The Alpha Is Watching Me

The Alpha Is Watching Me
Akhir Bahagia



Beberapa minggu kemudian.


Aluna mengintip di jendela kamarnya. Ia melihat banyak orang berlalu lalang mempersiapkan dekorasi pernikahannya yang dua hari lagi akan dilaksanakan.


Aluna mengumbar senyum hangat sembari mengusap perutnya.


" Ibu merindukan ayahmu." ucapnya.


Ceklek.. pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan Dean masuk begitu saja.


" Sedang apa kau disini."


" Luna, aku bisa mati karena menahan rindu. Kenapa calon pengantin tidak boleh bertemu dulu sampai hari pernikahannya."


" Ya Tuhan. Jadi kau menyelinap kesini hanya karena itu?."


" Pokoknya aku tidak bisa tidak melihat kalian."


Dean mendekat dan langsung memeluk Aluna dan tak lupa juga mengelus perutnya.


" Aku juga merindukanmu."


Pasangan itu begitu dimabuk asmara terlebih saat mengetahui Aluna sedang mengandung buah cinta mereka Dean semakin tidak bisa menjauh darinya.


Kekuatan Aluna yang diperlihatkannya tempo hari ternyata berasal dari janin yang dikandungnya karena mewarisi gen werewolf terkuat. Bersatu didalam tubuhnya menjadikan Aluna tak terkalahkan hingga bisa melindungi para werewolf itu.


Semua orang bersorak gembira saat kedua mempelai mengucap janji suci mereka. Dihadiri oleh orang-orang terdekat pernikahan Aluna terasa begitu berkesan.


Matthew dan Miranda menghampiri Aluna dan Dean untuk mengucapkan selamat secara langsung. Mereka berbincang dan berbasa-basi sedikit.


" Kurasa sekarang yang harusnya menjadi pemimpin kelompok kita adalah Aluna. Dia yang terkuat diantara kita."


Hahahah... ucapan Matt disambut tawa para werewolf yang mendengarnya. Mendengar itu Dean hanya tersenyum malu.


" Bagaimana Aluna apa kau bersedia menggantikan Alpha?."


Matt masih melanjutkan candaannya.


Aluna melirik Dean dan ia berpura-pura berpikir keras.


" Jika kalian menginginkannya aku tidak bisa menolak."


Dean semakin tertunduk dan menggeleng namun hal itu semakin membuat para werewolf senang karena berhasil menggoda sang Alpha.


Beberapa hari setelah pernikahan.


Aluna keluar dari dalam kamarnya yang ia tempati bersama Dean. Ia berniat mencari Lily ibunya karena hari itu entah mengapa ia sangat ingin bersamanya.


Aluna mencari hingga ke green house dan ternyata benar Lily sedang berada disana.


" Ibu, kau disini. Aku mencarimu kemana-mana."


" Iya sayang ada apa?."


" Tidak, aku hanya ingin berbincang denganmu."


" Aluna, ibu sudah memikirkannya. Ibu akan kembali kerumah kita."


" Tapi kenapa? aku pikir Dean pun tak ada masalah kau tinggal bersama kami."


" Aluna benar. Aku tidak ada masalah kau tinggal bersama kami."


Dean yang entah muncul darimana menyela percakapan Aluna dan Lily.


" Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian."


" Justru aku senang kau disini. Rumahku terasa lebih hidup dan aku tidak kesepian lagi seperti dulu. Kumohon Emily tinggallah disini bersama kami."


Karena permohonan Dean, Emily pun akhirnya menyetujui dan itu membuat Aluna sangat senang karena akhirnya sesuai janjinya ia akan selalu bersama-sama dengan ibunya.


Semakin hari kehamilan Aluna semakin terlihat besar. Ia yang kala itu sedang menikmati udara dari balkon rumahnya kembali mengingat setiap hal yang terjadi padanya dan Dean.


Bagaimana takdir menariknya pada sang Alpha sungguh sesuatu yang sangat gila dan mungkin tidak akan ada orang yang percaya. Namun disinilah ia yang sekarang adalah sang Luna.


