
" Selamat datang, Alpha."
" Selamat datang, Alpha."
Orang-orang berlomba menyambut kedatangan Dean yang mereka yakini membawa berita baik. Bahkan orang yang mereka cari selama ini datang bersamanya.
Aluna yang mendengar sayup-sayup suara segera meninggalkan tempatnya menuju sumber suara. Dan ternyata Dean dan yang lainnya sudah datang bersama nenek Giselle.
Ia menutup mulut terkejut olehnya dan segera ia menghampiri nenek Giselle sampai melupakan Dean yang berdiri disampingnya.
" Apa kabar Aluna?." nenek Giselle memeluk Aluna.
" Aku baik-baik saja, lalu kau?."
" Seperti yang kau lihat."
Setelah berbasa-basi mereka lalu berkumpul. Nenek Giselle menceritakan kembali apa yang ia saksikan dulu membuat semua orang terperanjat. Tak terkecuali Aluna ia sungguh tak menyangka masalah yang para werewolf hadapi begitu berat.
" Lalu antidot yang kau miliki apa benar itu akan melindungi yang tersisa dari kami?."
Saut seseorang membuat nenek Giselle hanya diam menatap pada Dean.
" Itu masih sedang dalam tahap penyempurnaan jadi kalian tidak perlu khawatir. Sampai saat antidot itu bisa digunakan Profesor Giselle akan tinggal disini."
Semua orang terdengar menghela nafas lega. Harapan mereka agar bisa hidup bebas tanpa rasa takut semakin besar. Semuanya bersorak meneriakkan nama Alpha membuatnya hanya tersenyum gugup. Mata elang Aluna yang sejak awal memperhatikan ekspresi wajah Dean menyadari ada hal yang disembunyikan olehnya namun ia menyimpannya karena tidak ingin merusak momen kebahagiaan semua orang disana.
" Ada apa, Dean?."
Ucap Aluna sesampainya mereka dikamar mereka.
" Apa maksudmu?."
" Wajahmu tegang sejak tadi, apa yang kau sembunyikan?."
Aluna tak menyerah ia terus mencecar Dean menuntut jawaban. Saat ia tak hentinya berbicara Dean menghentikannya dengan mencium Aluna. Mereka saling berpandangan hingga muncul sebuah dorongan dari keduanya. Aluna melupakan niat awalnya karena Dean terus menggodanya.
Akal sehat Aluna terkalahkan nafsunya ia menjadi kerasukan entah oleh apa dan Dean tersenyum penuh kemenangan.
Mereka saling memagut bibir dengan suara nafas memburu. Dean mulai mencumbu Aluna dengan memainkan lidahnya disekitar lehernya membuat erangan Aluna lolos begitu saja.
" Aku tidak akan menahan diri kali ini. Kau akan menjadi milikku seutuhnya." ucap Dean ditelinga Aluna yang membuatnya merinding karena nafas panas Dean. Sekujur tubuh Aluna mendadak lebih panas dari sebelumnya dan hal itu disadari oleh Dean.
Aluna hanya pasrah saat Dean membawanya ke ranjang tidur. Dan membiarkan ia berbuat sesukanya pada tubuhnya.
Kerinduan dan juga hasrat yang terpendam selama ini Dean keluarkan sepenuhnya hingga Aluna pun bisa merasakan bahwa sekarang ia adalah bagian dari hidup Dean Sang Alpha.
Pagi harinya Aluna terbangun karena tersentak oleh mimpinya yang aneh. Saat sadar ia berada sendirian didalam kamar itu. Aluna terkejut hingga menutup mulutnya saat melihat seisi kamar berantakan. Apa yang sudah ia dan Dean lakukan hingga ranjang yang ia tiduri pun hampir roboh.
Dalam kebingungan suara ketukan pintu kembali mengejutkannya. Menyadari ia tak memakai apa-apa Aluna buru-buru memungut apapun dilantai untuk menutupi tubuh polosnya. Sebentar lagi ia akan selesai mengancingkan kemeja putih Dean namun orang yang diluar tidak sabar hingga membuka pintu kamarnya tanpa dipersilahkan.
" Kenapa kau tidak menjawabku, aku pikir kau kenapa-napa." ujar Irene.
Aluna berdiri gugup juga malu pada Irene yang datang membawakan senampan makanan untukku.
" Maaf aku.. itu.. tadi.."
Aluna mendadak menjadi gagap namun Irene sangat mengerti.
" Kau tidak usah malu begitu, itu hal yang wajar bagi kalian. Dan kekacauan ini biar nanti aku dan Joseph yang bereskan."
Aluna semakin tertunduk karenanya. Itu artinya akan ada banyak lagi orang yang mengetahui kejadian semalam.
Aluna berendam didalam bathtub setelah disuruh Irene. Ingatannya kembali muncul tentang semalam namun anehnya ia tak begitu jelas mengingatnya. Seperti orang yang mabuk ingatan itu terpotong-potong hingga ia tak tahu keseluruhan yang terjadi padanya dan Dean namun itu tidak ia ambil pusing.