SAO: Astolfo Reincarnation

SAO: Astolfo Reincarnation
Bab 21:



Setelah mengantarkan para kelompok [Kuroneko] ke tempat asal mereka, Kirito kembali ke ruangan tempat Amakusa mengerjakan dokumen bersama Asuna.


"As— Ketua, aku telah kembali." (Kirito)


Namun, dokumen yang tadinya tertumpuk tak beraturan di meja Amakusa, sekarang tampak telah selesai semuanya dengan Asuna yang merapikan itu.


Kirito melihat wajah Amakusa yang serius menatapnya sejak dia kembali di sini. Pemimpin guild itu menyatukan kedua tangannya dan menaruh dagunya di sana. Duduk di meja kerja, matanya menjadi gelap.


"Aku sudah lama menahan ini ... jadi aku akan langsung ke intinya saja, Kirito." (Amakusa)


"....." (Kirito)


Kirito menelan ludah. Ini bukan pertama kalinya dia mengalami hal ini tetapi dia masih tidak bisa menghilangkan perasaan gugup di hatinya.


Amakusa melanjutkan.


"Kirito, sudah level berapa kau sekarang?" (Amakusa)


".................. Enam puluhan." (Kirito)


Mata Amakusa menjadi tajam dan semakin gelap.


"Apa kau tidak ingat aturan pertama guild kita, Kirito? Yaitu untuk tidak pernah menyembunyikan apapun yang akan merugikan guild. Jika kau menyembunyikan level mu seperti ini, kau akan membuat susah dirimu dan kami juga kedepannya." (Amakusa)


Kirito berkeringat. Dia mengalihkan pandangannya dari mata Amakusa, tidak berani menatap pemimpin guild-nya.


Asuna kemudian datang berkata setelah dia merapikan dokumen yang diselesaikan Amakusa.


"Katakan saja, Kirito. Jika kau berbohong seperti itu, kau malah akan menghambat kami di penaklukan lantai kedepannya." (Asuna)


Kirito menggigit bibirnya. Apa yang dikatakan Asuna benar. Menyembunyikan kekuatan asli hanya akan membawa bencana jika dia bertarung dalam grup.


Tapi apa itu benar-benar tidak apa?


Jadi, dia menarik nafas dalam-dalam.


"...... Aku sudah mencapai level delapan puluh empat." (Kirito)


"......." (Amakusa)


Wajah Amakusa menjadi gelap sepenuhnya. Dia lalu berdiri dari mejanya. Dia menarik udara ke dalam paru-parunya, kemudian berteriak dengan sekuat tenaga.


"SIALAAAAAAAAAAAN—!!" (Amakusa)


Asuna menutup telinganya dengan tenang dan Kirito juga ikutan.


Amakusa menatap Kirito. Dari kedua sudut matanya, bisa terlihat ada air mata yang keluar di sana.


Dia tampak benar-benar kesal. Jarinya menunjuk ke ujung hidung remaja berambut hitam itu.


"Kenapa semakin hari dan hari level mu meningkat jauh lebih tinggi dariku, Kirito!? Sementara aku masih stuck di level enam puluhan, level mu sudah naik setinggi itu! Padahal aku yang menjadi pemimpin di sini! Kenapa malah aku yang jadi terendah?!" (Amakusa)


"M—Mungkin itu karena Ketua jarang grinding akhir-akhir ini?" (Kirito)


"Ya, itu sebabnya! Setiap kali aku ingin menaikkan levelku, aku malah selalu mendapatkan dokumen yang harus aku urus! Hari ini juga, padahal aku niatnya mau berlibur tetapi malah mendapat dokumen lagi! Aku lalu sudah menaklukkan banyak bos bersama kalian untuk menaiki lantai tetapi karena aku jarang mendaratkan hit, exp yang kudapat adalah yang paling sedikit! Kalau begini terus, bagaimana aku bisa menaikkan level!?" (Amakusa)


Asuna terus menutup telinganya. Ini bukan pertama kalinya Amakusa mengeluh seperti ini dan dia telah terbiasa untuk menahan. Dia bisa menahan ini .... tapi karena hari ini suara ketuanya itu terlalu keras, dia tidak sengaja membalas.


"Bukankah itu karena Ketua tidak terlalu berguna dalam pertarungan? Kecepatan Anda memang luar biasa tetapi setelah itu apa? Serangan Anda hampir tak terasa dan pertahanan Anda lemah. Sekali Anda maju ke pertempuran dan Anda kena hit dari bos, kita semua yang akan susah." (Asuna)


Amakusa menatap Asuna dengan tatapan berkaca-kaca seolah dia tidak menyangka wakil ketuanya akan melawan dia seperti ini.


Melihat itu, Asuna jadi langsung menyadari kesalahannya dan berkata.


"—Tidak Astolfo-san, bukan itu maksudku!" (Asuna)


Asuna tidak sengaja keceplosan memanggil Amakusa dengan namanya.


Amakusa menangis. Wajahnya memerah, tampak seperti anak kecil yang keinginannya ditolak oleh kedua orang tuanya.


