The Alpha Is Watching Me

The Alpha Is Watching Me
Penyerangan (2)



" Jadi seperti itu, hidup mereka tergantung padaku."


Aluna tertunduk dengan perasaan bersalah. Manusia setengah werewolf lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun sepertinya bagaimana mungkin dipercaya menjadi pahlawan. Begitu pikirnya.


" Aluna, itu bukan salahmu. Keberadaanmu saja sudah menjadi berkah bagi semuanya."


" Tetap saja aku ingin membantu tapi tidak tahu apa yang harus aku lakukan."


" Kita akan mencari tahu. Untuk sekarang kau hanya perlu menjaga dirimu baik-baik."


Ucapan nenek Giselle terus terngiang dipikiran Aluna selama beberapa hari itu. Hingga malam menjelang pun ia hanya diam memikirkan segala kemungkinan dan hubungan dirinya dengan semua yang terjadi. Namun Aluna menemui jalan buntu.


Ceklek.. pintu kamar terbuka dan Dean muncul. Melihat kegelisahan Aluna ia semakin merasa tidak enak hati padanya.


" Kau jangan terlalu memikirkan perkataan profesor Giselle karena apa yang dia katakan belum 100% bisa dibuktikan."


" Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya melihat kau sangat bekerja keras melindungi semua orang sedangkan aku hanya menjadi beban kalian."


" Apa yang kau katakan, Luna."


Dean mendekat lalu menarik pinggang Aluna.


" Aku juga ingin berguna untukmu. Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?."


" Tidak perlu, hanya kau berada disisiku saja sudah memberiku kekuatan. Kita akan melewati ini bersama dan hidup bahagia selamanya. Maukah kau menjadi milikku untuk waktu yang lama? ."


" Apa kau sedang melamarku?."


" Melamar ya, terserah kau saja bagaimana mengartikannya. Yang jelas saat kau menerimaku maka kau tidak akan bisa lepas dariku."


" Aku merinding mendengarnya. Sana menjauh dariku."


Aluna melepaskan diri dari Dean sontak membuat Dean berdecak karena sikap jual mahal Aluna.


" Jadi kau tidak mau?."


" Tidak.."


Aluna semakin kegirangan untuk menggoda Dean.


" Sini kau..aku akan memaksa kalau kau tidak mau."


Dean berusaha menangkap Aluna namun ia kalah gesit darinya. Dean tidak menyerah ia tetap mengejarnya hingga akhirnya Aluna terpojok.


" Kau tidak akan bisa lari lagi dariku."


Dean menghalangi tubuh Aluna dengan kedua tangannya.


" Baik Alpha. Aku tidak akan lari lagi."


" Sungguh? jadi kau menerima lamaranku?."


" Kalau itu perlu kita diskusikan dulu."


Aluna kembali menggoda Dean hingga membuatnya sedikit murung. Melihatnya Aluna semakin gemas namun juga tidak tega.


Ia lalu mengalungkan lengannya dileher Dean dan membisikkan sesuatu.


" Aku ingin hadiah lamaran yang indah."


" Haah.. kau tidak boleh mundur lagi."


Hup. Dean lalu membopong Aluna yang diiringi canda tawa keduanya.


...........


" Hahaha... sepertinya dewa pun merestui niatku hingga aku tidak perlu susah payah mencari satu persatu werewolf yang tersisa. Mereka sudah berkumpul di satu tempat jadi itu semakin memudahkan kita menangkap mereka semua."


" Anda benar prof. Jadi kapan kita akan melakukan eksekusi?."


" Secepatnya. Karena aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."


Markas werewolf.


Praaaang... Sang Alpha yang sedang memegang gelasnya tiba-tiba menjatuhkannya hingga perhatian semua orang tertuju padanya.


" Ada apa, Alpha?."


" Mereka disekitar sini. Ada energi aneh yang kurasakan juga. Mereka akhirnya datang."


Matthew dan Joe saling berpandangan lalu memberi isyarat pada yang lain untuk bersiap.


" Tidak ada waktu lagi untuk bersembunyi. Semuanya inilah saatnya kita menghadapi mereka." ucap Matt yang diangguki semua werewolf yang ada.


Mereka yang terkuat dan juga yang sudah terlatih mulai merubah wujudnya menjadi serigala. Mereka lalu keluar menuju halaman dan bersiap menghadapi musuh yang mendekat.


Suara lolongan serigala itu saling bersautan mereka penuh waspada untuk melindungi kawanannya.


Aluna, Lily, Miranda, nenek Giselle dan 2 werewolf tua masih berada didalam markas dengan pengawasan Irene.


Aluna merasakan kepanikan yang luar biasa saat tiba-tiba ada panah yang melesat dari kedalaman hutan mengarah kepada Dean.


Namun Dean dengan gesit menangkapnya dengan mulutnya. Begitupun serangan demi serangan selanjutnya dapat mereka tangani berkat latihan bertahun-tahun.


Detik selanjutnya. Tiga pasang mata merah muncul dari kegelapan. Dan itu adalah werewolf yang salah satunya ditunggangi oleh profesor Martin. Lalu empat manusia lagi muncul mengikuti.


" Dia adalah profesor Martin. "


Nenek Giselle tak terkejut melihat mereka.


" Werewolf yang ditungganginya itu adalah Mellisa dia juga dari kelompok ini. Sepertinya dia dalam pengaruh sesuatu. " ucap Irene.


Semua orang merasakan ketegangan terlebih para musuh itu membawa sebuah senjata yang bisa melumpuhkan werewolf.


Dean mulai mengambil ancang-ancang dan para werewolf seperti sudah mengerti strateginya. Mereka lalu berlari dan berpencar ke segala arah hingga membuat keempat orang itu kewalahan mengejar semuanya.


Satu persatu tembakan diluncurkan namun karena pepohonan yang rindang menghalanginya sehingga tidak ada satupun dari mereka yang terkena tembakan beracun itu.


Keempat orang antek prof Martin menyadari mereka sudah berlari terlalu jauh memasuki hutan. Dan saat mereka lengah mereka disergap oleh buruannya.


Profesor Martin yang hanya diam menunggu dengan para werewolf ciptaannya mendengar teriakan mereka yang seperti kesakitan dari dalam hutan. Namun bukannya panik karena anak buahnya dikalahkan ia justru mengulum senyuman licik.


" Akhirnya jatah serum untuk 4 orang itu semuanya milikku."


Sifat serakahnya sudah mendarah daging hingga ia tidak mempedulikan mereka yang sudah membantunya.