SAO: Astolfo Reincarnation

SAO: Astolfo Reincarnation
Bab 27:



Pagi dalam sebuah game virtual tidak ada bedanya dengan pagi di dunia nyata. Itu ramai. Seperti di penginapan tempat dimana Amakusa dan Silica tinggal saat ini.


"Kue kejunya benar-benar enak—!?" (Amakusa)


Amakusa, yang sedang sarapan di penginapan bersama Silica di depannya, berteriak dengan terkejut ketika dia mencoba kue keju sambil mengangkat topengnya keatas sedikit agar bisa makan.


Karena mereka saat ini sedang makan di dalam game, itu tidak akan mempengaruhi tubuh asli mereka di dunia nyata dan makan makanan di seharusnya tidak diperlukan.


Namun di Sword Art Online ada sistem yang bisa membuat mereka lapar dan haus jika mereka tidak mengkonsumsi apapun. Itu juga bisa membuat mereka lelah seperti di dunia nyata.


Maka dari itu, makan adalah hal yang cukup penting juga di sini. Karena mereka tidak bisa bertarung dengan perut kosong juga, kan?


"Benar kan?! Seperti yang aku bilang tadi, kue keju yang di buat di lantai ini benar-benar enak—!" (Silica)


Silica juga berteriak dengan senang ketika melihat reaksi Amakusa. Gadis itu tampaknya tidak memiliki komentar atas penampilan Amakusa yang semakin aneh karena memaksa untuk makan sambil mengenakan topeng.


"Mungkin aku harus membeli beberapa untuk temanku di lantai atas." (Amakusa)


"Ide yang bagus, Alex-san! Beli lah dan sebarkan makanan ini ke dunia!" (Silica)


Silica bersorak.


Amakusa menelan makanan yang ada di mulutnya dan tersenyum.


"Kau berbicara seolah kau yang membuat ini, Silica." (Amakusa)


"Hehe. Maaf, apakah aku terlalu berlebihan?" (Silica)


Silica tertawa kaku sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


Amakusa menggelengkan kepalanya.


"Tidak juga. Aku hanya senang kau semangat." (Amakusa)


Amakusa kemudian menengok jam dinding yang ada di penginapan dan merasa bahwa ini waktunya untuk mereka berangkat.


Dia memiliki janji dengan Silica bahwa dia akan pergi ke Bukit Kenangan dan membangkitkan familiar-nya. Karena ada batas waktu juga, dia harus bergegas.


"Kita akan berangkat sekarang, Alex-san?" (Silica)


Silica berkata, menebak setelah dia membaca tindakan Amakusa yang melihat waktu.


Amakusa mengangguk saat dia telah menyelesaikan makanannya dan menaruh uang di meja.


"Yah, karena kita hanya memiliki waktu tiga hari, kita harus bergegas secepatnya. Tapi sebelum itu, kau harus mengganti armormu dulu, Silica. Meskipun yang kau pakai saat ini mungkin cukup untuk lantai ini, di atas itu tidak akan berguna lagi. Terima lah ini." (Amakusa)


Berkata seperti itu, Amakusa kemudian membuka panel game-nya dan memberikan beberapa armor ke Silica.


"E—Eh? Sebanyak ini?" (Silica)


Silica terkejut ketika dia melihat armor yang diberikan Amakusa. Apalagi itu semua memiliki status yang tinggi. Dia merasa pusing hanya dengan menerimanya.


"Yah, lebih baik jaga-jaga kan? Ngomong-ngomong kau tidak perlu mengembalikannya. Itu adalah sesuatu yang tak akan kupakai lagi juga sih." (Amakusa)


"Apa Anda yakin dengan itu ...?" (Silica)


Silica berkata dengan ragu.


Amakusa mengangguk. Dia kemudian berjalan keluar penginapan dan Silica mengikuti mantan pekerja kantoran itu dari belakang saat dia masih memilah-milah armor yang diberikan padanya.


"Alex-san benar-benar orang yang sangat baik ..." (Silica)


"Hm?" (Amakusa)


"A—Ah, tidak apa. Hanya bicara sendiri." (Silica)


Kemudian, saat keduanya terus berjalan dan Silica terus menatap punggung Amakusa, dia terkejut ketika mantan pekerja kantoran di depannya itu tiba-tiba berhenti, membuatnya hampir bertabrakan jika dia tidak berhenti juga.


