
"Alex-san sudah membantuku selama ini dan aku sudah tidak bisa menahannya lagi! Aku menyukaimu, Alex-san!" (Silica)
"Eh?" (Amakusa)
Amakusa adalah seseorang yang lahir dan hidup dengan hampir sama sekali tidak memiliki kisah cinta dalam hidupnya.
Ketika dia masih remaja SMA, yang dia pikirkan hanyalah belajar dan belajar agar dia bisa membantu beban keluarganya, terutama adik perempuannya.
Kemudian, ketika dia akhirnya menjadi pekerja kantoran, dia juga terlalu serius pada pekerjaannya sampai-sampai tidak pernah memikirkan perempuan sama sekali.
Bahkan Alex, satu-satunya teman dekat yang dia miliki, mengatakan kalau dia itu adalah orang yang padat akan perasaan cinta orang lain.
Namun, meskipun begitu—jika Silica mengucapkannya secara blak-blakkan seperti itu, Amakusa juga tidak punya pilihan lain selain sadar akan perasaan dia, bukan?
Tangan Silica yang memegang tangan Amakusa gemetar. Pipinya sudah lama memerah karena malu, namun kedua matanya tetap teguh dan terus menatap mata mantan pekerja kantoran itu, seolah menunggu jawaban.
"Aku—" (Amakusa)
Namun sebelum Amakusa bisa menyelesaikan perkataannya, seseorang yang dia dan Silica kenal, tiba-tiba muncul mengganggu mereka.
Itu adalah wanita tinggi dengan rambut merah pendek keriting—Rosalia.
"Oya? Bukankah ini si idol dan gigolo-nya, si cebol buronan? Melihat betapa romantisnya suasana di sini, tampaknya aku datang di waktu yang tidak tepat? Apa aku harus minta maaf?" (Rosalia)
"Rosalia-san ..." (Silica)
Silica mengerutkan kening ketika melihat mantan anggota kelompoknya itu. Dia tidak memiliki sedikitpun kesan baik tentang Rosalia. Tidak hanya telah menghina Amakusa kemarin, sekarang dia juga datang untuk mengganggu momen pentingnya.
"Apa yang kau inginkan di sini!?" (Silica)
"Tenang dulu, Silica." (Amakusa)
Amakusa melepaskan tangannya dari genggaman Silica dan mendorong bahu gadis itu mundur. Dia kemudian berdiri dan menghadap ke Rosalia.
Karena dia telah menonton anime, dia tentu saja mengerti apa yang wanita itu inginkan dengan ke sini. Terlebih, Amakusa punya dendam tersendiri pada Rosalia ini.
Dia mengepalkan telapak tangannya dengan erat, mencoba menahan emosinya untuk meluap.
"Apa kira-kira sudah tau apa yang kau inginkan. Tapi bisakah kau pergi untuk saat ini, Rosalia?" (Amakusa)
"Wah, wah, menakutkan~ Aura dari [Player Killer] yang telah menjadi buronan memang menakutkan~" (Rosalia)
Kata Rosalia, dengan nada sarkasme yang dia miliki. Berkebalikan dengan yang dia katakan, wajahnya tersenyum mengejek dan sama sekali tanpa rasa takut.
Dia kemudian menatap Silica.
"Nah, kemudian Silica. Kau sudah menggunakan si cebol ini untuk membantumu mendapatkan [Pneuma Flower], bukan? Sekarang, berikan itu padaku." (Rosalia)
"Apa ... maksudmu?" (Silica)
Silica semakin mengerutkan kening. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Rosalia ini. Meminta item yang telah Amakusa dapatkan secara susah payah untuknya secara tiba-tiba seperti ini.
Amakusa melirik Silica dan mengerti kalau gadis itu tampaknya belum mengetahui identitas asli si Rosalia. Jadi, dia berkata.
"Dia adalah [Player Killer] yang sebenarnya, Silica." (Amakusa)
"Huh?" (Silica)
"Dia adalah Rosalia, pemimpin dari guild jingga—[Titan's Hand]. Mereka terkenal dengan pembunuhan mereka yang membawa korbannya ke tempat sepi untuk mengepungnya." (Amakusa)
Silica membelalakkan matanya setelah mendengar penjelasan Amakusa. Karena dia telah lama terjebak dalam game ini, dia tentu mengerti arti dari "guild jingga".
Itu adalah julukan yang diberikan pada guild yang sebagian besar kursor anggotanya telah berubah menjadi jingga karena melukai player lain dan membunuh mereka untuk mendapatkan item korbannya.
Singkatnya, mereka adalah guild dari kumpulan [Player Killer] yang sebenarnya.
"Jadi, selama ini aku telah berkelompok dengan [Player Killer] ... ?" (Silica)
Silica ingat hari-hari yang dia habiskan bersama Rosalia saat keduanya berada di kelompok yang sama.
Ini membuat dia bertanya-tanya. Andai dia tidak keluar dari kelompoknya ketika dia kesal karena Rosalia mengambil semua item penyembuh ... apakah dia akan berakhir terbunuh olehnya?
Punggung Silica berkeringat dingin ketika mengetahui fakta itu.
Rosalia mengangkat alisnya setelah apa yang dikatakan Amakusa.
