
Helai demi helai halaman aku buka ternyata tulisan tangannya sangat bagus dan rapi. Aku terkesima hingga tidak terlalu memperhatikan apa yang Dean tulis. Kupikir itu seperti buku hariannya, tapi ia hanya menulis sesuatu secara acak dalam beberapa bahasa yang sulit ku mengerti. Hingga dihalaman selanjutnya aku menemukan tulisannya dari beberapa tahun yang lalu karena ia menulis waktunya secara detail.
4 April **03
Hari ini aku bertemu jodohku, Lunaku. Aku sangat bahagia hingga tanpa sadar langsung menggigit lehernya dan membuatnya pingsan. Karena aku tidak bisa membawanya pergi begitu saja akhirnya aku mengembalikan tubuhnya kepada ibunya.
15 April **03
Aku kembali kerumah Luna dan ibunya mengatakan aku harus membawa Luna dengan cara manusiawi. Konyol sekali, tapi untung saat itu aku mendengarkannya dan kembali dengan tangan kosong untuk menyusun rencana.
17 Februari **06
Akhirnya aku akan kembali melihat Lunaku, setelah kembali bersabar untuk sekian lama.
4 Maret **06
Pertama kalinya aku bertemu Luna lagi dan dia semakin cantik namun aku membuatnya tidak senang karena aku memaksanya untuk tinggal bersamaku dengan alasan pekerjaan.
5 Maret **06
Aku mengajaknya candle light dinner sebagai cara untuk mengambil hatinya dihari pertama ia tinggal bersamaku namun aku ditertawakan oleh si bodoh Joe karena terlalu berlebihan dan sembrono.
6 Maret...7 Maret...8 Maret...sampai kemarin 10 Agustus ia selalu menuliskan dan menceritakan semuanya tentangku dan apa saja yg aku dan dia lakukan hari itu bahkan Dean menggambarkan ekspresi ku secara terperinci. Aku meneteskan air mata karena terharu dengan setiap kata-katanya yang terlihat mengagumiku dan tidak pernah melepaskan pandangannya dariku.
Selama ini ia hidup untuk menungguku tapi meskipun aku ada dihadapannya ia tidak pernah melakukan segala hal tanpa memikirkan perasaanku.
Aku melihat-lihat kembali halaman buku itu ada satu halaman yang terlewatkan olehku. Dengan senyum merekah aku penasaran apa yang ia tulis lagi tentangku. Tidak ada tanggalnya dalam halaman ini dan itu tertulis dalam bahasa lain untungnya aku sedikit mengerti bahasa itu dan aku membacanya dengan seksama agar tidak ada kata yang terlewat.
Suatu hari jika perang tidak dapat terelakan maka satu-satunya cara agar kami hidup adalah antidot yang dibuat oleh Profesor Giselle Adams namun kemungkinan dia sudah mati karena dia manusi, kecuali dia menurunkan resep itu pada keturunannya. Siapakah kemungkinan keturunan Prof. Giselle.
" Profesor Giselle Adams? Antidot?. Kalau aku tidak salah penulis Crish Adams pernah menceritakan tentang hal itu dibuku series werewolf nya. Tidak mungkin.. semuanya terlalu jelas jika hanya cerita fiksi. Jika dia bukan werewolf itu artinya dia saksi dari kejadian 100 tahun lalu itu atau orang terdahulunya yang menceritakannya. Apa mungkin... Ya Tuhan.."
Aku menutup mulutku sendiri karena prasangka yang belum jelas kebenarannya itu. Tapi semuanya berkaitan dan jika memang masalah ini yang sedang dihadapi para werewolf aku akan bisa membantu mereka. Aku segera berlari keluar untuk mencari Dean dan benar saja ia sedang memimpin rapat para werewolf didalam ruangan tadi. Aku menerobos masuk karena tidak sabar ingin segera memberitahukan apa yang aku temukan.
Braakk..aku membuka pintu ruangan dengan kasar.
" Aku tahu dimana Profesor Giselle Adams berada." hosh..hosh.. nafasku tersenggal karena lelah berlari.
Semua orang terdiam sesaat termasuk Dean dan ia langsung menghampiriku.
" Apa maksudmu? Darimana kau tau tentang itu.?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Dean tapi aku memberanikan diri untuk menatap orang-orang didepanku.
" Dengarkan aku semuanya. Aku tahu apa yang sedang kalian hadapi karena aku pernah membaca series werewolf dari penulis Chris Adams. Dia menceritakan secara detail segalanya tentang kalian dan juga kejadian 100 tahun lalu. Tapi ada satu nama yang dia sebutkan sebagai pahlawan dalam novel itu yaitu Profesor Elle Adams pemilik antidot yang bisa menahan kalian dari serangan senjata khusus pemusnah werewolf itu. Dan aku yakin dia sedang menceritakan tentang ibunya Gis..Elle Adams."
Ibuku mulai bereaksi karena sepertinya ia mengerti arah pembicaraanku.
" Iya bu, nenek Giselle adalah orangnya."
Semua orang saling menatap aku tahu mungkin dalam pemikiran mereka aku sudah gila karena membawa-bawa cerita novel dalam masalah serius menyangkut hidup dan mati mereka.
" Alpha, apa menurutmu itu benar?." Sepertinya Matt orang pertama yang meragukan kata-kataku. Tapi Dean tampak sedang berpikir keras hingga ia tidak menjawabnya.