The Angel Wants To Be Spoiled With Me

The Angel Wants To Be Spoiled With Me
Hati Malaikat yang Rapuh - Ancaman?



Sesampainya dikelas, aku mengambil bekal makananku. Beberapa orang dikelas sempat menanyakan kebenaran tentang aku yang menggendong Malaikat mereka ke UKS. Aku pun membenarkannya dan meninggalkan mereka yang mengumpat karena tidak bisa menggendong Charlotte padaku.


Siapa peduli dengan itu?! Memangnya kalian tahu apa tentang Charlotte hah? Jadi kalian tidak berhak mengumpat diriku seperti itu!


"Kalau begitu berikutnya, mungkin aku harus mengambil bekal Charlotte dikelasnya sekarang?" gumamku.


***


"Huh? Bekal Charlotte tidak ada di dalam tasnya?" tanyaku saat sampai dikelas.


"Itu benar. Aku telah mencarinya juga di kolong mejanya, tapi tidak menemukan apapun disana," jawab teman sekelasnya.


"Begitu yah? Terimakasih! Kalau begitu aku pergi sekarang," balasku.


"A-Ano, apa aku bisa membisikkan sesuatu?" panggilnya.


Aku mengangguk dan mendengarkan apa yang dia bisikkan padaku. Setelah mendengarnya, aku segera berterimakasih padanya dan bergegas pergi menuju tempat yang dijelaskan oleh gadis tersebut.


"Ada?!" ucapku saat menemukan bekal makanan Charlotte berada ditempat sampah.


Cekrek


Suara potretan kamera ponsel terdengar begitu nyaring saat aku mengambil tempat makanan milik Charlotte di tempat sampah. Aku segera melirik kearah sumber suara dan menemukan keberadaan gadis berandalan sebelumnya tengah tertawa.


"Hahaha! Benar-benar miris sekali yah~ Siapa yang menyangka seorang pahlawan memungut makanan dari tempat sampah, hahaha!" tawanya berjalan mendekatiku.


"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.


"Sangat simpel, jauhi gadis itu dan aku tidak akan menyebarkan foto tadi," jelasnya.


"Sungguh? Kalau begitu akan aku lakukan!" balasku yang membuatnya tersenyum.


"Tapi hanya dalam mimpimu!" lanjutku.


"Hah?! Apa yang kau katakan?!" bingungnya.


"Kau tidak dengar? Kalau begitu biar aku beritahu padamu! Aku sama sekali tidak peduli dengan yang kau lakukan padaku," jelasku.


"Apa kau tidak takut dengan harga dirimu yang hancur? Jika aku meletakkannya di papan buletin, kau pasti akan malu!" ucapnya mengancam.


"Wah~ Aku takut~ Apa kau pikir aku akan mengatakan itu?" sahutku berpura-pura takut.


"Bodoh sekali! Aku tidak pernah berpikir kalau apa yang kau bayangkan itu terjadi padaku. Kenapa? Karena harga diriku jauh lebih mahal dari yang kau bayangkan!" lanjutku mengambil ponsel dan menunjukkan video perundungan yang dia lakukan pada Charlotte.


Wajahnya berubah menjadi buruk, dia bahkan tidak menduga kalau aku merekamnya saat itu. Sungguh? Jika kau berniat mengancam, maka gunakan sesuatu yang bagus untuk memberikan ancaman!


"Hapus video itu sekarang juga!!" umpatnya kesal dan mencoba meraih ponselku.


"Maaf saja, tapi ini akan aku jadikan bukti untuk membuatmu keluar dari sekolah ini," jelasku menghindari tangannya yang ingin meraih ponselku.


"Aku mohon hentikan! Sebagai gantinya, jika kamu menghapus video itu. Aku mungkin akan memberikanmu hadiah yang luar biasa lho?!" godanya membuka kerah bajunya dan memperlihatkan belahannya.


"Sungguh? Kalau begitu, jangan merundung Charlotte lagi! Jika kau masih melakukannya, aku akan menyerahkan ini ke anggota OSIS!" pintaku mengabaikan godaannya.


"Tunggu! Kamu tidak tertarik denganku?" tanyanya bingung.


"Tertarik? Maaf, kau mungkin salah paham denganku. Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu itu, bo~doh!" ungkapku meninggalkannya dalam kekesalan dan kebingungannya.


***


"Anu.. Rian?" panggil Charlotte.


"Ada apa? Kau lapar bukan? Makanlah!" sahutku yang memakan bekal.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja, bukankah kamu salah memberikan tempat bekal?" ucapnya yang menyadari aku menukar bekal makanan kita.


"Apa masalahnya? Bukankah keduanya sama-sama kau yang buat?" ujarku.


"Aku tahu itu! Tetapi bukannya itu sudah tidak enak?" tanya Charlotte.


"Huh? Hanya sedikit berantakan, bukan berarti tidak bisa dimakan bukan? Jadi berhenti bicara dan makan itu!" jawabku.


