
"Yosh! Dengan ini semuanya telah lengkap!" (Amakusa)
Berdiri di depan sebuah cermin yang ada di kamar penginapan, Amakusa memandangi penampilan barunya dan mengangguk puas.
Setelah kaburnya dia dari guild, dia turun ke lantai yang lebih bawah untuk kabur dari kejaran anggotanya dan akhirnya berakhir di sini.
Sekarang dia mengenakan pakaian yang benar-benar berbeda dari biasanya. Jika biasanya dia mengenakan jubah putih bersama dengan pakaiannya yang membuatnya terlihat feminim, saat ini dia mengenakan pakaian yang membuatnya terlihat lebih seperti laki-laki.
Ikal dari rambutnya telah dilepas dan diganti dengan sebuah kuncir kuda. Jaket hitam dia pakai untuk menggantikan jubah putih, kemudian dipasangi celana hitam panjang yang mengganti roknya yang biasa.
Jaket dan celana hitam yang dia pakai sekarang memang adalah item yang lebih rendah tetapi ini demi penyamaran.
Tidak lupa, dia juga mengenakan sebuah item berupa topeng putih yang memiliki fungsi untuk menyembunyikan nickname miliknya serta lambang guild yang dia masuki.
"Sekarang tidak ada seorang pun dari guild yang akan menemukanku jika aku menggunakan penampilan ini!" (Amakusa)
Meskipun dia malu karena merengek karena kalah level dengan Kirito dan sedikit menyesali apa yang dia lakukan, dia senang karena telah kabur dari guild.
Setidaknya dia bisa berlibur sejenak dari tumpukan dokumen seperti ini.
"Walaupun, pastinya aku tidak boleh berlibur terlalu lama. Aku memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin, dan aku tidak boleh meninggalkan orang yang telah bergabung denganku." (Amakusa)
Amakusa kemudian berjalan dan membuka pintu penginapan.
"Tapi mari kita jangan pikirkan itu. Untuk sekarang, ayo bersantai!" (Amakusa)
Dengan itu, petualangan Amakusa di dunia virtual ini—telah dimulai kembali!
....
Lantai 35, di sebuah Hutan Labirin.
Seorang gadis kehabisan nafas, terengah-engah. Melawan kumpulan monster gorila yang mengerumuni dia, gadis itu terpojok.
Nama dia adalah Silica.
'Aku seharusnya tidak sombong ... Hanya karena direbutkan, itu bukan berarti aku kuat.' (Silica)
Tangan Silica yang memegang belati sudah gemetar. Salah satu monster gorila mengangkat gada yang terbuat dari kayu dan membantingnya ke tubuh gadis itu.
Silica ingin menghindar, tetapi tidak bisa. Akibatnya, dia terpental ke belakang dan menabrak pohon besar yang ada di sana. HP-nya langsung turun ke warna merah.
"Kyuu—!" (???)
Sebuah sosok kadal-naga kecil yang ada di samping Silica berteriak dan bersinar, menggunakan kekuatan yang dia miliki untuk menyembuhkan HP gadis itu kembali ke warna kuning.
"Terima kasih, Pina." (Silica)
Silica berterima kasih. Naga mini itu adalah Pina—dia adalah monster yang telah dijinakkan sebagai familiar miliknya dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan tuannya.
Silica tersenyum lelah.
"Aku mungkin sudah habis dari tadi jika tidak ada dirimu." (Silica)
"Kyu~!" (Pina)
Silica lalu memandang tas yang awalnya tempat dia menyimpan item penyembuh, sekarang telah kosong. Dia lalu memandangi monster gorila yang tampaknya masih belum terluka sedikit pun.
'Sekarang, aku harus bagaimana ini?' (Silica)
Salah satu monster gorila mengangkat gada kayunya lagi fan Silica secara reflek, melompat untuk menghindari serangan itu.
Namun, sebelum dia mendapatkan nafasnya kembali, monster gorila lain yang telah menebak arah lompatan gadis itu, menunggunya di tempat dia melompat dan menyerangnya.
Silica melakukan jungkir balik ke belakang untuk menghindari itu.
Di dunia nyata, dia seharusnya tidak bisa melakukan gerakan mewah seperti yang dia lakukan sekarang. Tetapi, karena ini adalah dunia virtual Sword Art Online, dia bisa meningkatkan kekuatan yang dia miliki dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak bisa dia lakukan.
