
Sebenarnya, Amakusa tidak memiliki alasan yang jelas ketika dia memerintah Kirito untuk mencari guild [Kuroneko]. Karena bagaimanapun, dia pikir mereka mungkin sudah mati karena kecerobohan mereka sendiri.
Namun siapa sangka mereka bisa bertahan bahkan sampai saat ini.
Amakusa memerintah Kirito untuk mencari mereka karena dia dulu berpikir untuk menyelamatkan mereka. Meskipun dia bukan orang suci, dia setidaknya ingin menyelamatkan karakter dari anime yang dia sukai.
Tapi saat memerintahkan Kirito waktu itu, Amakusa hanya berpikir dengan ringan. Jadi tidak bisa dikatakan dia benar-benar ingin menyelamatkan mereka.
"Selain itu ... Kenapa Astolfo-san bisa mengetahui kami? Aku tidak ingat kami pernah berhubungan dengan guild Anda." (Sachi)
"...." (Amakusa)
Amakusa menyilangkan lengannya. Baiklah, alasan apa yang harus dia buat kali ini? Mengatakan kalau dia mengetahui mereka dari anime adalah di luar pilihan.
Setelah berpikir selama beberapa detik, Amakusa akhirnya menemukan sebuah alasan.
"Itu ... Itu sebenarnya karena kalian telah menyelamatkan salah satu anggota guild-ku dari monster saat sebelum dia masuk ke sini. Kalian mungkin tidak ingat karena dia mengatakan dia kabur setelah kalian menghadapi monster tersebut. Setelah mendengar ceritanya, aku menjadi tertarik dengan kalian dan beginilah jadinya." (Amakusa)
Amakusa berkata. Dia mengucapkan sebuah cerita omong kosong dari mulutnya tanpa berkedip sama sekali.
Di sisi lain, Asuna dan Kirito yang mendengar cerita Amakusa tidak merasa curiga. Walaupun ini pertama kalinya mereka mendengar ini, anggota guild mereka adalah tak terhitung. Jika memang ada salah satu dari anggota mereka yang telah diselamatkan oleh kelompok [Kuroneko], itu tak akan aneh.
Sachi dan kelompoknya juga tampak menerima cerita yang dikatakan Amakusa.
"Apa ... begitu? Kalau begitu bisakah aku meminta kami bertemu dengannya? Aku ingin berterima kasih padanya karena telah memberitahu tentang kami kepada guild Anda ..." (Sachi)
"Hey!" (Keita)
Keita ingin memukul kepala Sachi karena gadis itu mengatakan hal yang tidak-tidak lagi. Namun, itu dihentikan oleh angkatan tangan Amakusa yang duduk di depan.
"Tidak apa. Tapi ... kupikir aku tidak akan bisa memenuhi permintaanmu itu." (Amakusa)
"Kenapa?" (Sachi)
"Karena dia sudah mati." (Amakusa)
"Eh?" (Sachi)
Sachi terdiam, dan seluruh orang yang ada di ruangan ini terdiam. Mereka kemudian diingatkan lagi kalau dunia ini adalah dunia yang bisa memakan nyawa orang kapan saja dengan mudah.
Meskipun Amakusa adalah player hebat yang memiliki sejarah dalam membuat rencana tanpa mengorbankan salah satu player pun di misi penaklukannya, jika player itu tidak mengikuti rencana yang dia buat maka tidak ada yang bisa dilakukan.
Nyawa mereka sangat mudah untuk direbut dan robek seperti kertas tipis di dunia ini.
..... Sebenarnya ada alasan kenapa Amakusa malah harus mengerjakan dokumen di sini.
Padahal, tiap lantai yang memiliki markas dari guild-nya seharusnya diatur oleh pemimpin yang telah dipilih. Dokumen ini juga seharusnya digarap oleh pemimpin lantai ini dan bukan Amakusa.
Jadi hanya ada satu jawaban—itu karena pemimpin lantai ini telah mati juga. Dia terlalu sombong karena mencoba memasuki dungeon yang ada di atasnya sendirian tanpa memeriksa dulu yang akhirnya menyebabkan dia mati.
Itu adalah cara mati yang umum, namun masih terlihat sangat bodoh bagaimanapun kau melihatnya. Orang-orang dimakan kesombongan mereka dan kematian adalah bayarannya.
Akibatnya, karena di sini tidak ada pemimpin pengganti yang untuk lantai ini, dokumen yang ditinggalkan pemimpin sebelumnya juga menumpuk hingga akhirnya diserahkan pada Amakusa saat dia berkunjung ke sini untuk berlibur.
