SAO: Astolfo Reincarnation

SAO: Astolfo Reincarnation
Bab 31:



Keesokan harinya, di lantai bawah di penginapan yang sama di lantai 46.


Beruntung bagi Amakusa, Kibaou dan teman satu guild-nya tidak memutuskan untuk tinggal di penginapan ini.


Jadi, dia bisa dengan leluasa sarapan di penginapan ini.


Namun, ini tidak seperti Amakusa benar-benar bahagia saat ini.


Karena bagaimanapun, Silica—yang sedang duduk di meja yang sama dengannya, memakan roti sarapan dengan wajah tanpa ekspresi dan matanya sama sekali tidak mau memandang Amakusa.


Amakusa berkeringat.


"Tetang masalah tadi malam ... aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja waktu itu." (Amakusa)


Silica terbatuk-batuk, ketika dia tersedak roti yang dia makan. Dia meminum air gelas yang ada di meja dengan tegukan besar.


"A—Apa kau baik-baik saja?" (Amakusa)


Amakusa memandangnya dengan khawatir. Dia entah bagaimana merasa Dejavu dengan ini.


Silica menggelengkan kepalanya untuk memberitahu bahwa dia baik-baik saja dan menatap Amakusa dengan wajah memerah dan kesal—tampak seperti kucing yang ekornya baru saja injak.


"S—Sudah kubilang untuk tidak membahas ini lagi kan, Alex-san!?" (Silica)


"Maaf ..." (Amakusa)


Amakusa mengalihkan mukanya dan menggaruk pipinya yang ada di balik topeng dengan perasaan bersalah.


Tentang kejadian tadi malam, dia memang benar-benar tidak sengaja. Akibat terkejut atas keberadaan Kibaou yang diluar dugaan, dia secara reflek bersembunyi dengan tergesa-gesa hingga secara tak sengaja menjepit Silica ke dinding.


Apa yang dia lakukan pada gadis itu sangat mirip dengan tindakan "kabe-don" yang sering dilakukan oleh pemeran pria dalam manga Shoujo yang pernah Amakusa baca dulu.


Itu membuat Amakusa sangat malu ketika dia menyadari bahwa dia—seorang pria yang hampir mencapai usia 30-an melakukan tindakan seperti itu pada gadis muda seperti Silica.


'Seperti kata Silica, mungkin lebih baik bagiku untuk tidak membahas masalah ini lagi ...' (Amakusa)


Memutuskan itu dalam pikirannya, Amakusa mengambil roti sarapan yang di miliki dan memasukan itu dalam mulutnya.


Namun, sementara dia sedang fokus makan seperti itu—Silica bergumam dengan suara yang sangat kecil saat gadis itu menundukkan kepalanya.


"Tapi itu benar-benar membuat jantungku hampir copot, tahu." (Silica)


"Huh?" (Amakusa)


Amakusa menatap gadis itu dengan bingung ketika dia merasa dia telah mendengar sesuatu tadi.


"T—Tidak ada apa-apa! Lanjutkan sarapannya, Alex-san!" (Silica)


"Y—Ya ..." (Amakusa)


Amakusa bingung. Tetapi, karena dia tidak ingin membuat Silica lebih marah lagi, dia memutuskan untuk mengikuti kata-kata gadis itu dan melanjutkan sarapannya.


Silica menatap Amakusa secara diam-diam, dan bergumam, namun dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.


"Bodoh." (Silica)


"... ?" (Amakusa)


Amakusa bingung kembali. Kenapa Silica tiba-tiba mengatainya bodoh?


...


Keluar dari gerbang teleportasi, Silica membuka matanya dan terkejut—karena di depannya adalah sebuah tempat yang luar biasa, dipenuhi dengan berbagai bunga.


"Indah—!!" (Silica)


Amakusa, yang menduga reaksi Silica akan bahagia seperti ini melengkungkan bibirnya. Dia kemudian menjelaskan.


Silica tak mendengarkan. Dia sudah berlari ke taman yang dipenuhi oleh berbagai bunga dan berjongkok, mencoba mencium bau dari harumnya bunga virtual yang tak ada bedanya dari harum bunga asli.


Gadis itu lalu mengangkat kepalanya dan ingin mengecek bunga lain—namun ketika matanya menatap para player yang ada di tempat ini juga, dia kaku.


