SAO: Astolfo Reincarnation

SAO: Astolfo Reincarnation
Bab 14:



Amakusa melihat Diavel berlari menuju bos sendirian sambil menahan player lain untuk tidak maju.


Pada awalnya, tadi malam saat di kamar, Amakusa berpikir untuk menyelamatkan Diavel dari nasib kematiannya.


Tapi itu bukan karena Diavel sendiri, melainkan karena setelah kematian pria itu, para player akan menyalahkan Kirito karena tidak bisa menyelamatkan dia padahal dia adalah beta tester.


Amakusa bahkan sudah menyiapkan banyak potion lagi untuk menahan bos agar dia bisa menyelamatkan Diavel dari kematiannya.


Namun, pada saat melihat Diavel yang ditelan oleh keserakahannya sendiri, Amakusa tidak bisa berkata apa-apa selain membiarkan mulutnya terbuka menganga.


"Kenapa manusia bisa sebodoh ini?" (Amakusa)


Amakusa tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Dia menebas kobold mob yang dia lawan saat ini dan menatap kebodohan Diavel dengan seksama. Kakinya sama sekali tidak bergerak, tidak berniat untuk menyelamatkan pria berambut biru itu sama sekali walau dia tau pria itu akan terbunuh.


Karena bagaimanapun, tindakan Diavel saat ini seperti ingin mengirimkan nyawanya sendiri ke Tuhan. Dan Amakusa tidak bisa menghentikan orang yang ingin mati.


Kemudian seperti yang diharapkan, Diavel ditebas oleh nodachi milik Kobold Lord. Dia terpental ke belakang dengan luka besar di dadanya.


"Aaaaaaaahhhh—!?" (Diavel)


"Diavel!?" (Kirito)


Kriito berlari untuk menangkap tubuh Diavel yang terjatuh. Beruntung dia cukup cepat, jadi HP pria berambut biru itu belum sampai ke titik nol.


Dia dengan tergesa-gesa mengambil potion namun tangannya ditahan Diavel sendiri saat dia ingin meminumkannya.


Itu membuat Kirito bingung.


"Diavel ...?" (Kirito)


Diavel dengan gemetar menahan potion yang diserahkan padanya.


"Kau itu ... seorang beta tester juga, bukan? Aku bisa mengetahuinya." (Diavel)


Kirito membelalakkan matanya. Dia berkeringat, saat dia akhirnya menyadari kenapa Diavel menahan para player dan ingin menyerang sendiri.


"... Kau mengincar last hit pada bos untuk mendapat bonus barang yang langka. Apa kau serang beta tester juga?" (Kirito)


Diavel tersenyum lemah.


"Tolong ... kalahkan bos-nya. Demi semua orang ..." (Kirito)


Setelah itu, tubuh Diavel pecah menjadi partikel berkeping tanpa meninggalkan sisa.


Kirito mengepalkan tangannya dengan erat.


Sejak pertama kali game ini dimulai, dia tidak pernah memikirkan keselamatan siapapun kecuali dirinya sendiri.


Dia masih ingat momen ketika dia berpisah dengan Klein yang memilih untuk bersama teman-temannya, serta Astolfo-san yang meninggalkan dirinya karena merasa tidak enak dengannya.


Namun Diavel, dia adalah orang yang berbeda dari dia. Walau dia adalah seorang beta tester, tapi dia tidak pernah meninggalkan para player lain dan membantu mereka untuk terus maju.


Kirito merasa malu kepada dirinya sendiri.


Dia ingat ketika waktu pertemuan kemarin, Amakusa yang rela maju ke panggung untuk berdebat dengan Kibaou untuk melindunginya.


Dia tau Amakusa sudah mengatakan kalau alasan dia maju ke panggung adalah untuk membela dirinya sendiri, tetapi Kirito tidak percaya.


Itu memang terlihat tanpa dasar tetapi dia juga sudah tak peduli lagi.


'Karena bagaimanapun, yang pasti aku bukanlah seorang beta tester yang pantas untuk dibela Astolfo-san. Aku hanya manusia egois yang mementingkan diriku sendiri tanpa berusaha untuk membantu player lain, tidak seperti Diavel.' (Kirito)


Kirito berdiri, dan menggenggam pedang yang ada di tangannya dengan lebih erat. Dia kemudian berbalik.


