SAO: Astolfo Reincarnation

SAO: Astolfo Reincarnation
Bab 16:



"Aku yakin ada beta tester lainnya yang bersembunyi di sini! Keluarlah!" (Player A)


Setelah Player A mengatakan itu, para player lain saling memandang satu sama lain, menaruh curiga.


Bahkan ada beberapa yang memandang Amakusa dengan curiga juga.


Kirito melihat semua ini. Dia mengepalkan tangannya dengan erat.


'Kalau begini terus ...' (Kirito)


Kalau begini terus, para player di sini yang telah bersatu untuk keluar dari game ini akan buyar karena rasa saling curiga pada satu sama lain.


Usaha Diavel untuk mengumpulkan mereka semua akan menjadi sia-sia.


'Apalagi Astolfo-san akan lebih diperhatikan dan dicurigai setelah ini. Lagipula dia yang rela maju ke panggung pertemuan kemarin hanya untuk melindungi beta tester ...' (Kirito)


Kirito menggerakkan gigi.


Dia sebenarnya mendapat ide cara untuk mengatasi masalah ini. Tapi dia masih belum dapat menguatkan tekadnya untuk melakukannya.


Singkatnya Kirito berencana untuk mengorbankan diri dengan mengakui dirinya sebagai beta tester, terus membuat para player membencinya agar mereka semua tidak saling mencurigai lagi.


Lagipula identitasnya sebagai beta tester memang sudah disadari oleh Kibaou. Tidak ada kerugian kan, kalau dia mengaku lagi sebagai beta tester di depan para player?


Punggung Kirito berkeringat dingin. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dia lalu berdiri dan—


Bahunya ditepuk oleh tangan seseorang.


Kirito melihat wajah Amakusa yang tersenyum di sampingnya.


"Astolfo-san?" (Kirito)


"Manusia memanglah makhluk yang bodoh. Mereka selalu mencari orang lain untuk disalahkan hanya demi meringankan beban hati mereka. Itu tidak bisa dihindari karena memang begitulah manusia yang diciptakan. Mereka diatur untuk tidak sempurna. Tapi ... Kirito, itu bukan berarti kau harus mengorbankan dirimu hanya untuk mereka." (Amakusa)


Amakusa menepuk kepala Kirito dan mengacak-acak rambut remaja itu.


"Lihatlah dengan baik. Biarkan aku menunjukkan padamu, bagaimana cara orang dewasa menghadapi dunia ini." (Amakusa)


Amakusa kemudian berdiri.


Tubuh Amakusa yang telah berpindah ke tubuh Astolfo memanglah terlihat kecil. Namun, di mata Kirito, ketika dia melihat punggungnya dari belakang saat ini, dia memiliki ilusi kalau itu adalah punggung yang lebar. Itu sangat lebar, sampai terlihat menjadi tempat yang nyaman untuk bersandar.


Asuna yang ada di dekat mereka berdua juga tidak bisa menahan diri untuk tidak terpesona ketika melihat sosok Amakusa. Dia terus memperhatikan dan bertanya-tanya apa yang ingin orang itu lakukan.


Amakusa bertepuk tangan dengan sangat keras dan itu dengan jelas menarik perhatian semua player yang masih saling curiga.


"Semuanya, boleh aku meminta perhatian~? Aku Astolfo di sini ingin berbicara." (Amakusa)


Kibaou terkejut ketika melihatnya.


"A—Astolfo?! A—Apa yang ingin kau lakukan kali ini!? A—Apa kau ingin melindungi beta tester seperti kemarin!? Kalau kau melakukan itu, kau akan dicurigai juga—" (Kibaou)


"Cukup. Dari awal, aku memanglah beta tester." (Amakusa)


Amakusa melengkungkan bibirnya.


"Ap—" (Kibaou)


Kibaou terkejut lagi, dan Kirito yang ada di belakang juga memiliki emosi tidak jauh berbeda.


