
" Apa? Mellisa menghilang?."
Matthew bangun dari duduknya diiringi wajah tegang dari semua orang.
" Siapa Mellisa?." aku berbisik pada Miranda disampingku.
" Dia salah satu anggota kelompok ini. Seperti Dean dia memilih pekerjaan yang berhubungan dengan banyak manusia. Dia model terkenal kau pasti tahu Mellisa Hilton."
" Dia seorang werewolf juga?." aku menutup mulut tidak percaya bahwa orang yang sering kulihat diberbagai acara dan iklan di televisi dia bagian dari anggota werewolf.
" Terima kasih untuk informasinya. Kabari aku terus jika ada petunjuk sekecil apapun itu." Matthew mengakhiri panggilannya dengan wajah kesal dan juga khawatir. Semua orang terlihat takut seperti tidak ingin terlibat dengannya dan memilih diam seribu bahasa.
" Apa yang berbicara dengan Matthew adalah werewolf juga berapa jumlah mereka sebenarnya?."
Banyak sekali hal-hal yang ingin kutanyakan di kepalaku dan tidak bisa kutahan lagi namun Miranda dengan sabar menjawab segala pertanyaanku.
" Tidak banyak, yang berbicara dengan Matt adalah manusia yang menjadi orang kepercayaan kami. Mereka adalah manusia yang percaya pada werewolf dan bersedia menjadi pesuruh."
Syukurlah ternyata tidak semua orang menentang keberadaan mereka. Dalam hati aku merasa lega.
Malam itu mereka memutuskan untuk kembali namun Irene satu-satunya yang memilih tinggal bersamaku dan ibu karena alasan keselamatanku. Rasa lelah yang menderaku membuatku ingin segera beristirahat aku meninggalkan ibu dan Irene yang sedang berbincang diruang tamu untuk menuju kamarku.
Sudah berapa lama aku mencoba memejamkan mata namun aku tetap tidak bisa terlelap banyak sekali yang sedang aku pikirkan termasuk keberadaan Dean yang entah dimana. Aku merindukannya, itulah yang sedang kurasakan. Apakah karena aku adalah Luna nya sekarang aku merasakan perasaan menggebu bahkan saat aku hanya memikirkannya.
" Maaf ibu harus membangunkanmu. Ada situasi genting sekarang kita harus pergi dari sini."
Aku yang belum terjaga sepenuhnya hanya bisa menuruti perkataannya tanpa mengetahui apapun. Setelah memakaikan baju hangat untukku ia juga menjinjing sebuah tas besar milikku. Ibuku menuntunku menuruni tangga tanpa mengatakan sepatah katapun sesaat setelah sampai dibawah kulihat Irene pun sudah bersiap dengan membawa tas yang aku yakini itu milik ibu.
" Sebenarnya kita mau kemana ini masih dini hari."
" Markas kami." jawab Irene singkat sambil melenggang pergi keluar rumah kami. Kami berdua pun terpaksa membuntutinya. Setelah membantu menyimpan barang bawaan kami di mobil ia duduk di kursi supir sedangkan aku dan ibu di kursi belakang itupun permintaannya.
Selama perjalanan aku kembali terlelap karena belum lama aku tidur. Sesekali aku membuka mata namun sepertinya perjalanan ini cukup panjang.
" I-Ini markas kalian?."
" Iya. Ayo kutunjukan jalan."
Tempat yang mereka sebut sebagai markas lebih terlihat seperti kastil yang luas dan megah bahkan kami harus melewati lorong yang panjang untuk sampai ke ruang utama tempat berkumpulnya para werewolf itu.
Awalnya aku mendengar riuh percakapan seperti orang-orang yang sedang berdebat namun tiba-tiba itu terhenti begitu saja. Setelah berjalan cukup lama kami sampai di sebuah pintu yang besar. Irene membukanya dan didalam terdapat puluhan orang yang sedang menatap ke arahku.
Rasanya seperti dejavu dan aku hanya memalingkan wajah dengan perasaan gugup. Tidak ada yang bicara saat itu dalam keheningan seseorang dari belakangku berusaha melindungi ku dari tatapan semua orang dengan menutupi tubuhku dengan tubuhnya. Aku memang tidak melihat wajahnya tapi aku mengenali pemilik punggung itu.