
Seorang putri bangsawan bertepuk tangan untuknya..…
Wajah manis Putri itu terlihat menawan. tapi, Ia tidak memiliki kaki seperti manusia, hanya ekor ular kebawah.
Gadis bangsawan mengatakan bahwa dirinya adalah Lamia, seorang gadis setengah ular dan setengah manusia.
Tidak tahu bagaimana mereka berkembang biak, mereka berbeda dengan manusia.
Bukan hanya Ia Adipramana juga mendapati ada begitu banyak Demi-human di sekitar sini.
Dari sini Ia akhirnya mendapatkan sebuah ide cemerlang, dan segera memerintahkan setiap unit prajuritnya untuk melakukan serangan menyempit.
Untuk melakukannya Ia juga harus berhati-hati. bagi Adipramana sendiri, Ia tidak peduli meski Ia keturunan malaikat dan iblis.
Ia akan menjadi dirinya sendiri bukan orang lain...
“Hari ini kita bersatu.... kita bersaudara bukan karena ras tapi kita adalah makhluk hidup cerdas, bukan monster!” Akan kesulitan jika para Goblin atas orc menyerangnya.
Beberapa prajurit tentara ke-lima di masih menunggu aba-aba dari Adipramana, dan setelah Ia memerintahkan seorang prajurit untuk meniupkan terompet.
Seluruh tentara ke-lima, ke-enam dan ke-sepuluh bersiap dengan bayonet mereka.
Mereka bersumpah atas nama para pelindung, mereka adalah Sukarno, Aidit dan Hikmal. dikenal juga sebagai Tres sanctorum.
Hikmal sendiri berjasa dalam menghancurkan semua prajurit suharto dan organisasi-organisasi dibawanya.
Mungkin mereka bukan dewa. Namun ketiganya memiliki kekuatan suci dan itu berasal dari Sanctus crystallus.
Sebuah kristal suci berbentuk telur, dan berwarna putih mengkilat. Tidak seperti telur ayam, bahkan jika tidak bisa ditemukan di dunia manapun.
Meski pasukan sekutu Theo terus menerus membombardir pertahanan mereka dari udara, mereka tetap tidak pernah menyerah.
Dan akan terus berdatangan untuk menyerang prajurit sekutu Theo, meski dalam perang ini pihak kekaisaran Indonesia kehilangan seribu lima ratus prajuritnya. Mereka akan tetap bertempur.
Siang dan malam mereka lewati bersama dalam perang tiada akhir ini.
“Hari ini aku mau istirahat, aku belum makan seharian!” Kata seorang kopra, memegang perutnya yang lapar.
“Sayangnya stok makanan kita terbatas hari ini... kita harus membaginya sama rata dengan yang lainnya!” Lanjut seorang kapten, mengingatkan mengenai stok logistik mereka yang semakin berkurang.
“Ahahh....Kalian tidak punya makanan kasihan! Ini aku berikan kalian bekal makan aku... sebelum aku berangkat, istriku menyiapkan bekal ini untukku!” Seorang prajurit menyombongkan diri di hadapan atasannya.
“Anu~ apakah Anda tidak tahu, Anda berbicara dengan siapa?” bentak kopra, tidak terima dengan kesombongan prajurit itu. Bahkan mendorong prajurit itu sampai jatuh ke lumpur.
Prajurit itu tidak terima dan perkelahian antar mereka tidak terelakkan lagi, sang kapten yang melihatnya hanya terdiam tanpa memisahkan mereka. Dan melanjutkan makannya....
Jam 10:58 malam banyak prajurit di parit mengantuk dan tidur seadanya, tidak semua prajurit tidur ada juga yang tetap berjaga-jaga. namun, diantara prajurit yang tertidur ada yang memakai bantal.
Lebih aneh lagi, sekelompok prajurit tentara ke-enam justru malah menaruh kasur di parit dan dipenuhi oleh benda-benda tidak berguna seperti mainan kanak-kanak.
Pihak sekutu Theo yang melihatnya tercengang dengannya.
“Kapten, pihak Indonesia malah keenakan tidur di parit dengan kasur dan bantal... apa mereka ingin bermain atau bertempur...?!”
“Aku juga tidak tahu... serang saja... tembak... terus tembak...!” kapten sekutu Theo terus memberitakan prajuritnya untuk menyerang.