
Sesampainya di rumah, Charlotte segera memintaku untuk mandi menggunakan air hangat. Sementara itu, dia akan membuat bubur dan menyiapkan obat untuk aku minum. Saat aku duduk di sofa, entah kenapa tubuhku begitu lemas. Jadi aku memutuskan untuk berbaring di sofa dan beristirahat disana daripada di kamarku.
"Duh, seharusnya kamu jangan tidur di sofa! Ya ampun," ujar Charlotte khawatir.
"Maaf, tapi aku benar-benar sangat lelah sekarang," sahutku yang perlahan mulai mengantuk.
"Apa boleh buat! Kalau begitu tidurlah. Aku akan membangunkan kamu jika buburnya telah siap!" ucap Charlotte berjalan ke kamarku untuk mengambil selimut.
Aku ingin membalas ucapannya, tapi seolah-olah rasa lelahku melarangnya. Pada akhirnya, aku tertidur lelap karena rasa lelahku dan kantuk yang tidak tertahankan.
***
Aku terbangun membuka mataku, entah bagaimana tubuhku telah mendapatkan selimut. Mungkinkah Charlotte yang melakukannya? Aku mencoba mencari keberadaan Charlotte disekitar, tapi tidak menemukan keberadaannya sama sekali.
"Mungkin, dia sudah pulang ke apartemennya?" gumamku atau itulah yang aku pikirkan.
"Oh? Apa kamu sudah bangun? Aku tadinya ingin membangunkan kamu setelah ini," ungkap Charlotte yang baru saja keluar dari kamar mandi apartemenku.
Yup, tidak salah lagi. Charlotte baru saja keluar dari kamar mandi apartemenku. Apa dia baru saja mandi disana? Tidak mungkin, kan?
"Buburnya sudah siap, lalu ini adalah obatnya! Kamu bisa meminumnya tanpa digerus kan?" tanya Charlotte.
Dia membawakan semangkuk bubur buatannya dan sebuah obat yang bisa meredakan sakit yang aku alami beserta segelas air putih. Dia tersenyum setelah meletakkan semua itu, membuatku merasa enggan setelah apa yang dia lakukan untukku.
"Ada apa? Kamu tidak bisa memakannya sendiri? Mau aku sua--"
"Aku akan memakannya!" potongku sebelum dia melanjutkan perkataan tadi.
Aku memakan buburnya setelah meniupnya karena terlihat masih sedikit panas.
"Bagaimana?" tanya Charlotte.
"Enak," jawabku singkat dan lanjut memakan bubur buatannya.
"Baguslah! Kalau begitu aku akan memeriksa apakah pakaiannya sudah kering atau belum?" balasnya.
Aku mengangguk sebagai jawaban. Sungguh, aku benar-benar beruntung memiliki tetangga seperti Charlotte.
"Tunggu, barusan kau bilang apa?" tanyaku yang baru menyadari perkataannya.
"Huh? Aku ingin memeriksa pakaian yang baru dicuci barusan," jawabnya dengan wajah polos.
Ugh.. bagaimana caraku memberitahunya? Tidakkah dia sadar kalau ini rumahku? Aku penasaran bagaimana caranya berpikir seperti itu? Mencuci pakaian seorang pria yang tidak memiliki hubungan khusus dengannya.
"Kau ini kelewat rajin atau apa sih?" gumamku pelan.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanyanya yang sepertinya mendengar gumaman barusan.
"Tidak ada! Lakukan sesukamu saja," balasku yang sudah tidak ingin ambil pusing lagi.
Pada akhirnya, setelah menghabiskan bubur dan melanjutkan tidurku. Namun kali ini aku memilih tidur dikamar daripada di sofa.
***
Aku terbangun dengan tubuh yang cukup segar. Saat aku menoleh ke jendela, bulan telah menampakkan dirinya di langit. Aku melihat jam di ponsel yang menunjukkan angka 20:00. Aku berjalan keluar kamar, menyadari kalau Charlotte tengah duduk tertidur di sofa.
"Hey, Char! Bangunlah," panggilku.
"Hmm?" sahutnya yang masih tertidur.
Charlotte tidak bangun, walau aku sudah menggoyangkan tubuhnya. Aku yakin dia pasti sangat kelelahan karena membersihkan ruangan dan mencuci pakaianku. Darimana aku tahu? Ya, tentu saja dari betapa bersihnya ruang tamu disini.
"Aku baru sadar, kapan dia ganti pakaian? Mungkinkah dia sudah sempat pulang ke apartemennya dan kembali lagi hanya untuk merawatku?" tebakku.
Selain itu, baunya sangat harum. Tidak salah lagi, dia pasti pulang dulu untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Kemudian dia kembali lagi kesini untuk menjagaku?
"Ya ampun. Kau terlalu baik, Charlotte," ungkapku menghela nafas.
Tetapi membiarkannya tetap tertidur seperti ini, sepertinya itu bukan hal yang bagus. Namun membawanya kembali ke apartemennya juga bisa menciptakan rumor buruk nantinya. Berarti satu-satunya pilihan adalah membawanya ke kamarku dan membiarkannya tidur disana.
