SAO: Astolfo Reincarnation

SAO: Astolfo Reincarnation
Bab 24:



"Ayo, pegang tanganku." (Amakusa)


"Terima kasih." (Silica)


Amakusa tersenyum saat dia mengulurkan tangan pada Silica dan diterima oleh gadis itu. Dia kemudian menariknya dan membantunya duduk di punggung Hippogriff, di belakangnya sebagai penumpang.


Setelah suasana canggung karena Amakusa mengelus kepala Silica tadi, keduanya kemudian memutuskan untuk tidak membahas itu lagi dan mantan pekerja kantoran itu pun langsung mengajak gadis itu untuk menaiki Hippogriff.


"Lembut!" (Silica)


Silica berkata, ketika dia merasakan bulu-bulu yang menelan pahanya tepat setelah dia menunggangi Hippogriff dengan bantuan Amakusa.


Dia lalu menatap Amakusa dan bertanya.


"Oh iya, aku lupa menanyakan ini tetapi siapa nama Anda?" (Silica)


"Aku adalah—" (Amakusa)


Awalnya Amakusa mau bilang kalau namanya adalah Astolfo, namun berhenti ketika menyadari jika dirinya itu masih sedang dalam penyamaran.


Karena tentu saja dia tidak bisa membeberkan identitasnya sebagai pemimpin salah satu guild terbesar di game ini ketika dia dalam pelarian, Amakusa menyentuh dagunya sejenak dan berpikir untuk membuat nama samaran juga.


Dia bisa saja memperkenalkan diri dengan nama aslinya—Amakusa, sebagai nama samaran tetapi dia merasa tidak nyaman untuk membeberkan identitas aslinya. Jadi, dia mencari ide nama lain dan menemukannya setelah beberapa detik.


Amakusa memutuskan untuk menggunakan nama sahabatnya.


"Aku adalah Alex. Kalau kau?" (Amakusa)


"Kalau aku adalah Silica." (Silica)


"Silica, huh?" (Amakusa)


Bergumam mengucapkan nama Silica, Amakusa diam-diam menghela nafas lega di dalam hati karena tidak mengulangi kesalahan yang sama di bab 2, dimana dia memanggil nama Kirito padahal remaja itu belum memperkenalkan dirinya.


Amakusa kemudian memegang tali yang dia ikatkan pada Hippogriff untuk mengendalikan burung itu.


"Kemudian Silica, karena kita akan terbang, bisakah kau menggunakan pinggangku sebagai pegangan agar kau tidak terjatuh?" (Amakusa)


"Pinggang ..." (Silica)


Silica menatap pinggang Amakusa yang ramping, rambutnya merah mudanya yang cantik yang dikuncir kuda, serta wajahnya—walaupun ditutup topeng, bibir cantik yang dia lihat saat mantan pekerja kantoran itu membuka topengnya sedikit tidak bisa dilupakan olehnya.


Silica tiba-tiba menjadi gugup.


"A—Alex-san, untuk jaga-jaga tetapi Anda adalah seorang wanita, bukan?" (Silica)


"H—Huh!? K—Kenapa kau bisa berpikir seperti itu!? Aku mengenakan celana, tentu saja aku laki-laki!" (Amakusa)


Amakusa sangat terkejut ketika dia mendapat pertanyaan mendadak dari Silica. Dia memandang gadis itu dengan aneh. Walaupun Astolfo memang sangat imut dan menyerupai seorang gadis, jika dia sudah berdandan seperti laki-laki seperti ini, tidak mungkin akan ada orang yang salah mengenai gendernya kan?


"Laki-laki ..." (Silica)


Meskipun Silica sudah menduga Amakusa akan menjawab seperti itu, hatinya masih merasa agak syok. Karena bagaimanapun, laki-laki mana yang bisa terlihat se-feminim ini!?


Silica lalu memandang pinggang Amakusa lagi. Dia agak ragu karena ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan lawan jenis, tetapi pada akhirnya dia mengulurkan kedua tangannya dan memeluk pinggang pria (?) di depannya itu.


Memikirkannya lagi, ini terasa agak aneh. Karena pada akhirnya, kepalanya tadi sudah dielus oleh Amakusa dan dia merasa kenikmatan. Kenapa sekarang dia merasa ragu hanya untuk memeluk pinggangnya?


Amakusa melirik wajah Silica dari sudut matanya. Mantan pekerja kantoran itu tampaknya memahami hati gadis yang memeluk pinggangnya.


