
Hal yang sama juga terjadi pada berkas milik Noel, dan sekarang Pendeta itu menyajikan segunung makanan yang begitu besar untuk Di sajikan di tengah malam. Ini bukanlah legal jika seseorang makan tengah malam tapi pada kenyataannya mereka akan bangun jam 05.00 pagi.
Ketika Noel terbangun, hal pertama yang Ia lakukan adalah mengangguk-anggukkan kepalanya satu kali, bahkan sampai berjalan sempoyongan menuju ke ruang makan.
“Hmm...? Apa yang terjadi... apakah Anda masih setengah tidur?”
Mata Noel justru terpaku pada pendeta itu ketika Ia menabraknya, dan menjatuhkan piring makanan. Karena kondisi apa yang dialami oleh Noel, tindakan Pendeta itu mudah dimengerti lagi pula Ia bukan psikiater yang bisa menangani masalah yang Noel hadapi.
Sampai sekarang, Pendeta itu dengan cermat memperhatikan tingkah laku Noel yang aneh ketika Ia baru bangun tidur, Akan sulit jika dibayangkan betapa menderitanya Noel.
Bahkan sampai Ia mengangguk-angguk kepalanya satu kali, hal yang membuatnya heran adalah.
“Aku tidak sanggup lagi! Di mana sang pencerah... Apa yang aku lakukan?”
Pendeta itu pertama kali memperhatikan ada yang aneh ketika ia melihat ke wajah Noel, pucat dan berkeringat dingin.
Semakin diperhatikan lagi wajah Noel semakin pucat. Pada awalnya, Ia mengira itu hanyalah demam biasa.
Ini juga menjadi permasalahan internal keluarganya. Tetapi ketika Ia berpikir lagi, apa yang salah dengan makanan yang dikonsumsi Noel, apa gadis itu menambahkan racun di dalam makanannya, dan bahkan saat makan malam itu tidaklah mungkin. Noel bukan orang yang ceroboh seperti Yamato.
“Maaf! Apakah Anda keracunan”kata Pendeta sambil mengotak-atik dapur untuk mencari obat. ia adalah seorang pendeta di kuil Athena, dan memiliki kepedulian sosial terhadap orang lain. “ Anu~ aku tidak tahan... Seluruh tubuhku panas” keluh Noel .
Melihat keadaan yang semakin memperhatikan, Pendeta itu akhirnya menggendong Noel di punggungnya sampai ke kamar.
Rita yang saja terbangun dari tidurnya, dan hendak pergi ke dapur untuk mencuci muka. Telah menyadari bahwa Pendeta itu melewatinya dengan menggendong Noel.
Setelah beberapa menit, Ia terdiam dan memperhatikannya dengan tatapan matanya yang tajam. Ketika Ia mengikutinya, tanpa membasuh muka terlebih dahulu. Ia terkejut dengan kepanikan di wajah Pendeta itu, yang tidak seperti biasannya, dan kemudian ketika ditanya. Pendeta itu tidak sengaja menindih tangan Noel, bahkan Rita melihatnya dalam nada ngeri.
“Yu Wi Shing?” Ketika Rita memanggilnya, Ia berhenti mengotak-atik dapur, dan tubuhnya bergetar. “Anu~ aku sedang mencari obat” mencoba mencari-cari alasan agar tidak kena marah.
Pada dasarnya Rita tidak memarahinya. Namun, Ia sedikit kesal dengan tingkat laku sepupunya.
Membuat dapur berantakan seperti kapal lagi dihancurkan, penuh dengan berbagai macam barang berserakan di mana-mana. Ini juga diperparah oleh air keran yang masih menyala.
Bagaimanapun, Pendeta itu membutuhkan bantuan sepupunya, yang berarti Ia tidak bisa melakukannya seorang diri.
Memandangi Sepupunya yang begitu putus asa, Nafas Rita tercekat bahkan menggelengkan kepala. Dan mengeluh kesal.
“Apa ini sifat seperti pria! Yu Wi Shing, jika Anda tidak membereskannya. Aku tidak akan memberikan Anda jatah makan hari ini.!”
“Maafkan aku, Rita... aku sudah membuatnya berantakan. Nanti setelah Aku selesai, aku berjanji untuk membereskannya lagi!”