
Pagi hari tiba, setelah makan malam selesai Charlotte tidur di kamarku. Sementara aku tidur di sofa, ya bisa dibilang aku berniat mengawasinya sih. Lagipula aku sudah terbiasa begadang, jadi tidak tidur selama semalam bukan masalah bagiku.
"Hngh! Hoaam~"
Charlotte bangun dari tidurnya, dia menguap cukup lama sebelum mengucek matanya. Aku yang melihatnya hanya bisa terkagum dengan keanggunan dan kecantikannya walaupun rambutnya terlihat sedikit berantakan.
"Selamat pagi," ucapnya yang masih setengah sadar.
"Selamat pagi," sahutku.
Mendengar sahutan dariku, Charlotte perlahan-lahan mulai ingat dan sadar kalau dia tidur di kamarku. Wajahnya mulai memerah, dia kemudian mengambil bantal dan melemparnya tepat ke wajahku.
"Jangan lihat, bodoh!" balasnya yang menutupi dadanya.
"Kenapa yang kau tutupi malah bagian itu? Padahal wajahmu terlihat jauh lebih merah dari yang tadi lho," ledekku.
"KELUAR!!!" usirnya melempar diriku keluar dari kamarku sendiri.
"Kenapa malah aku yang diusir?" gumamku.
***
"Hey, tak bisakah kau maafkan aku?" tanyaku tapi tidak diacuhkan oleh Charlotte yang tengah menyiapkan sarapan dan makan siangnya.
Ah, dia benar-benar marah padaku. Aku hanya menghela nafas dan duduk untuk menikmati sarapan berupa roti yang aku beli di minimarket. Namun saat aku ingin membuka bungkusnya, Charlotte mengambil roti itu dariku.
"Hey! Aku tahu kau marah, tapi jangan rebut sarapanku!!" kesalku.
"Ini sarapan? Sebungkus roti dari minimarket? Bahkan ini sudah hampir kadaluarsa lho!" jawabnya.
"Lalu kenapa? Selama itu masih bisa dimakan, itu baik-baik saja kan?" balasku.
"Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu benar-benar buruk dalam hal pemilihan makanan," ucap Charlotte.
"Ini, makanlah! Mulai hari ini, Sarapan, Makan Siang dan Makan Malam milikmu aku yang akan menyiapkannya!" lanjutnya.
"Kenapa kau repot-repot melakukannya?" tanyaku bingung.
"Kamu tidak mau memakannya?" balasnya.
Mendengar hal itu membuatku menghela nafas tidak percaya. Aku tahu dia ramah, tapi sampai menyiapkan makanan untuk orang lain?
"Kau terlewat ramah," ucapku.
"Char," ucapnya lirih.
"Huh?"
"Aku ingin kamu memanggilku Char! Dengan begitu, aku akan memanggilmu Rian!" jelasnya
"Eh? Tapi kita kan bukan.."
"Apa tidak boleh?" tanyanya dengan wajah memelas.
Ugh, menggunakan wajah itu curang. Aku tidak percaya hanya ingin dipanggil nama membuatmu sampai menggunakan wajah seperti itu. Sialan! Ini benar-benar tidak baik untuk jantungku!!
"C-Char? Kau puas?" ujarku.
"Hehe," tawanya ringan.
"Terimakasih," gumamku pelan.
***
"Selamat pagi," sapaku yang berjalan langsung menuju bangku dimana aku duduk.
Beberapa orang menyahuti sapaanku, tapi setelahnya mereka melanjutkan aktivitas yang dilakukan sebelumnya. Berbeda denganku, Charlotte berangkat lebih awal dariku 30 Menit. Jadi bisa dibilang kalau Charlotte itu benar-benar murid yang teladan.
"Serius? Apa kau ada buktinya?"
"Ya! Aku mendapatkannya dari seseorang, lihatlah!"
Aku yang mendengarnya segera sadar, kalau ternyata ada orang lain disana saat aku menghentikan perbuatan bodoh Charlotte. Sungguh, jika kalian melihatnya seharusnya kalian menghentikannya daripada merekamnya!
"Ada apa dengan wajah mengerikan itu, Rian?" sapa seorang pria yang bersama dengan gadis berambut pink disebelahnya.
"Oh, Dani dan Mira?" sahutku menoleh.
"Lihat, apa yang aku katakan kemarin terbukti bukan?" lanjutku dengan nada meledek.