Karena bagaimanapun, Silica menyadari bahwa tempat ini bukanlah taman bunga biasa, namun juga taman untuk para player yang berpacaran bermesraan.


Silica bertanya-tanya. Bagaimana pandangan para pasangan yang ada di tempat ini ketika mereka memandang dia dan Amakusa, yang ke sini?


Apakah mereka ... memandang mereka seperti sepasang kekasih yang ke sini untuk berkencan juga?


Sekejap, ingatan tentang tadi malam kembali teringat dan wajah Silica berubah menjadi sepenuhnya merah.


Tidak menyadari apa yang ada di pikiran Silica— Amakusa, dia datang dari belakang gadis itu dan berjongkok bersamanya.


Itu membuat Silica tergagap.


"A—Alex-san—?" (Silica)


"Baunya benar-benar harum, bukan? Meskipun aku lelaki, aku juga tidak bisa menahan diri untuk tidak terpesona oleh bunga-bunga ini ..." (Amakusa)


Amakusa berkata. Matanya penuh dengan pandangan nostalgia. Tanpa sadar, dia memetik salah satu bunga yang ada di depannya.


"Itu membuatku teringat ketika aku baru datang ke lantai ini bersama anggota ku. Semua player perempuan yang ada di kelompokku langsung terpesona dan bergembira ketika melihat pemandangan yang dipenuhi oleh bunga ini. Kami bahkan berisitirahat di sini selama berjam-jam untuk menikmati pemandangan ..." (Amakusa)


Amakusa kemudian berdiri. Dia lalu menyerahkan bunga yang baru saja dia petik itu ke tangan Silica dan melanjutkan.


"Kemudian, ayo kita lanjut?" (Amakusa)


"...." (Silica)


Silica memandang bunga yang ada di tangannya dengan kosong. Dia mengangguk, mengikuti perkataan Amakusa tanpa sadar dan berdiri—namun berhenti ketika dia menyadari hal penting.


"T—Tunggu, Alex-san! "Anggota ku" itu maksudnya ... Maksudnya, mungkinkah Anda dulunya seorang pemimpin guild!?" (Silica)


"...." (Amakusa)


Amakusa tersendat ketika sadar bahwa dirinya baru saja keceplosan. Namun setelah beberapa detik berpikir, dia menyadari bahwa dia sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan ini.


Lagipula, kerugian apa yang bakal dia alami kalau Silica mengetahui identitasnya? Ini tidak seperti Amakusa berencana selamanya menyamar dan kabur dari guild-nya. Identitasnya akan terungkap cepat atau lambat.


Jadi, mantan pekerja kantoran itu mengangguk dan menjawab.


"Bukan "dulunya" saja. Sampai sekarang pun aku masih menjadi pemimpin guild di lantai atas." (Amakusa)


"I—Ini mengejutkan ..." (Silica)


Silica sudah melupakan rasa malunya ketika mengingat kejadian tadi malam. Saat ini, matanya hanya tertuju pada Amakusa—yang dipenuhi dengan rasa ingin tahunya pada orang itu.


Silica kemudian tersenyum.


"Tapi kalau itu guild yang dipimpin oleh Alex-san ... itu pasti adalah guild yang hebat." (Silica)


"Ya. Itu benar-benar guild yang hebat ..." (Amakusa)


Amakusa mengingat perjalanan yang telah dia lalui setelah membentuk guild [The White Paladin]. Meskipun banyak tantangan dan kesulitan, itu benar-benar menyenangkan karena dia bisa sampai sejauh ini.


'Bahkan guild yang aku buat bisa menyaingi Heathcliff yang notabenenya adalah seorang pembuat game ini sendiri. Ini membuatku menyadari ... bukankah aku ini hebat?' (Amakusa)


Silica terus memandang Amakusa. Kemudian, setelah berpikir selama beberapa detik, dia bertanya.


"Kalau Alex-san adalah pemimpin dari guild atas yang hebat ... kenapa Anda berada di lantai bawah seperti ini? Apalagi sendirian. Apakah memang, Anda memiliki urusan yang sangat penting sampai harus turun sendiri?" (Silica)


"Ah—" (Amakusa)


Amakusa kaku. Dia kemudian ingat lagi, meskipun dia adalah pemimpin dari sebuah guild besar—kenyataan bahwa dia adalah seseorang yang menyedihkan yang merengek karena levelnya baru saja disalip tidak berubah.