannya lagi. Jika dia masih melakukannya, maka aku tak akan ragu untuk menyebar video ini," ungkapku.
"Tidak! Aku mohon jangan lakukan itu!" pinta Charlotte yang membuat kami bertiga terkejut.
"Apa yang kau katakan? Mereka telah melakukan hal buruk padamu, kan? Mereka pantas mendapatkannya?!" ucapku yang disetujui oleh anggukan kepala dari Dani dan Mira.
"Aku.. tidak mau pindah dari sekolah ini," balas Charlotte.
Begitu yah? Sekarang aku paham kenapa dia menolak untuk video ini disebarkan. Jika dia ketahuan dirundung, orangtuanya tanpa ragu akan memindahkannya dari sekolah. Sialan! Ini membuatku jadi ragu untuk menyebarkannya!
"Char, aku mengerti akan ketakutanmu yang tidak ingin pindah karena takut berpisah dengan Rian. Tapi jika mereka dibiarkan, ini hanya akan memperburuk citra sekolah," jelas Mira.
"Oh, ya. Jika aku ingat lagi, kamu seorang Anggota OSIS kan?" ingat Dani.
"Itu benar! Secepat mungkin, aku akan melaporkan ini pada guru BP. Jadi bisa kirim Videonya padaku?" pinta Mira.
"Tentu saja. Tapi untuk saat ini jangan laporkan dulu," sahutku.
"Tapi kenapa? Bukankah lebih bagus itu lebih baik?" tanya Mira bingung.
"Aku menggunakan ini sebagai ancaman. Jika kalian mengambil tindakan begitu cepat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Char," jelasku.
"Uwaah! Kau mengejutkanku!" kaget Dani saat menoleh ke belakang.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Mira bingung.
"Baru saja, kok! Aku mendengar pembicaraan kalian, jadi aku putuskan untuk mengikutinya. Rian sendiri yang sadar keberadaanku, tidak mempermasalahkannya sih," ucapnya.
"Hey! Jika kau tidak bersuara barusan, aku tidak mungkin menyadari keberadaan dirimu! Lagipula, kenapa seorang yang populer sepertimu ingin membantu Char?!" tanyaku.
"Oh? Apa kau lupa perkataan yang aku katakan sebelumnya? Bukankah wajar untuk membantu seorang teman?" jawabnya tersenyum.
"Maaf saja, meskipun aku menganggap dirimu sebagai teman. Tapi aku tidak bisa percaya denganmu," jelasku dengan waspada.
"Begitu yah? Jadi kau ingin membuatnya terus menderita seperti ini?" ungkap Leon yang membuatku sadar akan suatu hal.
"Kau pria yang egois," lanjutnya pergi meninggalkan kami berempat.
Itu benar, apa yang dikatakan oleh Leon. Bukankah tindakanku ini hanyalah sebuah keegoisan pribadi? Seolah-olah aku tidak ingin perundungan terhadap Charlotte berhenti begitu saja dan ingin tetap disampingnya sebagai seorang yang hanya bisa diandalkan olehnya. Bukankah itu membuatku sama saja seperti gadis-gadis berandalan yang merundung Charlotte?
Pada akhirnya, setelah menghabiskan Crepe yang kami pesan. Aku dan Charlotte pun pulang lebih dulu, meski tidak digendong punggung lagi olehku. Charlotte memutuskan untuk memaksa berjalan sendiri, meskipun dia harus berjalan pincang karenanya.
Bagaimana dengan Dani dan Mira? Katanya sih, mereka masih ingin melanjutkan kencan pulang sekolahnya. Jadi ayo abaikan dan biarkan mereka asyik di dunia mereka sendiri.
***
"Pria yang egois kah? Itu ungkapan yang pas untuknya saat ini sih," ucap Daniel yang tengah duduk berduaan dengan Miranda disebuah kafe.
"Aku tidak bisa menyangkal perkataan Leon sih. Lagipula sudah cukup lama aku tidak melihatnya seegois itu. Karenanya ini jadi menarik, fufu," sahut Miranda yang meminum jus pesanannya dengan sedotan.
"Tetapi dari semua gadis, kenapa dia lebih memilih Gadis Malaikat itu? Selain itu, mereka berdua seolah-olah telah berkenalan sebelumnya kan?" ujar Daniel bingung.
"Hey, Dani. Bukankah gadis dalam video ini mirip sekali dengan Charlotte?" tanya Miranda menunjukkan sebuah video tentang gadis pirang yang ingin melompat dari jembatan.
"Pria yang menghentikannya itu, mungkinkah Rian?" tebak Daniel saat melihat seorang pria berambut hitam yang menghentikan tindakan gadis pirang tersebut.
"Dia bilang kalau payung cadangan dari sekolah rusak, bukan?" sahut Miranda.
"Mungkinkah?" ucap mereka bersamaan.
Mereka saling melirik satu sama lain, sebelum akhirnya tertawa bersama. Memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
***
"Haachi!"
"Kamu masuk angin?" tanya Charlotte saat mendengarku bersin.
"Ugh? Mungkin?" sahutku.
Lagipula memangnya apa yang kau harapkan dari pria remaja dalam masa pubertas, terkena air hujan dan tidak tidur semalaman setelahnya? Tentu saja jawabannya adalah jatuh sakit bukan?
Ya, aku beruntung karena besok adalah hari libur. Jadi aku tidak perlu memikirkan absensi kehadiran masuk sekolah. Itu membuatku sedikit tenang. Aku juga meminta Charlotte untuk tidak terlalu memikirkan diriku dan menyuruhnya untuk memikirkan cidera kakinya itu. Tapi apa yang aku dapat sedikit diluar perkiraan.
Bukannya mengikuti permintaan yang aku berikan, Charlotte malah marah-marah padaku dan mengatakan kalau dia akan merawatku saat kami tiba di rumah. Tunggu sebentar, sebenarnya disini siapa yang egois sih? Aku atau Charlotte? Memikirkannya sudah membuatku pusing.