SAO: Astolfo Reincarnation

SAO: Astolfo Reincarnation
Bab 15:



"Astolfo-san, kami akan membantu!" (Kirito)


"Hm?" (Amakusa)


Amakusa, yang mendengar suara Kirito dari belakang saat dia masih bertarung dengan Kobold Lord, mengangkat alisnya dan menoleh ke belakang untuk melihat remaja berambut hitam itu berlari ke arahnya bersama dengan Asuna.


Amakusa tersenyum.


"Itu akan sangat membantu, Kirito!" (Amakusa)


Dia lalu melompat mundur dan membiarkan Kirito maju bersama Asuna, untuk menghadapi Kobold Lord.


Dia tidak khawatir dengan anak laki-laki itu untuk menghadapi bos. Karena jika dia memiliki pengalaman seperti yang ada di anime, maka tak akan ada masalah.


Kobold Lord mendengus, perhatiannya masih diarahkan pada Amakusa. Dia sama sekali tidak peduli dengan dua sosok yang melaju ke arahnya.


Melihat itu sebagai kesempatan, Kirito kemudian melompat ke arahnya dan menebas daging lengan kiri bos itu.


"Ke sini!" (Kirito)


Kata Kirito, memprovokasi bos yang diprogram oleh AI itu.


Kobold Lord terkejut dengan rasa sakit yang tiba-tiba. Dia meraung lagi dan akhirnya melepaskan fokusnya dari Amakusa, lalu dialihkan ke Kirito yang menyakitinya.


Dia terus meraung.


Bos itu lalu membuat sebuah kuda-kuda dan nodachi yang ada di genggamannya bersinar, sebelum dia melesat menuju Kirito.


Kirito berteriak.


"Asuna-san, kita akan menggunakan strategi giliran seperti yang kita lakukan saat melawan mob tadi!" (Kirito)


Asuna mengangguk dan berlari ke belakang punggung Kirito. Dia menyiapkan rapier-nya.


Kirito menggenggam pedangnya dan mengangkat itu. Kobold Lord sudah berada di depannya, nodachi di tangannya terangkat dan jatuh membentur pedang remaja itu.


"Ugh!" (Kirito)


Walau dia berhasil menahan serangan itu dan tidak mendapat damage, Kirito tetap terpental ke belakang setelah menerimanya.


Tapi pikirannya tetap tidak goyah. Dia telah melakukan tugasnya dan sekarang-


"-Asuna-san, switch!" (Kirito)


Rapier Asuna sudah siap. Karena tangan Kobold Lord yang memegang nodachi juga terpental setelah menyerang Kirito, perutnya yang besar terbuka lebar tanpa pertahanan.


Jadi, tanpa keraguan Asuna langsung mengarahkan rapier-nya ke sana.


Namun, Kobold Lord yang dalam mode berserk tidak bisa diremehkan dan disamakan seperti mob yang mereka lawan sebelumnya. Walau tangannya masih terpental, dia dengan cepat mendapatkan posisinya kembali untuk mengayunkan nodachi-nya.


"Asuna-san!" (Kirito)


Kirito panik.


Entah itu karena keberuntungan atau karena Asuna sudah memperhitungkan itu, serangan dari Kobold Lord sama sekali tidak mengenai tubuhnya dan hanya merusak jubahnya.


Akibatnya, wajah Asuna yang selama ini tertutup, akhirnya terbuka setelah jubahnya hilang, memperlihatkan rambut panjang berwarna cokelat miliknya yang cantik.


Rapier Asuna tidak berhenti. Itu kemudian menusuk perut Kobold Lord dengan rapi hingga membuat bos itu meraung dan mundur.


Kirito awalnya khawatir tetapi setelah serangan Asuna berhasil, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji.


'Good job!' (Kirito)


Kirito kembali merasa positif. Karena tidak memiliki waktu hanya untuk menonton, dia lalu kembali berdiri dan berlari menuju Kobold Lord.


Selagi bos terpukul mundur, Kirito tidak ingin melewatkan kesempatan ini dan mencoba untuk terus mendominasi pertarungan.


"Asuna-san, kita akan terus melakukan strategi giliran! Astolfo-san, tolong cover kami juga jika terjadi kesalahan!" (Kirito)


"Oke!" (Amakusa)


Amakusa yang selesai mengatur nafasnya dan mendapat kembali energinya, membuat tanda "oke" menggunakan tangannya dan berteriak saat menjawab Kirito.


Setelah itu, Kirito menghadapi Kobold Lord lagi untuk membuka celahnya dan switch dengan Asuna untuk membiarkan gadis itu menyerang.