"Apa ini adalah semuanya? Apa kau masih memiliki pertanyaan lain yang ingin kau ajukan?" (Amakusa)
"U—Uhm, tidak! Hanya itu saja yang ingin aku tanyakan. Terima kasih, Astolfo-san." (Sachi)
Sachi tergagap. Dijatuhi sebuah fakta yang berat, dia tidak punya pilihan lain selain berhenti.
Amakusa lalu menoleh ke anggota [Kuroneko] yang lain, seolah bertanya apakah mereka memiliki pertanyaan juga—yang kemudian dijawab oleh gelengan kepala Keita.
Kirito lalu mengambil alih.
"Kalau begitu, karena urusan kalian di sini sudah selesai ... Apa ini waktunya untuk mengundurkan diri?" (Kirito)
"A—Ah, ya! A—Astolfo-san, terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk kami!" (Keita)
"Jangan khawatir. Bagaimanapun kalian akan menjadi anggota guild-ku nanti. Tidak perlu terlalu gugup seperti itu. Selain itu, terima kasih juga karena kalian sudah mau untuk bergabung." (Amakusa)
"....." (Keita)
Keita terdiam. Saat dia melihat senyum Amakusa yang berterima kasih padanya, seolah ada Dewi Cinta yang menembakkan panah pada hatinya, jantungnya berdegup dengan kencang dan pipinya memerah.
"Keita?" (Sachi)
"Y—Ya! Kemudian kita akan pamit dulu." (Keita)
Keita terbangun oleh panggilan Sachi dan dengan tergesa-gesa pamit.
Kirito lalu memimpin mereka untuk keluar dari ruangan. Namun, sebelum remaja berambut hitam itu benar-benar keluar, dia mendengar suara Amakusa yang memanggil dia dari belakangnya.
Wajah mantan pekerja kantoran itu terlihat sangat serius.
"Kirito, setelah kau mengantarkan mereka ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau bisa kembali lagi dengan cepat?" (Amakusa)
".... Baiklah." (Kirito)
Kirito hampir tidak menjawab.
Jujur, Ini bukan pertama kalinya Amakusa memanggilnya dengan ekspresi seperti itu. Dan kira-kira, dia sudah menebak apa yang orang itu ingin bicarakan dengannya.
Suasana hati Kirito tiba-tiba anjlok. Dia bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan nanti.
Asuna yang ada di samping Amakusa juga menghela nafas dalam diam. Dia memijat pelipisnya dengan lelah seperti pemimpinnya tadi.
"Ketua, sebelum Kirito kembali ke sini, mari kita selesaikan dokumennya dengan cepat." (Asuna)
Amakusa mengangguk dan mengambil dokumen yang ada di tangannya lagi, lalu memilah-milahnya. Namun kali ini, entah bagaimana kecepatannya dalam memilah bertambah dua kali lipat daripada yang biasanya.
...
Turun ke lantai bawah, Kirito kembali mengantarkan kelompok [Kuroneko] ke tempat mereka berasal.
"Kami benar-bena berterima kasih karena telah mengundang kami ke guild mu, Kirito-san." (Keita)
"Tidak apa-apa. Jadi apa aku harus memberikan kalian uangnya sekarang ... atau kalian masih akan berpikir dulu mau membeli rumah atau tinggal di markas kami?" (Kirito)
"Ya. Kami akan coba memikirkan itu dulu." (Keita)
Kirito tersenyum mendengar Keita berkata seperti itu.
"Bagus. Tapi cobalah untuk tinggal di markas kami dulu. Besok akan ada salah satu anggota dari guild yang akan menjemput kalian, jadi aku harap kalian bisa bersiap-siap. Setelah itu, kalian bisa memikirkan mau membeli rumah atau tinggal di markas kami." (Kirito)
"Entah bagaimana maaf karena telah banyak merepotkan." (Keita)
"Jangan khawatirkan itu, Keita. Aku juga senang karena guild kami mendapat anggota baru. Aku harap kalian betah karena bergabung dengan kami." (Kirito)
Kirito melanjutkan.
"Kalau begitu, karena ini sudah waktunya, aku akan pamit pergi dulu." (Kirito)
"T—Tunggu!" (Keita)
Keita, tiba-tiba menghentikan Kirito yang ingin pergi—membuat remaja berambut hitam itu memandangnya dengan bingung.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" (Kirito)
"Y—Ya. Kirito-san ... A—Aku bertanya-tanya sampai kapan Astolfo-san akan tinggal di markas itu ...? S—Setidaknya dia tidak akan langsung kembali besok, kan?" (Keita)
"...." (Kirito)