Dean perlahan menghampiri Aluna yang sejak awal sudah bisa merasakan kehadirannya. Tanpa banyak bicara ia memeluk Aluna dan bayinya penuh kasih sayang. Dan Aluna merasa begitu nyaman mendapat perlakuan seperti itu.


" Bagaimana kabar para werewolf itu?."


Tiba-tiba Aluna memecah keheningan diantara mereka.


" Mereka sudah kembali pada kehidupan manusia mereka. Semua berkat kau, Luna."


Aluna tersenyum puas mendengar hal itu. Ia semakin mengeratkan tangan Dean yang memeluknya dari belakang.


" Aku senang sekali. Lalu apa rencana kita kedepannya?."


" Tidak ada. Kita hanya perlu menikmati kebersamaan kita untuk waktu yang sangat lama. Lalu membesarkan anak-anak kita agar setangguh dirimu."


" Dan sehebat dirimu."


Aluna menambahkan.


Sesuai perkataan Dean hari-hari yang mereka lewatkan begitu menyenangkan hingga tidak sadar beberapa tahun berlalu dan anak mereka kini sudah tumbuh besar.


" Ibu, ayo cepat kesini."


" Iya ibu dibelakangmu. Kenapa kau mendaki begitu cepat."


Aluna sedikit kewalahan mengikuti langkah kaki putranya yang kini sudah berumur 5 tahun. Mereka mendaki gunung berdua tanpa Dean seperti yang biasa mereka lalukan.


Saat sampai di puncaknya Aluna melihat pemandangan dari sana yang membuatnya terkesan.


" Aku akan menunggu disini selagi ibu melukisnya."


Ucap putranya dengan membuka ransel untuk mengeluarkan air minumnya. Aluna yang melihatnya sangat gemas karena putra yang ia namai Zev tidak seperti anak laki-laki seusianya. Ia cukup mandiri dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik seperti ayahnya.


Setelah cukup menikmati keindahan dari puncak gunung ibu dan anak itu memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.


" Zev, ayo kita taruhan. Yang sampai kebawah duluan boleh meminta apa saja dan yang kalah tidak boleh menolak."


" Ibu akan menyesal taruhan denganku."


" Kita lihat saja nanti."


Keduanya lalu berlari dengan kecepatan tinggi diluar batas manusia biasa. Jalanan terjal dan bahkan berbatu tak membuat mereka takut terjatuh.


Zev terkadang harus menggunakan kedua tangannya untuk menyeimbangkan tubuhnya dijalanan menurun layaknya seperti seekor serigala. Aluna yang tak kalah mengimbangnya hanya tersenyum bangga pada putranya.


" Yeeey aku menang.."


Zev kegirangan saat ia sampai duluan sebelum ibunya. Aluna masih harus menyelesaikan diri dengan hal itu karena ia belum terbiasa. Belum ia selesai mengatur nafasnya Dean ternyata sudah menunggu mereka dengan mobilnya.


Zev yang mengetahui ayahnya disana segera berlari menghampirinya untuk meminta Dean menggendongnya.


" Ayah, hari ini aku mengalahkan ibu lagi."


ucap Zev bangga.


" Mengesankan. Anakku memang yang terbaik."


Aluna sampai dengan sedikit tergopoh-gopoh.


" Kau datang menjemput kami?."


" Tentu saja."


Dean lalu memeluk Aluna dengan satu tangannya yang lain dan mencium keningnya.


" Kalian sudah selesai kan? sekarang giliran aku untuk bersenang-senang dengan kalian."


Dean lalu membukakan pintu untuk Aluna dan setelahnya ia menempatkan Zev di kursi belakang mereka lalu menuju tempat yang dimaksudkan Dean.


Selama perjalanan Zev tak hentinya bicara dengan riang. Mendengar itu Dean dan Aluna hanya tersenyum sambil berpegangan tangan .


Keduanya berharap perjalanan panjang yang akan dilalui mereka semua selalu seperti itu. Penuh kebahagiaan dan canda tawa dan begitupun semua orang dalam kehidupan Aluna dan Dean.


...TAMAT....