Mereka terus mengulangi itu terus dan terus, mencicil HP bos. Ada kalanya Kirito terlalu terburu-buru hingga menyebabkan dia membuat kesalahan, namun itu dengan cepat di-cover oleh Amakusa.


"Ha-!" (Asuna)


Kobold Lord tidak bisa apa-apa selain meraung ketika HP-nya mencapai titik nol. Rapier Asuna menembus tubuhnya dan dia pun pecah berkeping-keping menjadi partikel.


[Congratulations!]


Sebuah panel besar muncul di atas semua player, mengatakan selamat kepada mereka karena telah membunuh bos lantai pertama.


Semua orang terdiam, masih merasa tidak nyata dengan apa yang mereka lihat.


Kemudian, mereka semua bersorak.


"Kita ... menang?" (Kirito)


Lampu ruangan bos mulai meredup kembali, menandakan bos ruangan ini benar-benar telah dikalahkan. Kirito terengah-engah setelah energinya dihabiskan untuk melawan Kobold Lord.


Sementara itu, Asuna yang telah mensarungkan rapier-nya, memiliki ekspresi bingung ketika dia melihat sebuah panel pemberitahuan yang muncul pribadi di depan matanya


[You got the last hitting bonus!]


[Item reward]


[Coat of Midnight]


"Apa ini?" (Asuna)


Gadis berambut cokelat itu memiringkan kepalanya. Dia mencoba menekan panel pemberitahuan tersebut tetapi berhenti ketika disela oleh suara Amakusa.


"Benar-benar good game, kalian berdua!" (Amakusa)


Amakusa mendatangi keduanya sambil bertepuk tangan.


Walau semuanya mungkin tak persis sama seperti yang ada di anime, setidaknya dia senang mereka berdua berhasil mengalahkan bos lantai pertama bersama-sama seperti ini.


"....... Tidak, jika Astolfo-san tidak meng-cover aku tadi, aku mungkin sudah membuat kesalahan yang akan berakhir fatal." (Kirito)


Amakusa tertawa dan menggosok hidungnya.


"Jangan pikirkan hal itu. Karena yang kumiliki hanyalah kecepatan, cuma ini yang bisa kulakukan untuk membantu." (Amakusa)


Dia lalu melanjutkan, sambil menatap para player yang masih tenggelam dalam kebahagiaan di belakang.


"Selain itu, lihat mereka. Mereka benar-benar senang setelah bos lantai pertama akhirnya dikalahkan. Kau pantas menjadi MVP karena membuat pertarungan menjadi mudah untuk diakhiri. Benar kan, Asuna-san?" (Amakusa)


Disebut dalam pembicaraan, Asuna memutuskan untuk mengangguk dan bicara.


"Ya. Meskipun aku belum pernah melakukan kerja sama tim dengan siapapun sebelumnya, aku bisa mengatakan kau sangat bagus untuk membantuku. Terima kasih." (Asuna)


"...." (Kirito)


Kirito diam ketika dia dihujani pujian dari keduanya. Dia lalu menoleh ke belakang untuk melihat bahwa para player, benar bersorak gembira setelah bos dikalahkan.


"Tapi tetap saja-" (Kirito)


"-Kenapa!?" (Kibaou)


Kibaou tiba-tiba berteriak, membuat semua player yang ada di ruangan berhenti bersorak dan mengalihkan perhatian mereka ke pria berambut landak itu.


"Kenapa kau membiarkan Diavel sampai terbunuh!?" (Kibaou)


Kirito, membelalakkan matanya setelah mendengar itu. Kibaou yang duduk bersila di tengah kerumunan player, menatap remaja berambut hitam itu dengan tatapan penuh dendam di matanya yang memerah akibat meneteskan air mata.


"Jika kau memberitahunya tentang teknik yang digunakan bos tadi, dia pasti tidak akan terbunuh!" (Kibaou)


Para player saling memandang. Mereka pertama menatap Kibaou, kemudian mengalihkan pandangan mereka ke Kirito dengan tatapan penuh kecurigaan.


Setelah itu, ketika salah satu player tidak bisa menahan kecurigaannya, dia berteriak dan menunjuk Kirito dengan marah.


"Dia pasti seorang beta tester! Itulah mengapa dia bisa bertarung dengan baik saat berhadapan dengan bos tadi! Itu karena dia telah menghafal pola serangannya dengan baik! Dia tahu itu tetapi tidak memberitahukannya kepada kita!" (Player A)


Amakusa diam. Pupil matanya telah kehilangan cahaya, gelap seperti saat pertama kalinya dia bertemu Kibaou kemarin.


"Aku benar-benar harus menyelesaikan masalah ini." (Amakusa)