"S—Sudah, Ketua. Kalau kau sangat ingin menaikkan level mu, bagaimana kalau kita ke lantai atas sekarang? Asuna, dia sudah mengurus dokumennya kan?" (Kirito)


Kirito memanggil Asuna tanpa tambahan "-san" seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Karena dalam satu guild yang sama dan kadang melakukan pekerjaan yang sama, Kirito semakin akrab dengan gadis itu sampai tidak perlu menggunakan sufiks saat memanggilnya.


Asuna mengangguk dengan cepat.


"Oi ..." (Kirito)


Kirito menatap Asuna dengan padangan "tidak perlu mengatakan sebanyak itu", membuat gadis itu menyadari kalau dia telah membuat kesalahan lagi.


"M—Maaf, lupakan saja itu Astolfo-san! Kalau ada dokumen yang datang pasti akan aku tunda sampai kalian menyelesaikan grinding!" (Asuna)


"......" (Amakusa)


Amakusa mengusap air matanya. Kirito dan Asuna berpikir dia akan mengamuk lagi tetapi pemimpin guild itu hanya menarik nafas dengan tenang dan berkata—


"Cukup. Aku akan pergi saja." (Amakusa)


"Eh?" (Asuna)


"Eh?" (Kirito)


Duo itu terkejut secara bersamaan. Namun sebelum mereka bisa bertanya apa yang dimaksud dengan pergi, Amakusa dengan cepat melanjutkan.


"Aku akan pergi berpetualang untuk menaikkan level ku. Kalian berdua tidak perlu ikut denganku. Aku akan menyerahkan tugas untuk mengurus guild padamu dulu, Asuna." (Amakusa)


"E—Eh? T—Tunggu!" (Asuna)


Asuna terlambat dalam menghentikan Amakusa. Mantan pekerja kantoran itu kemudian membuka panel friendlist dan melakukan unfriend pada dia dan Kirito.


"Kalau begitu, aku akan pamit pergi." (Amakusa)


Amakusa membuka jendela besar yang ada di belakang meja kerjanya. Dia pertama mengeluarkan sebuah benda berbentuk tanduk yang sepertinya peluit, lalu meniupnya dengan kencang hingga menghasilkan suara yang keras.


Asuna menutup telinganya. Karena jendela terbuka, angin dari luar memasuki ruangan dan menerbangkan semua dokumen yang ada di meja serta rambut cokelatnya yang panjang.


"Tunggu, Ketua! Bagaimana dengan misi penaklukan lantai atas besok!?" (Asuna)


"Biarkan Heathcliff dan guild-nya yang mengurus itu. Kita sudah melakukan perjanjian kerja sama kemarin kan?" (Amakusa)


Setelah mengatakan itu, Amakusa kemudian melompat dari jendela. Namun, saat dia terjatuh dia langsung ditangkap oleh sesosok hewan besar yang seperti elang dengan empat kaki. Itu adalah—


"Hippogriff—!" (Amakusa)


Hippogriff yang dipanggil Amakusa itu mendengus. Sayapnya mengepak dan dia melaju dengan cepat, membawa keduanya terbang pergi menjauh dari markas.


"—Kita harus dengan cepat mengejarnya. Kirito, cepat kumpulkan para anggota yang telah menjadi "teman" Ketua, kita akan melacak kemana dia akan pergi." (Asuna)


Asuna membuka panel game-nya untuk menghubungi anggota yang lain juga. Dia lalu ingin berjalan keluar ruangan tetapi bahunya dipegang oleh Kirito, menghentikan dia.


"Tunggu, mari kita biarkan Ketua pergi sejenak." (Kirito)


"Hah?" (Asuna)


Asuna menatap Kirito dengan ekspresi kesal seolah-olah mengatakan "apa yang sih kau bicarakan?", hingga membuat remaja berambut hitam itu mundur sedikit karena terintimidasi.


Tapi dia melawan rasa takutnya dan tetap melanjutkan.


"Astolfo-san—maksudku Ketua, dia sudah terlalu banyak bekerja akhir-akhir ini. Mari kita biarkan dia mendapat hari liburnya sejenak." (Kirito)


Asuna mengerutkan kening.


"Kemudian bagaimana dengan urusan guild? Ketua memang telah menyerahkan itu padaku tetapi jika tidak ada dia, ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan." (Asuna)


"U—Untuk masalah itu, m—mari kita tunda saja, oke? Kita akan menunda hal yang hanya bisa dilakukan oleh Ketua sampai benar-benar mepet, sebelum kita mencarinya." (Kirito)


Kirito berkata.


"Selain itu ... ini juga tidak baik tidak memberi istirahat pada Ketua padahal dia sudah bekerja sebanyak itu. Anggota lain pasti akan memahaminya jika kita menjelaskan baik-baik kalau Ketua sedang pergi." (Kirito)


"....." (Asuna)


Asuna diam. Kata-kata Kirito ada benarnya juga kali ini. Dia sebenarnya juga tidak ingin memberi banyak Amakusa tekanan dan ingin memberinya hari libur juga tetapi guild semakin hari semakin membesar dan hanya dia yang bisa mengurus itu.


Pada akhirnya, gadis berambut cokelat itu menghela nafas dan berkata.


"Baiklah, kita akan menahan untuk mencari Ketua sampai benar-benar mepet. Tapi karena pasti akan ada banyak pekerjaan yang harus di urus sewaktu beliau pergi, kau akan ikut membantu denganku, Kirito." (Asuna)


"E—Eh!?" (Kirito)