The Angel Wants To Be Spoiled With Me

The Angel Wants To Be Spoiled With Me
Malaikat Itu Tersenyum - Belanja Bersama



Aku sampai di rumah sebelum sore hari dan pergi mandi untuk membersihkan diri. Selepas mandi, aku mengenakan pakaian kasual yang sering aku gunakan sehari-hari. Lagipula kami hanya pergi belanja, jadi aku pikir mengenakan pakaian biasa sudah cukup. Oh, jangan lupa menyisir rambut dan juga tas selempang milikku.


"Hmm? Apa aku mencoba ubah gaya rambutku saja? Lagipula rambutku sudah lumayan panjang dan tebal," ujarku saat menyadari seberapa panjangnya rambutku sekarang ini.


Tetapi aku tidak bisa memotongnya secara asal juga, sih? Apa aku sebaiknya pergi ke pangkas rambut saja besok? Tidak, kebanyakan mereka buka diatas jam 9 dan jaraknya juga cukup jauh dari halte.


"Apa boleh buat, aku biarkan saja dulu untuk sementara," ucapku yang akhirnya hanya merapikan rambut dengan sisir tanpa memotongnya sedikitpun.


Setelah merasa tidak ada hal lain lagi yang harus aku siapkan. Aku pun memutuskan untuk menunggu diluar sembari bersandar pada dinding dan memainkan ponsel selagi menunggu Charlotte keluar.


30 Menit kemudian, Charlotte keluar dari apartemen miliknya. Dia terlihat menggendong sebuah tas belanja dan secarik kertas yang mungkin adalah catatan barang yang harus dibeli.


"Maaf telah membuat kamu menunggu!" ucap Charlotte.


"Tidak masalah! Tapi kenapa Ponytail?" tanyaku saat melihat penampilan Charlotte yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Huh? Apa ini tidak cocok denganku?" balasnya bertanya.


Yah, itu bukan maksud dari pertanyaanku. Tapi terserahlah! Lebih baik aku memuji penampilannya daripada terdiam seperti ini, bukan?


"Itu sangat cocok denganmu, kok!" pujiku terhadap penampilan barunya Charlotte.


"Jadi, ingin berangkat sekarang?" ajakku.


Charlotte mengangguk sebagai jawaban. Jadi kami berdua segera berangkat dari apartemen menuju supermarket terdekat. Jaraknya hanya 30 Menit berjalan kaki, sih. Aku rasa itu tidaklah terlalu jauh untuk menggunakan kendaraan seperti bus atau semacamnya.


"Lalu, tadi siang kemana kamu pergi?" tanya Charlotte yang membuatku sedikit terkejut.


"Huh? Aku hanya mencari angin saja," jawabku.


"Begitu yah? Tadi soalnya aku sempat ingin kembali ke tempatmu untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Tetapi kamu tidak ada disana," jelas Charlotte.


Ah? Jadi dia ingin mengambil Kartu Pelajar miliknya yah? Aku ingin menjelaskannya, tapi aku pikir akan lebih baik jika dia menemukannya sendiri.


Setelah berjalan 30 Menit sambil mengobrol, tanpa sadar kami telah sampai di sebuah supermarket tujuan. Charlotte segera mengeluarkan secarik kertas dari tas belanja miliknya dan mulai mencari bahan-bahan yang diperlukan.


"Minyak, lalu cabai, kemudian bawang dan.."


Dia terlihat fokus dengan apa yang harus dibeli. Untungnya aku telah mengambil troli untuk hal seperti ini.


"Jadi, apa yang ingin kamu makan malam ini?" tanya Charlotte menoleh kearahku.



"Huh? Aku pikir semua masakan buatanmu itu lezat. Jadi aku tidak akan terlalu memilih-milih makanan. Selama itu bisa dimakan bersamamu, itu sudah cukup," jelasku.


Wajah Charlotte terlihat memerah. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkinkah karena dia tertular demam karenaku? Mengingat kami tidur bersama semalam dan aku belum benar-benar dikatakan sembuh. Aku pikir itu masuk akal?


"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu memerah, lho?" tanyaku khawatir.


"Ah, tidak! Aku baik-baik saja kok!" jawabnya.


Aku lalu memegang kening Charlotte untuk mengukur suhu tubuhnya. Dia sedikit panas, aku pikir dia demam?


"Anu.. ini memalukan, bisa tolong hentikan?" pintanya.


"Oh? Sepertinya aku sedikit berlebihan. Maaf, kau pasti tidak menyukainya yah?" balasku meminta maaf.