Dani hanya bisa tertawa mendengarnya, sementara Mira memiringkan kepalanya karena bingung.
"Jadi ada apa dengan wajah tadi? Kau terlihat kesal lho?" sahut Dani bertanya.
"Tidak ada apa-apa! Hanya saja, aku sedikit kepikiran dengan caraku membayar payung rusak milik sekolah," jelasku.
"Oh? Jadi itu kamu yang dimarahi saat di lorong?" celetuk Mira.
"Ugh.. sepertinya aku harus kerja paruh waktu lagi hari ini?" gumamku.
Ding~ Dong~
Suara bel berbunyi, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Aku segera mengeluarkan buku tugas dan buku catatan serta alat-alat belajar lainnya. Lalu tidak lama setelahnya, seorang guru masuk dan memulai pelajaran.
***
"Bosan," gumamku sembari memainkan bolpoin dengan tanganku.
Jam Ketiga harusnya adalah pelajaran Bahasa Inggris yang telah aku nantikan. Tetapi karena gurunya tidak bisa hadir, akhirnya kelasku hanya diberikan tugas oleh guru piket dan bisa dikatakan kalau sekarang adalah jam kosong.
"Oh? Sekarang adalah giliran Kelas 1-C Olahraga yah?" gumamku saat melirik kearah jendela.
Karena aku duduk di paling pinggir dekat jendela, aku bisa melihat Charlotte dengan jelas dari sini. Yah, bagaimanapun juga kelasku ada di Lantai 3. Aku mencari keberadaan Charlotte dan saat menemukannya, dia tersenyum manis.
"Uwooh! Malaikat tersenyum padaku!"
"Apa yang kau katakan! Sudah jelas dia tersenyum padaku bukan?!"
"Hey, tenanglah! Lagipula kalian itu tidak cocok dengan Malaikat!"
"Berisik!"
"Rian, ada apa? Kamu sakit?" tanya Mira yang menyadari wajahku memerah karena malu.
"Huh? Tidak apa, aku baik-baik saja!" jawabku.
"Benarkah? Wajahmu memerah lho! Apa kamu sudah minum obat?" tanya Mira lagi khawatir.
"Aku baik-baik saja kok! Selain itu, akan lebih baik jika kau mengurusnya sekarang!" ungkapku menunjuk Dani yang terlihat sedikit merajuk.
"Sayang~ Aku juga sakit~ Peluk dong~" ucap Dani dengan manja.
"Wah! Itu gawat! Aku akan segera mengobati kamu!" balas Mira yang segera memeluk Dani.
Pandangan semua orang segera beralih kearah Duo Bucin tersebut. Mereka merasa iri dan kesal secara bersamaan. Ingin mengumpat pada mereka, tapi kelihatannya masih bisa ditahan. Yah, mereka berdua sudah bucin semenjak kenal selama 1 tahun. Jadi aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya menjadi penonton mereka selama kurang lebih 3 tahun.
Mereka bahkan telah membuatku muak dengan kebucinan tingkat tinggi yang mereka lakukan selama itu. Namun meskipun demikian, mereka bisa dibilang adalah teman yang baik dan peduli terhadapku. Jadi aku tidak mempermasalahkannya dan tidak memikirkannya sama sekali.
Aku lalu berdiri dari bangku dan berjalan keluar kelas. Tujuanku? Yah, karena sebentar lagi waktu makan siang tiba. Jadi aku putuskan untuk duduk di taman setelah pergi ke toilet. Tentu saja, aku juga berniat mengawasi Charlotte dari dekat. Aku tidak akan membiarkannya jadi korban perundungan!
"Aku pikir sebentar lagi mereka akan melakukannya?" gumamku pelan.
Aku duduk dibangku taman sembari meminum minuman yang baru aku beli sebelum datang kesini. Kemudian tidak lama setelah guru olahraga menyatakan pelajarannya berakhir, kelompok gadis berandalan itu menatap Charlotte dengan tajam. Seolah-olah mereka memanggil Charlotte untuk mengikuti mereka.
Aku sempat berharap kalau Charlotte menolak dan mengabaikannya. Tapi sayangnya itu tidak sesuai harapanku. Jadi aku pun segera bangkit dan berjalan mengikuti mereka secara diam-diam serta menjaga jarak. Jangan khawatir, Charlotte! Aku pasti akan membantumu kali ini! Tidak akan aku biarkan mereka merundung dirimu lagi!