
Tidak ada yang bicara saat itu dalam keheningan seseorang dari belakangku berusaha melindungi ku dari tatapan semua orang dengan berjalan ke depanku. Aku memang tidak melihat wajahnya tapi aku mengenali pemilik punggung itu.
" Tidak ada yang boleh menatap Luna-ku lebih dari 3 detik." suara itu menggelegar di seluruh ruangan itu membuat semua orang disana menunduk. Ia lalu berbalik menghadapku hingga kedua mata kami bertemu. Mata yang indah itu kembali kulihat.
" Ayo ikut aku." Dean menarik tanganku dengan lembut keluar dari ruangan itu. Aku baru tersadar dari kebingunganku saat ia membawaku kesebuah kamar.
Deg. Jantungku mulai berdetak tidak teratur apalagi saat menyadari ia masih tidak melepaskan genggamannya.
" Kau baik-baik saja?." aku mulai bersuara untuk terlepas dari rasa canggung karena Dean hanya menatapku dengan tatapan lembutnya.
" Aku ingin memelukmu." ujarnya.
Tanpa menunggu aku yang terlebih dahulu memeluknya. Ada satu perasaan yang membuncah saat itu yang tidak bisa ku jelaskan dan anehnya aku pun bisa merasakan perasaan Dean dalam diriku.
" Apa ini?." karena terkejut aku melepaskan pelukanku dan aku merasa linglung.
" Ikatan yang kita miliki akhirnya bersatu dan kita akan bisa saling merasakannya. Manusia menamainya cinta, bukan?."
Mata yang terakhir kali kulihat penuh ketakutan itu kini berubah menjadi lembut seperti mata anak anjing yang lucu. Setelah segala kebingungan ini aku akhirnya mengerti dan sekarang yang kuinginkan adalah pria werewolf di depanku ini.
Entah keberanian darimana aku benar-benar ingin menciumnya hingga dengan sedikit kasar aku menarik kerah bajunya agar ia lebih mendekat padaku. Tanpa basa-basi ia segera menerjang tubuhku hingga kami berdua terjatuh di kasur empuk kamar itu dan ciuman yang aku harapkan terjadi juga. Semakin lama aku semakin kewalahan mengimbangi ciumannya yang begitu ganas, bibirku sampai terasa berdenyut dan kesakitan sejenak aku sedikit menyesali perbuatanku yang sudah memancingnya.
" Kenapa?." wajahnya berubah polos.
" Kita hentikan hanya sampai disini saja."
Aku mendorong lembut tubuhnya agar bisa memberiku sedikit ruang untuk bernafas. Melihat wajahku yang merah padam dengan nafas cepat Dean tersenyum.
" Maafkan aku, sepertinya aku terlalu terburu-buru."
Setelah perkataanya itu ia segera beranjak dari tubuhku dan tak lupa menutupiku dengan selimut.
" Mandi dan bersiaplah, aku sudah menyediakan semua yang kau butuhkan."
Dean mengecup puncak kepalaku sebelum ia meninggalkanku dikamar itu sendiri. Sepeninggalnya ia aku segera menuju kamar mandi disana.
Selesai membersihkan tubuhku aku berbaring kembali namun sudut mataku menangkap sesuatu yang menarik. Lemari buku milik Dean sangat besar dan membentang hampir memenuhi satu ruangan. Aku berjalan pelan menelisik satu persatu buku-buku yang berjejer rapi itu namun ada satu buku yang mencuri perhatianku dan aku mengambilnya.
Ternyata itu adalah buku catatan pribadi Dean. Aku mengurungkan niat untuk melihat-lihatnya dan mengembalikan buku itu ke tempat semula karena aku tahu itu tidak sopan tapi aku akan penasaran setengah mati kalau aku tidak membukanya. Masa bodo aku akhirnya kalah oleh akal sehatku dan segara membawa buku itu ke sofa dengan tidak lupa mengunci kamar takut seseorang tiba-tiba masuk.