Karena tidur yang nyenyak sebelumnya, aku tidak terlalu mengantuk sekarang. Selain itu berkat penanganannya yang baik, aku sudah tidak lemas lagi. Jadi aku akan tidur jika memang sudah mengantuk dan tentunya obat harus tetap aku minum sih.
Aku menggendong Charlotte dan membawanya ke kasur. Kemudian menyelimuti tubuhnya, sebelum mengambil selimut lain dari lemari dan pergi ke ruang tamu untuk bermain game. Lagipula besok libur, jadi tidak masalah kan?
Selama dua jam aku bermain game, tetapi saat aku ingin mematikannya karena mulai merasa bosan. Charlotte keluar dari kamar dan melihatku yang masih memegang joystick game dengan tatapan penuh kesal dan marah.
"Ugh.. bukankah tidak masalah? Lagipula aku sudah merasa lebih baik dan juga besok libur kan?" ungkapku.
"Hah~ Hanya karena kamu sudah merasa baikan, bukan berarti kamu sudah sembuh! Apa kamu sudah minum obat lagi?" tanya Charlotte menghela nafas.
"Jangan khawatir! Aku sudah meminumnya kok! Selain itu, ini sudah malam. Tidak baik untuk kesehatan seorang gadis seperti dirimu," jelasku.
"Mengatakan itu tidak akan membuatku senang! Berhenti bermain dan tidurlah!" perintahnya.
"Aku tahu kok! Lagipula, aku memang ingin mematikannya," jawabku.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Sampai jumpa besok!" ucapnya berjalan menuju pintu depan.
Seriusan? Kau ingin kembali ke apartemenmu setelah larut malam? Apa sebaiknya aku hentikan? Meskipun dia tinggal di sebelahku. Tapi entah kenapa aku merasa sedikit khawatir.
"Hey! Ini sudah sangat larut malam lho? Sebaiknya kau tidur saja disini lagi untuk malam ini," pintaku.
Sial! Aku mengatakannya! Gawat, apa dia akan marah padaku setelah ini? Charlotte yang sudah hampir menggenggam gagang pintu, segera berhenti. Dia lalu menurunkan tangannya dan menundukkan kepalanya.
"Hey, Rian. Menurutmu, aku ini gadis seperti apa?" tanyanya tanpa membalikkan tubuhnya.
Sial! Apa dia benar-benar marah? Dia benar-benar marah kan?
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memaksamu. Hanya saja.. aku pikir akan buruk membiarkan dirimu sendirian," ungkapku.
"Kamu curang," lirihnya.
"Hey, bisa jawab pertanyaan ku tadi? Aku mohon," pintanya.
Aku terdiam. Entah kenapa hawanya menjadi sedikit berat dan canggung.
"Kau ingin jawaban bohong atau jujur?" tanyaku.
"Jujurlah," jawabnya singkat.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Kau adalah gadis cantik, baik dan juga ramah. Bahkan kau terlalu ramah sampai-sampai membersihkan semua ruangan di apartemenku. Namun dibalik semua itu, kau mencoba mempertahankan image seorang Malaikat yang mana membuatmu berakhir dalam kondisi sangat menyedihkan.
Jujur pada awalnya, aku sama sekali tidak tertarik dan tidak peduli padamu. Tapi setelah menghentikan aksi bodoh yang kau lakukan dan menghabiskan waktu seharian bersamamu, aku mulai sadar kalau kau sebenarnya kesepian."
Tubuh Charlotte tersentak setelah aku mengatakan kalau dia kesepian. Menandakan kalau perkataan yang baru saja aku lontarkan itu tepat sasaran. Charlotte berbalik dan menunjukkan wajahnya yang saat ini tengah menangis.
"Meskipun begitu, apakah kamu akan selalu bersamaku?" tanyanya.
Sungguh, apa yang sudah aku lakukan? Membiarkannya tetap sendirian, meskipun aku selalu bersamanya seharian penuh ini. Tapi yang aku lakukan hanyalah suatu hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Aku berjalan mendekatinya dan tanpa aku sadari memeluknya dengan lembut.
"Maaf, aku sama sekali tidak peka dengan perasaanmu. Jangan khawatir, meskipun semua orang menjauhi dirimu. Aku akan selalu bersama denganmu!" ucapku.
Charlotte lalu memelukku cukup erat sembari menangis melepaskan semua beban yang selama ini dia tampung sendirian. Sungguh bodohnya diriku, membuat seorang gadis kesepian seperti Charlotte berjuang sendirian. Jangan khawatir, ini bukan salahmu!
Benar! Ini sama sekali bukan salahmu, Charlotte Widyaningrum.
...Hati Malaikat yang Rapuh End...
...***...
...Bonus Ilustrasi via AI!...
...—Adrian Rizky Aditya—...
...—Daniel Ramdani—...
...—Miranda Aprilia—...
...—Leon Rangga Putra—...