Charlotte hanya diam dan mulai memakan bekalnya. Jujur saja, meski hanya sebentar diletakkan pada tempat sampah. Tapi bau tidak sedapnya benar-benar membuatku mual. Jika saja aku tidak bisa menggunakan poker face, mungkin aku akan memperlihatkan ekspresi menjijikan? Ugh, mungkin aku akan bolak-balik ke WC sebentar lagi?


***


"Aku membeli minuman isotonik untukmu, mau?" tawarku menyodorkan sekaleng minuman isotonik.


"Te-Terimakasih," balasnya menerima pemberianku.


Karena ini istirahat makan siang, guru yang mengawasi UKS pergi untuk makan dan akan kembali setelah bel berbunyi. Yah, setelah ini aku hanya ada pelajaran Olahraga. Terlambat sedikit, aku rasa tidak masalah?


"Hey, Rian. Kenapa?" tanyanya yang membingungkan ku.


"Kenapa apanya?" balasku bingung.


"Tidak jadi," ucapnya ragu.


Aku hanya diam, bingung dengan apa yang ingin dia katakan tadi. Pada akhirnya, kami hanya mengobrol santai hingga bel berbunyi. Setelah guru perawat UKS tiba, aku pamit undur diri dan pergi ke kelas sembari membuka seragamku. Ya, aku tidak perlu malu karena menggunakan pakaian olahraga di dalamnya.


Jadi tidak masalah, kan? Tentunya aku mampir ke WC untuk membuka celana. Kemudian saat aku sampai di lapangan, teman-teman sekelasku telah berada disana. Tapi untungnya pelajaran belum dimulai, jadi aku bisa bernafas lega karenanya.


"Oh? Kau datang juga? Aku pikir kau akan berada di UKS bersama Malaikat itu?" sapa Dani.


"Kau harus memberitahuku setelah ini oke?" lanjutnya.


"Aku mengerti! Jadi bisa lepaskan? Kau mulai memberatkan pundakku!" ujarku.


***


"Eh?! Kau dan Malaikat itu tetangga?" ucap Dani terkejut.


"Begitulah," balasku yang menggendong Charlotte di punggungku.


"Hey, Rian. Bisa turunkan aku? Ini mulai sedikit memalukan," sahut Charlotte.


"Jangan! Kakimu terkilir bukan? Jadi biarkan Rian melakukan tugasnya sebagai pria!" ungkap Mira yang membuatku kesal.


"Maksudmu aku selama ini tidak bertindak seperti pria?" kesalku.


Dani tertawa puas karenanya, begitu juga dengan Mira. Sementara itu, aku bisa melihat wajah Charlotte memerah karena malu. Tentunya aku juga sedikit malu dan juga kesal karena perkataan Mira barusan. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membalasnya?


"Ada apa, Mira?" tanya Dani saat menyadari Mira berhenti melangkah.


"Hey, mau mampir ke Kedai Jalanan Crepe itu?" ajaknya.


"Crepe? Sejak kapan kau doyan yang manis-manis?" tanyaku bingung.


Namun bukannya mendapatkan ejekan, Mira malah menginjak kakiku. Ini membuatku semakin kesal karenanya!


"Untuk apa tadi itu?!" tanyaku kesal.


"Inilah kenapa kamu tidak pernah mendapatkan pacar, bodoh!" ungkapnya yang balik kesal ke arahku.


Aku melirik kearah Charlotte, wajahnya terlihat mengatakan kalau dia ingin memakan Crepe. Aku menghela nafas dan membawanya ke kedai jalanan tersebut bersama dengan Dani dan Mira.


"Aku akan menurunkan kau sekarang, jadi duduklah disini," ucapku menurunkan Charlotte.


"Hey! Hey! Char! Rasa apa yang kamu inginkan?" tanya Mira.


"Huh? Uhm.. Pisang Cokelat, mungkin?" sahut Charlotte.


"Kamu dengar itu?" ucap Mira.


"Iya, iya!" sahutku berjalan menuju mobil Van yang menjadi kedai tersebut.


"Kalau aku ingin Strawberry yah!" ucap Mira.


"Oh? Aku Raspberry!" sahut Dani.


"Woy! Uangku tidak cukup untuk membayarnya, sialan!" balasku kesal.


"Jangan khawatir! Aku akan menggantinya besok!" ungkap Dani.


"Kau bilang besok, tapi bayarnya bulan depan!" umpatku.


Pada akhirnya, aku membelikan mereka juga. Tentunya aku juga membelinya, Crepe Blueberry dan kalian tahu berapa yang aku keluarkan untuk membelinya? Rp 20.000, 00- lho! Dengan uang sebanyak itu, aku bisa hidup selama 2 hari jika berhemat!


"Ya sudahlah, aku pikir sekali-kali tidak apa?" ucapku yang membawa 4 Crepe ke tempat dimana kami duduk.