
" Alpha, apa menurutmu itu benar?." Sepertinya Matt orang pertama yang meragukan kata-kataku. Tapi Dean tampak sedang berpikir keras hingga ia tidak menjawabnya.
" Kau yakin dengan apa yang kau katakan?." Matt beralih padaku.
" Aku..aku.."
Mendadak aku kehilangan kepercayaan diri mendapat intimidasi dari Matthew.
" Kemungkinan Aluna benar. Aku sendiri pernah bertemu sekali dengan putra nenek Giselle dan dia bilang dia tinggal diluar negeri sebagai seorang penulis." Lily menimpali diiringi riuh semua orang disana. Mereka seperti mendapatkan harapan baru.
" Kita harus memastikan itu. Baiklah semuanya dengarkan aku. Aku, Joe, Matthew akan pergi menemuinya. Kalian semua tetap disini dan tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini sampai kami kembali. Serta tolong jaga Lunaku selama aku pergi."
" Baik. Alpha." semuanya kompak menjawab.
Sebelum ia meninggalkanku ia memelukku dihadapan semua orang dan itu membuatku sedikit malu.
" Jaga dirimu baik-baik dan terimakasih, Luna."
" Iya. Hati-hatilah dijalan dan cepat kembali."
Setelah berpamitan ketiga pria gagah itu meninggalkan ruangan aku terus memperhatikan hingga punggung Dean tak terlihat. Ibuku Lily menghampiriku dengan hati-hati aku merasa dia seperti canggung padaku karena sejak kemarin aku menghindarinya.
" Bu, aku ingin bicara denganmu."
Seolah mengerti maksudku, Irene menunjukkan jalan ke satu ruangan lain yang tidak ada siapapun agar aku leluasa bicara berdua.
" Aku minta maaf atas sikapku kemarin, aku tidak bermaksud..."
" Kau tidak perlu meminta maaf dariku, sayang. Aku mengerti perasaanmu."
" Semuanya akan baik-baik saja, kan?."
Ia mengambil langkah maju untuk memelukku, mengerti segala kegelisahan dan ketakutanku. " Kau harus percaya padanya. Kita semua akan baik-baik saja."
Cukup lama kami berbincang tiba-tiba Irene dan beberapa orang masuk menghampiri kami.
" Kami sudah selesai."
" Hai, senang bertemu denganmu aku Serly."
Seorang wanita sebaya ibuku memperkenalkan diri dan 2 orang lainnya pun begitu.
" Sulit kupercaya legenda ternyata bisa berubah kau benar manusia campuran itu dan aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku."
" Aku rasa dia memang dewi penyelamat kita. Dewa akhirnya menjawab segala doa kita dan mengirimnya ke dunia ini." satu orang lainnya menimpali.
Mendapat pujian seperti itu aku menjadi tidak enak. Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk membantu mereka lepas dari mimpi buruk yang selalu menghantui bahkan setelah 100 tahun berlalu. Bagaimana mereka bisa bertahan sendiri di dunia asing bahkan berbaur dengan manusia, kaum yang sudah membuat mereka hampir musnah.
" Maaf kalau boleh aku tanya, berapa usiamu Luna?."
" 24 tahun."
" Dan jika aku tidak salah kau baru ditemukan oleh Alpha. Dia sangat bersabar sekali menunggumu ternyata apa kau tahu Alpha yang menemukan Lunanya harus segera menjadikannya miliknya karena itu cara agar dia semakin kuat."
" Pengendalian dirinya sangat kuat ya aku baru tahu ada werewolf yang seperti itu. Keputusan kita sudah tepat memintanya untuk menjadikan kita pengikutnya."
" Baiklah nyonya-nyonya sekalian kita harus segera menyiapkan makanan untuk semua orang yang sedang kelaparan jadi biarkan Luma beristirahat."
" Ah, iya kau benar Irene. Baiklah sampai jumpa lagi senang bertemu denganmu, Luna."
Aku mengangguk dengan ramah begitupun Irene sebelum pergi iya menyunggingkan senyum padaku.
" Aku akan bergabung." ucap ibuku sembari mengikuti mereka keluar dari ruangan.
Sedikit banyak aku mulai memikirkan perkataan mereka tentang Alpha. Begitupun yang aku pernah baca tentang musim kawin para manusia serigala yang mana mereka akan menjadi lebih ganas sehingga siapapun lawan jenis mereka akan ditiduri olehnya jika nafsu birahinya tidak dapat dikendalikan.
Aku menggigiti kuku jariku memikirkan apakah kemarin-kemarin sikap aneh Dean karena itu adalah saatnya datang bagi dia dimana birahinya menjadi tajam dan gilanya apa aku juga kemarin seperti itu. Aku berteriak tanpa suara mengingat itu rasanya malu sekali. Apa yang akan dia pikirkan tentang aku.