Hanya saja setelah dia melakukan jungkir balik, di belakang Silica, ada monster gorila lain yang menunggunya.
"Kyuuu—!" (Pina)
Pina melindungi Silica dari serangan menggunakan tubuhnya yang kecil. Serangan itu sangat kuat dan karena HP familiar tidak sebanyak player biasa, naga mini itu langsung jatuh dari tempatnya—terbaring di tanah dengan ekspresi kesakitan.
"Pina!" (Silica)
Silica berteriak histeris dan langsung menghampiri familiar-nya. Pina sekarang seharusnya bisa disembuhkan jika dia memberikan item penyembuhan. Namun karena semua item itu sudah habis dia pakai ...
HP Pina turun ke titik nol.
Monster gorila mulai mengerumuni Silica yang masih fokus ke kepergian familiar miliknya. Salah satu dari mereka mengangkat gada mereka lagi dan—
Mereka semua berubah menjadi cahaya putih, lalu pecah berkeping-keping menjadi partikel.
Kemudian, di balik para monster gorila yang telah mati itu, ada sesosok pria (?). Itu adalah sosok yang mungkin seorang pria, namun memiliki rambut merah muda panjang seperti wanita yang di kuncir dengan gaya rambut kuda.
Mengenakan topeng putih untuk menyembunyikan wajahnya, jaket hitam yang dia pakai berkibar saat dia kembali memasukan pedangnya ke sarungnya.
"E—Eh?" (Amakusa)
Itu adalah Amakusa yang mengenakan setelan samarannya.
Karena dia turun ke lantai yang lebih rendah, mencari tempat untuk leveling pada levelnya saat ini adalah hal yang sulit. Maka dari itu, setelah Amakusa meninggalkan penginapannya dia terbang menaiki Hippogriff dan mencari tempat dengan monster level tinggi.
Akibatnya dia berakhir di Hutan Labirin ini.
Namun dia tidak menyangka akan bertemu salah satu karakter yang ada di anime.
'D—Dia adalah Silica, bukan? Karena aku tidak mengingat dengan jelas tanggal dan bulan pada saat dia muncul, ini benar-benar kebetulan yang menakutkan untuk bertemu dengan dia ketika aku ke sini.' (Amakusa)
Amakusa kemudian menghampiri Silica. Dia melihat gadis itu terisak saat memandangi sebuah helai bulu berwarna biru yang ada di tanah.
Amakusa menyadari itu adalah Pina yang telah mati.
' ..... Aku telat untuk menyelamatkan familiar-nya, huh?' (Amakusa)
Ini membuat Amakusa sedikit menyesal diam-diam di dalam hatinya karena telat untuk datang menyelamatkan nyawa teman gadis kecil itu.
Amakusa lalu merendahkan dirinya, menyamakan tingginya dengan Silica yang berlutut di tanah. Dia mengulurkan tangannya.
"Hei, apa kau tidak apa-apa?" (Amakusa)
Silica memandang Amakusa yang mengenakan topeng. Matanya berkaca-kaca dan dia kemudian mulai menangis.
"Pi—Pina ... Dia telah mati ..." (Silica)
"..... Maaf." (Amakusa)
Amakusa merasa bertanggung jawab dan agak bersalah. Andai saja dia datang lebih cepat tadi ...
Mantan pekerja kantoran itu menghela nafas.
Pada akhirnya, semuanya berjalan seperti yang ada di anime.
'Padahal niatku kabur dari guild adalah untuk berlibur dan menaikkan levelku. Tetapi kalau begini, aku tidak punya pilihan lain.' (Amakusa)
Amakusa kemudian mengulurkan tangannya ke bulu Pina yang ada di tangan Silica dan menyentuhnya, mengungkapkan bahwa bulu itu adalah sebuah item yang memiliki nama.
"Eh ....?" (Silica)
Silica terkejut dengan apa yang dilakukan Amakusa. Dia menatap pria (?) bertopeng di sampingnya dengan pandangan bingung.
Amakusa langsung dengan cepat berkata.
"Familiar mu masih bisa diselamatkan. Wilayah selatan di lantai empat puluh tujuh, ada sebuah area bernama Bukit Kenangan. Di puncaknya, jika ada sebuah bunga yang mekar di sana, bunga itu bisa digunakan untuk menghidupkan familiar siapapun yang telah mati. .... Ayo kita ke sana bersama." (Amakusa)