'Apa yang ingin Astolfo-san lakukan? Dia tidak berpikir untuk mengorbankan diri dengan menjadikan dirinya pusat kebencian seperti yang aku rencanakan tadi, kan ...?' (Kirito)


Amakusa melanjutkan.


"Apa kalian tidak merasa aneh? Selain Kirito, di awal tadi aku melawan bos dengan cukup baik, bukan? Player biasa tidak akan bisa melakukan itu. Jadi satu-satunya jawaban adalah aku seorang beta tester juga." (Amakusa)


Dia mengatakan kebohongan yang sama ketika dia pertama kali bertemu Kirito dan Klein.


Lagipula ini sudah jelas, dia adalah pekerja kantoran yang mati dan kemudian tiba-tiba menjadi Astolfo di dunia ini. Bagaimana dia bisa menjadi beta tester?


Kirito samar-sama juga merasakannya.


'Walau Astolfo-san mengatakan dia adalah beta tester, dia tetaplah pemula. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, dia lari terbirit-birit dari monster pemula. Aku ragu dia bahkan pernah menginjakkan kakinya di ruangan bos lantai pertama ini saat Beta Test.' (Kirito)


Pikirnya.


'Sejak game ini dimulai, dia pasti sudah melakukan banyak grinding sendirian sampai bisa mengimbangi bos ini. Dia tidak mengandalkan pengetahuannya sebagai beta tester sepertiku.' (Kirito)


Kibaou memandang Amakusa dengan ekspresi tak percaya.


"Bagaimana bisa ...? K—Kalau begitu, apa kau yang bertanggung jawab atas kematian Diavel!? Kenapa kau tidak menyelamatkan dia jika kau tahu teknik bos itu tadi!?" (Kibaou)


"Tanggung jawab, huh? Jika kau mengatakannya seperti itu, maka mungkin benar aku yang bertanggung jawab atas kematiannya. Tapi, sebenarnya tidak ada yang bisa disalahkan atas kejadian ini." (Amakusa)


Amakusa berkata, dia menatap mata Kibaou.


"Lagipula, Diavel sendiri yang masih berani maju walau kita semua bisa melihat kalau senjata kedua yang dikeluarkan bos bukanlah talwar, melainkan nodachi. Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya?" (Amakusa)


"I—itu ... itu ..." (Kibaou)


Kibaou tergagap dan tidak bisa menyangkal perkataan Amakusa.


Kenapa Diavel malah maju sendiri walau dia sudah melihat kalau senjata kedua bos berbeda dengan yang ada di buku?


Bahkan, dia menghentikan semua player agar tidak ada yang menyerang padahal rencana awal mereka adalah mengepung bersama-sama saat bos sudah mengganti senjatanya.


Apa ada alasan di balik semua itu?


"Itu karena Diavel adalah beta tester sepertiku." (Amakusa)


Amakusa menjawab, seolah dia mengetahui apa yang dipikirkan Kibaou.


"Sebenarnya, kau akan mendapatkan hadiah bonus jika kau mendapat last hit. Dan Diavel mengincar itu. Itulah sebabnya dia maju sendirian dan menghentikan kalian semua." (Amakusa)


"Tidak mungkin ..." (Kibaou)


Kibaou tampak frustasi.


"Jika benar-benar ada orang yang harus disalahkan atas kematian Diavel, maka orang itu adalah dirinya sendiri." (Amakusa)


Semua player yang ada di ruangan ini terdiam. Mereka tidak bisa menyangkal perkataan Amakusa.


Kibaou memukul lantai menggunakan kepalan tangannya. Air mata jatuh dari sudut matanya.


"Tapi aku masih tidak terima! Aku tidak terima bagaimana ini berakhir! Kalau begini, Diavel seperti mati sia-sia ...!" (Kibaou)


Amakusa diam. Dia lalu menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya lagi.