"A—Ada apa, Alex-san?" (Silica)


Silica menengok ke depan. Tampaknya Amakusa tidak sengaja menabrak seseorang ketika mereka berada di tikungan.


"Maaf." (Amakusa)


"Bocah, kalau jalan lihat pakai mata—huh?" (???)


Orang yang ditabrak oleh Amakusa adalah seorang wanita tinggi dengan rambut keriting berwarna merah pendek.


Silica terkejut ketika melihat orang itu.


Bagaimanapun, orang itu adalah orang yang berselisih dengan Silica tentang masalah pembagian item penyembuhan sebelum dia memasuki Hutan Labirin sendirian.


Namanya adalah Rosalia.


"Hoooo? Bukankah ini adalah gadis idola kita semua, si Silica~? Jadi kau masih bisa kembali hidup-hidup setelah memasuki hutan itu? Syukurlah bukan?" (Rosalia)


Rosalia berkata, dengan nada ejekan dalam kata-katanya. Dia lalu memandang Silica yang pendek dari atas dan memperhatikan sesuatu.


"Hm? Kemana kadal yang biasa ada di sekitarmu itu? Haha! Jangan-jangan ... dia sudah mati?" (Rosalia)


Ditertawakan dengan kejam oleh Rosalia, Silica menggigit giginya sendiri. Dia berusaha untuk menahan amarahnya.


Gadis itu mengangkat kepalanya.


"Aku pasti akan menghidupkan Pina kembali!" (Silica)


Karena Amakusa sudah tahu siapa Rosalia dan masalah apa yang dia miliki dengan Silica, sebelum keduanya mulai menjadi panas lagi, dia mengangkat tangannya di depan kedua perempuan itu.


Sementara itu, menggunakan tangannya lain, dia diam-diam mengepalkan tinjunya dengan erat seolah mencoba menahan emosinya untuk meledak.


"Aku minta maaf karena telah menabrakmu tapi bisakah kau membiarkan kami lewat? Kami sedang buru-buru soalnya." (Amakusa)


Rosalia mengangkat alisnya. Dia mengalihkan perhatiannya ke Amakusa yang mengenakan topeng dan merasa sedikit bingung.


"Huh? Apa kau adalah ... orang yang tergoda oleh pesona murahan Silica juga? Kau itu pria atau bukan? Tidak hanya mengenakan pakai topeng mencurigakan ... kau juga cebol." (Rosalia)


Bibir Amakusa berkedut. Tangannya yang terkepal gemetar, seolah siap untuk meninju siapa saja. Namun dia tetap berusaha untuk tersenyum dan membalas.


"Cebol? Apa maksudmu itu? Bukankah itu hanya karena kau sendiri yang terlalu tinggi, Mbak? Ini pertama kalinya aku melihat wanita setinggi Anda. Pasti sulit ya untuk mencari pria yang mau dengan tipe unik seperti Anda." (Amakusa)


"Ap—!?" (Rosalia)


Rosalia tersendat. Jujur, dia memiliki kompleks dengan tinggi yang dimilikinya. Jadi ketika dia mendengar kata-kata Amakusa, itu langsung menusuk tepat ke luka yang ada di hatinya.


"B—Berani juga kau mengatakan itu, bocah." (Rosalia)


Rosalia terdorong mundur. Dia kemudian dengan tergesa-gesa mengalihkan pandangannya ke Silica.


"S—Silica, kau bilang tadi kau ingin pergi menyelamatkan kadal mu itu bukan?" (Rosalia)


"Huh?" (Silica)


Rosalia berkata dengan seringai di wajahnya.


"Apa itu berarti kau akan ke Bukit Kenangan? Karena aku yakin kau tidak mungkin bisa naik ke lantai atas sendirian apa itu berarti kau akan digendong bocah ini? Demi kebaikanmu, aku sarankan kau untuk tidak melakukannya." (Rosalia)


Dia melanjutkan dan memasang wajah mengejek.


"Apa kau tidak merasa curiga? Mengenakan topeng untuk menyembunyikan wajahnya ... Tidak pernahkah kau berpikir bahwa dia adalah seorang [Player Killer] yang telah menjadi buronan?" (Rosalia)