Wanita berambut merah itu kemudian menjentikkan jarinya, dan banyak dari sosok pria yang tampaknya selama ini telah bersembunyi di balik pohon—keluar.
Kecuali Rosalia, mereka semua adalah player dengan kursor jingga dan satu berwarna merah—menandakan bahwa mereka semua baru saja berkelompok mengalahkan seseorang dan membunuhnya tidak lama ini.
Rosalia menyeringai.
"Cebol, meskipun aku mengakui kau memiliki kekuatan karena bisa sampai ke Bukit Kenangan sendirian—tapi jika kau melawan orang sebanyak ini, kau tidak bisa ngapa-ngapain lagi, bukan?" (Rosalia)
Silica mengeluarkan pedangnya dari inventaris dan gemetar. Melihat begitu banyaknya [Player Killer] di hadapannya, dia juga tidak bisa menahan ketakutan yang dia miliki.
"A—Alex-san, sekarang bagaimana ini?" (Silica)
"Jangan khawatir. Aku akan membuat mereka tidak akan bisa menyentuhmu." (Amakusa)
Amakus menepuk kepala Silica. Kali ini, dia tidak peduli apakah tepukan kepalanya akan menggangu gadis itu atau tidak, tetapi tujuannya hanyalah untuk membuatnya tenang.
Dia kemudian ingin mengambil pedang dari sarung yang ada di pinggangnya, namun berhenti ketika dia menyadari sesuatu.
"Untuk melawan orang-orang ini, aku seharusnya tidak perlu mengeluarkan pedangku." (Amakusa)
"Cebol ... apa kau meremehkan kami?" (Rosalia)
Rosalia mengerutkan kening ketika dia mendengar gumaman Amakusa.
"Apa kau sudah putus asa sampai menjadi bodoh? Silica, tampaknya kau sudah tidak punya harapan lagi. Lebih baik kau dengan cepat memberikan bunga itu padaku dan setidaknya aku akan melepaskanmu." (Rosalia)
"Tidak—!" (Silica)
Silica langsung menolak.
"Ini adalah bunga yang telah didapatkan Alex-san dengan susah payah untuk menghidupkan Pina kembali! Aku tak akan menyerahkannya padamu meski nyawaku adalah bayarannya!" (Silica)
"Begitu? Tapi sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu. Kalau begitu, catatlah tanggal hari ini sebagai hari kematianmu! Kalian, serang mereka sampai mati!" (Rosalia)
Rosalia berteriak. Dia mengangkat tangannya dan para [Player Killer] yang ada di belakangnya mulai bergerak untuk menyerang.
Amakusa tetap tampak tenang. Dia lalu mendorong Silica ke belakangnya.
"Mundurlah." (Amakusa)
"Alex ... san?" (Silica)
Amakusa tidak memberi penjelasan lagi dan maju. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam, dan menyiapkan kuda-kudanya—sebagai ahli bela diri.
Alasan Amakusa tidak mengeluarkan pedang adalah bukan karena dia meremehkan mereka ataupun sudah putus asa.
Karena dari awal, Amakusa menggunakan pedang hanya untuk melawan monster di dunia ini. Dan untuk melawan sesama manusia—menggunakan tangan kosong adalah senjata terbaiknya.
Karena bagaimanapun, selain sebagai mantan pekerja kantoran, Amakusa juga adalah mantan pemegang posisi pertama di sebuah dojo seni bela diri terbaik yang ada di Tokyo.
Melawan manusia—meskipun mereka ada banyak, meskipun mereka membawa senjata juga, bahkan jika dia tidak mengandalkan levelnya yang tinggi saat ini, Amakusa yakin dia tidak akan kalah.
Lalu, [Player Killer] pertama berlari dan maju ke arah Amakusa, dengan sebuah pedang yang diayunkan di tangannya.
"Haa—!" (PK Mob 1)
Amakusa menghindari tebasan darinya dan memegang pergelangan tangan [Player Killer] itu, sebelum dia menariknya dan menaruh itu ke pundaknya—lalu membantingnya ke depan dengan memanfaatkan momentum saat lawannya menerjang ke arahnya tadi.
Itu seperti gerakan dalam seni bela diri judo.
Akibatnya, [Player Killer] pertama terjatuh ke tanah dan berkedip dengan terkejut. Semua itu terjadi dengan sangat cepat sampai dia tidak menyadari apa yang terjadi.
"Kau ..." (Rosalia)
Rosalia terkejut sampai terkesima sejenak ketika melihat gerakan Amakusa yang sangat halus saat menjatuhkan salah satu anggotanya.
Karena di dunia virtual ini rasa sakit tidak sebanding dengan rasa sakit di dunia nyata dan lebih ringan, Amakusa menyadari kalau dia tidak akan bisa membuat musuhnya tidak bergerak hanya dengan membantingnya.
Jadi, dia mengeluarkan sebuah tali dari inventarisnya dan mengikatkan itu ke [Player Killer] pertama yang telah jatuh agar dia tidak bisa bergerak.
Amakusa kemudian kembali mengangkat kepalanya dan menatap para kumpulan [Player Killer].
"Siapa yang ingin maju selanjutnya?" (Amakusa)