
"ya Tuhan, phobe! kenapa kau tidak pernah bisa memberiku sedikit ketenangan? ini hampir tengah malam. kalau kau tidak ingin tidur, terserah ah. tapi bisakah kau diam?"
phobe memutar bola matanya. namun entah mengapa, menurutnya tingkah kent yang mengomel saat sedang jengkel cukup lucu.
"jadi kenapa jam segini kok masih bangun?"
"huh..... karena peredup lampu, proyek itu...."
"tapi proyek itu harus dikumpulkan besok!"
phobe menunduk, malu.saat dia mendongak dan melihat seringai sombong di wajah Kent, tiba-tiba dia mendapatkan ide namun, baru saja hendak membuka mulut, seketika dia menyadari betapa kent terlihat sangat tampan,sekalipun bayang-bayang menyelubungi separuh tubuhnya karena berdiri di ambang pintu kamarnya yang gelap. itu konyol, sungguh. tidak ada siapapun yang siluetnya bisa terlihat se tampan itu.
"kau sedang melihat apa?" kent menangkap basah phobe sedang memandanginya, dan seketika menyadarkan phobe dari lamunannya.
"udh kent?"
"ya?"
"aku.... hmm...."
Kent menggeleng-geleng tidak sabar dan hampir menutup pintu kamarnya saat phobe buru-buru menahan pintu dengan tangan. kent balas menatap curiga.
"diamlah. aku sama sekali tidak punya rencana untuk masuk ke sarang aku hanya ingin minta bantuanmu"
"minta bantuan ku?"
"bisakah aku, hmmm...pinjam...hmmm, peredup lampu mu?aku tidak tahu lagi bagaimana cara menyelesaikan proyek itu. aku hanya ingin tahu bagaimana seharusnya alat itu bekerja, itu saja."
"nah, alat itu sudah tidak ada padaku. aku menyerahkannya minggu lalu."
dasar kutu buku! tapi mereka kan baru ditugaskan mengerjakan ini minggu lalu! pikir phobe
"itu saja? maaf, ya. tidak boleh minta bantuan. sekarang, jangan berisik lagi aku mau tidur.”
"kent, tunggu. kumohon."
"apa?" Kent menggaruk kepalanya,membuat rambutnya yang berantakan semakin kusut dan malam membuat ia terlihat jauh lebih sempurna.phobe merasa jengkel sekaligus terganggu karena rambut itu
"bisakah kau membantuku menyelesaikannya?"