".... Entah bagaimana, maaf untuk semuanya. Membuatmu memeluk seorang pria sepertiku pasti tidak akan nyaman buatmu, kan? Jika kau mau, kau bisa menganggap diriku sebagai gadis untuk sementara kok, agar hatimu menjadi lebih nyaman." (Amakusa)


"T—Tidak apa! Begini saja sudah nyaman! Aku sama sekali tak keberatan!" (Silica)


Silica tergagap, dan wajahnya memerah kembali. Dia tampaknya merasa malu karena pikirannya telah dibaca oleh Amakusa.


Dia kemudian menekan wajahnya ke punggung Amakusa untuk menyembunyikan rasa malunya itu.


"Y—Ya!" (Silica)


Silica memeluk Amakusa dengan lebih erat dan mantan pekerja kantoran itu pun menggunakan satu tangannya untuk memegang lengan gadis itu, menjaganya agar tidak terjatuh.


Amakusa lalu memegang tali yang diikatkan pada Hippogriff dengan erat—dan menariknya, memerintah burung mitos yang dia tumpangi itu untuk terbang.


Hippogriff mendengus. Dia kemudian mundur beberapa langkah, dan kembali berlari ke depan dengan cepat. Sayapnya terbuka dan dia mulai melompat.


"—Bersiap!" (Amakusa)


"Uwaaaaah—!" (Silica)


Silica menutup matanya dengan takut dan cengkraman dia pada Amakusa semakin kuat.


Hippogriff membawa keduanya ke langit. Angin dari atas menerjang kedua penumpangnya hingga bisa membuat mereka jatuh kapan saja.


Namun seolah sudah menduga ini, Amakusa langsung mengeluarkan sebuah perisai yang menempel di tangan kirinya dan memblokir semua angin itu.


Akibatnya, dia dan Silica berhasil tidak terhempas saat Hippogriff menerjang ke langit.


Kemudian, setelah mereka benar-benar di atas langit dan kecepatan Hippogriff mereda saat dia berhasil terbang sambil mengepakkan sayapnya dengan perlahan, angin yang meniup mereka pun mulai mereda juga.


Amakusa menurunkan tangan perisainya. Dia lalu menatap Silica dan berkata.


"Sekarang kau boleh membuka matamu kok." (Amakusa)


"...." (Silica)


Mendengar suara Amakusa melalui telinganya, awalnya Silica masih tidak berani sepenuhnya membuka kedua matanya dan hanya bisa membuka satu sisi saja.


Namun, setelah dia melihat pemandangan melalui satu matanya, dia langsung membuka matanya yang satu lagi dan membuka itu lebar-lebar.


Di langit, bulan yang biasanya kecil sekarang terlihat menjadi lebih besar. Bintang-bintang juga terlihat lebih bersinar, tanpa dihalangi oleh awan.


Hanya ada satu kata yang bisa dikeluarkan saat Silica melihat ini.


"—Indah ...!" (Silica)


"Benar, bukan?" (Amakusa)


Amakusa tersenyum puas dari balik topengnya setelah melihat ekspresi terpesona dari gadis yang ada di belakangnya itu.


Dia lalu ikutan memandang langit.


"Ini adalah pemandangan yang tak ternilai harganya. Jumlah orang yang bisa melihat pemandangan ini bahkan bisa dihitung menggunakan jari. Selain orang-orang terdekat dari kelompok ku, kau adalah orang luar pertama yang aku perbolehkan untuk naik ke sini, Silica-san." (Amakusa)


"...." (Silica)


Silica terdiam, dia tidak menjawab. Itu karena dia tidak tahu harus mengatakan apa setelah Amakusa berbicara seperti itu.


Namun, mantan pekerja kantoran itu tampaknya tidak menunggu jawabannya dan melanjutkan.


"Ngomong-ngomong, kita akan turun di kota terdekat dimana aku menginap. Apa tidak apa?" (Amakusa)


"Ah, iya. Karena aku juga tinggal di kota itu, jadi tidak apa-apa." (Silica)


"Kemudian pegangan. Aku akan turun di sini sekarang." (Amakusa)


Mendengar itu, Silica memandang Amakusa dengan bingung.


"Bukankah kota masih jauh di sana? Kenapa kita malah turun di sini?" (Silica)


"Itu ... Aku punya beberapa alasan ..." (Amakusa)


Sebenarnya Amakusa sebisa mungkin ingin terjauh dari kota saat membawa Hippogriff. Karena jika dia terlihat oleh player saat menaiki monster besar yang mencolok dan sebuah rumor mengenai dirinya tersebar, guild-nya mungkin akan menyadari kalau dia ada di sini.