
"Isabelle!" teriak Harley
phobe celingukan dan mendapati Harley berdiri di seberang jalan. di dekat pintu belakang sebuah hotel. cowok itu memberi isyarat kepadanya. kenapa Harley berdiri di sana? pikir phobe sambil menyebrangi jalan dengan hati-hati.
"Isabelle?"
"kau tidak pernah memberi tahu namamu, jadi aku harus memutuskan nya sendiri"
"kau melihat-lihat isi mapku, ya?" Harley mengedipkan mata kepada nya sambil membimbing nya menuju lift barang.
"kenapa kau membawaku kemari?"
kesimpulannya tidak terpikir oleh phobe saat itu juga, tapi kemudian dia sadar di mana mereka berada. phobe mendekap tasnya lalu menggeleng-gelengkan kepala seraya panik namun memutuskan untuk tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"aku bukan cewek seperti itu"
Harley tertawa dan tiba-tiba saja phobe merasa malu namun tetap saja dia harus memiliki prinsip bagaimanapun juga ia bukan hanya remaja biasa tapi juga seorang wanita yang sudah menikah-eh maksudnya cewek yang sudah menikah.
"jangan berpikiran aneh-aneh Isabelle ayahku yang mengelola tempat ini jadi kita aman di sini tidak ada yang akan sembunyi-sembunyi memotret kita lalu memasangkannya di situs-situs gosip"
ah,pikir phobe. dia mengikuti langkah Harley ke dalam lift.
"lagipula kau yang meminta bicara denganku aku hanya menuruti permintaanku saja."
phobe memutar bola matanya "baiklah" pintu lift tertutup.
"ditambah lagi aku tahu kau sudah menikah, jadi tidak ada gunanya merayu seorang wanita yang sudah menikah bukan?"
"ya Tuhan apa yang terjadi?" phobe berbicara di tengah kegelapan tangannya berusaha memegang sesuatu, atau....... seseorang. dia merasakan tangannya mendarat di dada Harley
"hai tenang dulu!" seru Harley sambil tertawa phobe menarik tangannya merasa lega karena di sana gelap sehingga Harley tidak bisa melihat wajahnya yang merona karena malu. "kurasa listriknya padam"
"ya ampun ini mimpi burukku yang paling buruk! bagaimana bisa aku terjebak di dalam lift apa yang harus aku lakukan apa aku harus menelepon?.. sial di sini tidak ada sinyal"
"yah, kita ada di ruang bawah tanah"
"kenapa kau kelihatan tenang sekali? hei kita terjebak di dalam lift" seru phobe.Harley mengeluarkan ponsel lalu mendekatkannya ke wajah agar cahaya dari layar ponsel menerangi wajahnya.
"aku tahu itu" katanya.
phobe terpukau melihat betapa tampannya cowok itu dari jarak sedekat ini tapi dia lantas menggeleng dia tidak boleh tertarik dengan cowok yang bukan suaminya.. suaminya? sial can pasti marah sekali padanya karena pulang larut malam.
"tenanglah mungkin ini tidak akan lama" kata Harley sambil duduk di lantai "duduklah sepertinya sekarang waktu yang sempurna untuk menjelaskan"
phobe ikut duduk dan menyandarkan kepalanya ke dinding "oke jadi begini ceritanya" phobe memberi tahu semuanya kepada Harley dimulai dari masa kecilnya yang dihabiskan bersama kentkarena ibu mereka bersahabat sampai pada kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kedua ibu mereka lalu perjalanan ke new Hampshire tempat dirinya dan Kent melakukan pernikahan.
"jadi maksudmu kalian tidak benar-benar bersama?" tanya Harley penasaran.
"yah lagi pula kami masih muda terlebih lagi mungkin dia sama sekali tidak menyukaiku seperti itu" sahut phobe dan dia tidak kaget lagi mendapati nada terluka dalam suaranya
"kenapa kalian tidak bercerai saja kau tahu bersikap realistis?"
"aku tidak tahu mungkin demi menghormati ibu kami ditambah lagi ayah kami pasti sangat kecewa kalau tahu bahwa kami tidak ya kau tahu Kent tidak begitu dia selalu terlihat baik di depan orang tua kami"