"Kalau begitu, mari kita buat ini menjadi tidak sia-sia!" (Amakusa)


"Huh?" (Kibaou)


Kibaou mengusap air matanya dan mendongak dengan bingung. Di depannya, dia melihat Amakusa menyeringai padanya.


"Mari kita semua bersatu, agar kematiannya tidak menjadi sia-sia. Dia sudah mengumpulkan kalian sebanyak ini, jika kita semua buyar hanya karena kematiannya, apa yang akan dia katakan jika dia melihat ini dari Surga?" (Amakusa)


Amakusa lalu menatap semua orang.


"Mari kita buat guild! Mari kita buat guild, yang meneruskan tujuan awal dari Diavel saat dia mengumpulkan kalian! Kita akan terus maju, maju, dan maju, sampai kita bisa menamatkan dan keluar dari game yang telah memenjarakan kita semua ini!" (Amakusa)


Pada saat itu, tidak ada player yang bicara. Mereka semua ragu-ragu. Meskipun Amakusa sudah mengatakan semua itu, mereka tetap ...


Kemudian, satu player mengangkat tangannya. Itu adalah seorang pria botak berbadan besar dengan kulit gelap, Egil. Dia maju dari kerumunan player dan berbicara.


"Aku akan bergabung dengan guild itu. Seperti katamu, saat ini kita hanya bisa terus maju. Berdiam diri tidak akan mengubah nasib kita juga lagipula." (Egil)


Melihat Egil yang tanpa ragu untuk bergabung, para player langsung kehilangan keraguan mereka.


"K—Kemudian aku juga." (Player A)


"Diavel-san sudah memimpin kami untuk mengalahkan bos ... aku tidak ingin usahanya untuk itu menjadi sia-sia. Aku akan bergabung juga!" (Player B)


"Aku juga sama! Aku akan bergabung!" (Player C)


Amakusa tersenyum bahagia ketika melihat para player mulai berkerumun di sekitarnya. Dia benar-benar harus berterima kasih kepada Egil karena telah membantu dia untuk kedua kalinya ini.


Dia lalu menatap Kibaou, seolah ingin melihat apakah pria itu akan bergabung dengannya juga.


Kibaou menggertakkan gigi, dia tampak berpikir dan ragu apakah dia harus bergabung apa tidak. Namun, setelah beberapa detik dia akhirnya menghela nafas dan berbicara.


"... Aku akan bergabung." (Kibaou)


Amakusa menyatukan telapak tangannya, bertepuk.


"Kalau begitu sudah diputuskan! Aku akan menamai guild yang baru saja dibentuk ini sebagai [The White Paladin]!" (Amakusa)


Amakusa berkata.


"Alasan Diavel mati adalah karena dia menyembunyikan statusnya sebagai beta tester-nya. Maka dari itu agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, aku menambahkan kata white dalam nama guild kita. Kita adalah putih bersih! Kita tidak akan menyembunyikan suatu rahasia yang akan membuat guild kita rugi! Apa ada salah satu dari kalian yang keberatan dengan ini?" (Amakusa)


""Tidak!!"" (Para Player)


"Bagus!" (Amakusa)


Amakusa mengangguk.


"Kemudian untuk arti Paladin ... Itu hanya seleraku dan tidak ada arti khusus di dalamnya. Apakah itu jelek?" (Amakusa)


Amakusa menggaruk kepalanya sambil tersenyum lemah saat dia mengatakan itu, yang membuat para player tertawa ketika melihatnya.


"Tidak ada yang keberatan!" (Player A)


"Percaya diri saja dengan nama yang kau berikan, Astolfo-san!" (Player B)


"Itu nama yang bagus kok!" (Player C)


Amakusa tersenyum. Dia lalu menoleh ke belakang dan menatap Asuna, dengan Kirito yang terperangah di sampingnya.


"Kalian berdua tentunya akan bergabung juga, kan?" (Amakusa)