Para player, yang telah kehilangan pemimpin dan menyaksikan kematiannya secara langsung, secara alami gemetar karena tidak ada yang memerintah mereka lagi.


Kirito ingin maju untuk melawan bos. Tapi, sebelum dia bisa melakukan itu, sebuah sosok berambut merah muda panjang berlari dengan cepat dari belakangnya, membuat jubah putih yang orang itu pakai berkibar dengan suara keras.


Tentu saja, sosok itu adalah Amakusa.


"Astolfo-san ...?" (Kirito)


Kirito terkesima, bingung dengan apa yang sedang ingin dilakukan Amakusa.


Asuna, yang sedang mengurus salah satu mob, mengalihkan pandangannya ke Amakusa dan memiliki pertanyaan yang sama seperti Kirito.


Kemudian, mantan pekerja kantoran itu melompat ke tengah-tengah kerumunan player yang masih gemetar, dan menghadang bos agar tidak menyerang mereka.


Dia lalu berteriak tanpa menoleh ke belakang.


"Kalian jangan melamun! Cepatlah mundur ke belakang!" (Amakusa)


Para player awalnya bingung. Apa yang sedang dilakukan gadis (?) ini untuk maju sendirian pada saat seperti ini?


Namun, mereka tidak bisa menanyakan itu. Mereka baru saja kehilangan Diavel, dan mereka hanya bisa mundur mengikuti perintah Amakusa ketika mereka melihat orang yang tampak bisa diandalkan.


Kobold Lord menatap Amakusa, dan juga sebaliknya.


Yang pertama kemudian meraung, dan mulai melompat dari tembok ke tembok lain, dengan kecepatan yang mengerikan seolah-olah tubuh besarnya itu bukanlah halangan baginya untuk menjadi gesit.


Tapi Amakusa juga tidak akan kalah hanya dengan kecepatan.


Sejak Kobold Lord melompat, matanya dengan cekatan mengikuti gerakannya dan saat bos itu jatuh melompat ke arahnya sambil memanfaatkan gaya gravitasi, Amakusa mundur dengan cepat.


Dia tidak membiarkan bos itu menjatuhinya dan membuat lantai yang kokoh dari ruangan ini pun rusak, hancur saat Kobold Lord yang dalam mode berserk jatuh di sana.


Namun, serangan tidak selesai di sana. Nodachi yang ada di tangan bos bukanlah pajangan semata. Dia kemudian mengayunkan itu ke Amakusa.


Walau Amakusa sudah melompat jauh ke belakang, dengan jangkauandari pedang nodachi yang panjang, jarak itu dengan mudah tercapai.


Beruntung karena sudah menduga serangan itu, Amakusa lalu melompat untuk membiarkan nodachi melewati tempatnya, sebelum dia berlari menuju Kobold Lord untuk akhirnya melepaskan satu tebasan ke tubuhnya.


Bos lantai pertama itu meraung. Walau itu hanyalah satu tebasan kecil yang bahkan tidak terlalu dalam, serangan tetaplah serangan dan HP-nya berkurang.


Kobold Lord yang sudah memasuki mode berserk semakin menggila.


"Hebat." (Kirito)


Kirito tidak bisa menahan pujiannya, saat dia melihat sosok Amakusa yang dengan tenang melawan bos.


Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Meskipun Amakusa tampak di atas angin, Kirito tidak yakin apakah dia bisa memenangkan ini.


HP bos sudah terkuras banyak dan sudah mencapai warna merah. Namun, damage yang diberikan oleh Amakusa juga terlalu kecil. Jika dia bisa mempertahankan kondisi ini dengan terus menghindar dan menyerang, dia mungkin menang tetapi bagaimana jika dia gagal?


Kirito ingat apa yang dikatakan Amakusa, bahwa meskipun dia memiliki kecepatan yang tinggi, serangan dan pertahanannya lemah.


Jika Amakusa terkena satu serangan dari Kobold Lord, bagaimana nantinya? Bukankah dia akan langsung tamat?


Jadi, Kirito menguatkan tekadnya lagi dan menggenggam pedangnya.


"Aku akan membantu Astolfo-san." (Kirito)


"Jangan tinggalkan aku." (Asuna)


Asuna, yang masih memakai jubah untuk menutupi wajahnya, berdiri di samping Kirito setelah dia mendengar pria itu bergumam.