"Tidak.. bukan begitu. Hanya saja, kita menjadi pusat perhatian saat ini," ungkap Charlotte yang membuatku sadar dengan pandangan orang-orang disekitar.


Akhirnya setelah selesai mengambil apa yang dibutuhkan, kami pun pergi ke kasir untuk membayarnya.


"Totalnya jadi Rp, 1.450.000, 00- pak!"


"Gueh, mahal!" umpatku dalam hati.


***


"Apa yang kau katakan? Ini sudah sewajarnya bagi seorang laki-laki untuk membawa belanjaan bukan?" balasku.


"Fufu, kamu terlihat sangat bisa diandalkan! Atau mungkin kamu hanya ingin pamer padaku?" ledek Charlotte.


"Yah, dua-duanya sih?" balasku.


Setelah sampai di apartemen, kami berdua segera masuk ke dalam. Kami sempat terhenti karena salah seorang tetangga menyapa kami dan untungnya kami berhasil menghindari rumor buruk. Namun entah bagaimana saat kami disapa oleh tetangga tersebut, dia mengatakan kalau kami layaknya seperti pasutri baru.


"Aku tidak tahu darimana rumor itu berasal," ucapku saat duduk di sofa.


"Yah, aku pikir itu wajar mengingat kita dia hari ini tinggal bersama?" sahut Charlotte memasukkan bahan makanan ke kulkas.


"Maaf, yah Charlotte. Karena keegoisanku kemarin, membuatmu mendapatkan rumor seperti itu," balasku merasa bersalah.


"Tidak perlu dipikirkan! Lagipula.."


"Hmm? Apa yang kau katakan? Suaramu terlalu pelan, jadi aku tidak mendengarnya dengan jelas?" tanyaku bingung.


"Tidak, bukan apa-apa kok!" jawab Charlotte.


"Aku akan segera membuat makan malam, jadi tunggu sebentar yah!" lanjutnya yang kini telah mengenakan celemek biru miliknya dan mulai memasak.


Aku lalu mengorek saku celanaku dan melihat dua buah tiket yang diberikan Dani padaku. Aku ingin memberikan tiket ini pada Charlotte, tapi karena takut tidak diterima olehnya. Aku pun memutuskan untuk diam hingga makan malam disiapkan.


***


"Terimakasih atas makanannya! Seperti biasa, masakanmu benar-benar enak, Char!" ucapku memuji.


"Terimakasih, aku senang kamu menikmatinya!" balasnya tersenyum.


Charlotte lalu mengambil piring kotor dan membawanya ke cucian piring. Entah kenapa, aku malah teringat dengan perkataan Dani dan Mira saat siang tadi. Jadi aku pun memutuskan memberanikan diri untuk mengajak Charlotte.


"Hey, Char. Apa besok kau ada waktu?" tanyaku.


"Hmm? Besok aku tidak ada kegiatan apapun sih? Memangnya kenapa?" balas Charlotte bertanya.


Aku mengeluarkan dua buah tiket dari saku celanaku dan menunjukkannya pada Charlotte.


"Jika kau tidak keberatan.. mau pergi bersama?" ajakku.


"Ini, mungkinkah kamu mengajakku kencan?" tebak Charlotte.


"Yah, bisa dibilang begitu. Tapi kita akan pergi berempat, sih? Bersama dengan Dani dan Mira. Kalau tidak salah mereka menyebutnya Double Date atau semacamnya? Entahlah?" jelasku.


"Ah, tapi jika kau tidak mau. Aku bisa mengembalikannya pada mere--"


Belum sempat menyelesaikan kalimatku, Charlotte menarik salah satu tiket dari tanganku.


"Boleh, kok! Jadi kapan kita berangkat?" tanya Charlotte tersenyum.



Aku terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjelaskan kepada Charlotte kalau kita akan bertemu di halte bus jam 10 pagi. Jadi setelah selesai mencuci piring, Charlotte segera pamit untuk pulang ke apartemennya.


Aku juga melihatnya membawa Kartu Pelajar miliknya kembali. Jadi aku bisa tenang dan tidur tanpa rasa takut untuk menyerang Charlotte yang tertidur seperti kemarin.


Karena itulah, telah ditetapkan kalau besok kami akan pergi bersama ke Taman Hiburan besok pagi. Tapi...


"Kyaaa!"


Teriakan histeris Charlotte membuatku tidak bisa tidur dengan tenang. Apa dia tidak sadar kalau tembok apartemen ini tidaklah tebal?