
Amakusa menundukkan kepalanya dengan depresi ketika mengingat fakta itu. Setelah pikirannya menjadi dingin, dia mulai bertanya-tanya kenapa dia melakukan hal seegois itu sampai lari dari pekerjaannya.
'Aku beneran harus meminta maaf kepada Asuna dan Kirito nanti. Mereka pasti kerepotan karena harus mengurus pekerjaan yang seharusnya untukku.' (Amakusa)
"Alex-san?" (Silica)
Silica memiringkan kepalanya, menatap Amakusa ketika dia bingung kenapa mantan pekerja kantoran itu tiba-tiba terdiam.
"Tidak. Tidak ada apa-apa." (Amakusa)
Amakusa menggelengkan kepala dan memalingkan wajahnya, tidak berani secara langsung menatap mata Silica.
"... ?" (Silica)
Silica masih bingung dengan tingkah laku Amakusa, tetapi memutuskan untuk tidak menekannya lagi. Dia kemudian bergumam.
"Tapi Alex-san ternyata pemimpin guild di lantai atas, huh? Pantas saja, Anda benar-benar hebat. Ingat ketika kita terkepung monster di lantai 40 kemarin? Itu benar-benar luar biasa karena Anda masih bisa membalikkan situasi dengan membawa Hippogriff dan memerintahkannya dengan baik untuk bertarung. Mungkinkah Alex-san, Anda itu jenius dalam membuat strategi?" (Silica)
"...." (Amakusa)
Amakusa terdiam ketika dia mendengar pujian dari Silica. Itu membuatnya agak malu karena dia ternyata dipandang setinggi itu oleh gadis disampingnya ini.
Dia merasa agak baikan.
Amakusa berpikir sejenak sebelum dia menjawab.
"Jenius mungkin itu adalah kata yang terlalu tinggi untuk diberikan padaku. Meskipun aku dulunya sering dipuji temanku karena sangat jago dalam game strategi dan selalu bisa membunuh monster di "Monhun" tanpa mati, alasan aku menang di lantai 40 kemarin itu hanya karena levelku yang melebihi lantai ini. Walau monster yang mengepungku banyak, mereka tetaplah tidak ada apa-apanya." (Amakusa)
"Anda benar-benar suka merendah, bukan? Alex-san." (Silica)
"Eh?" (Amakusa)
"A—Ah! Tolong lupakan saja itu! Aku hanya bicara sendiri." (Silica)
Silica dengan panik menutup mulutnya sendiri ketika dia keceplosan tanpa sadar.
Tapi bagaimanapun, tidak ada yang bisa menyalahkan Silica atas keceplosan yang dia lakukan.
Karena pada kenyataannya, ketika Amakusa dipuji oleh anggota guild-nya, dia juga sering merendah walaupun kemampuannya benar-benar hebat.
'Meskipun ... aku tidak bisa mengatakan aku membenci sisi Alex-san yang seperti ini sih.' (Silica)
Pikir gadis itu dalam diam.
"...." (Amakusa)
Amakusa penasaran apakah perkataan Silica tentang dirinya yang suka merendah adalah sebuah pujian atau ejekan.
Tapi, dia memutuskan untuk tidak memikirkan itu.
...
Amakusa melihat sekelilingnya.
"Ngomong-ngomong, karena kita terlalu fokus mengobrol, tanpa sadar ternyata kita sudah keluar dari kota dan memasuki wilayah Bukit Kenangan." (Amakusa)
"Hm?" (Silica)
Mendengar perkataan Amakusa, Silica secara reflek memandang sekelilingnya juga.
Dan seperti yang dikatakan oleh mantan pekerja kantoran itu, karena mereka berdua terlalu fokus mengobrol, mereka tampaknya sudah berada di wilayah Bukit Kenangan tanpa mereka sadari.
Walaupun Silica tidak tahu bagaimana wilayah Bukit Kenangan terlihat, setidaknya dia mengerti seperti apa pemandangannya secara kasar setelah dia mendapat penjelasan dari Amakusa ketika mereka sedang menaiki lantai.
"Jadi sekarang kita hanya perlu mengikuti jalan ini dan menuju puncak, ya?" (Silica)
"Ya." (Amakusa)
"Oh iya, Silica. Aku lupa memberitahumu tetapi berhati-hatilah. Meskipun monster di sini sangat lemah, mereka sangat ahli dalam penyergapan. Untuk berjaga-jaga, mendekatlah padaku." (Amakusa)
"... E—Eh? A—Apakah begitu? K—Kalau begitu ..." (Silica)
Awalnya Silica terkejut ketika mendengar perkataan Amakusa yang menyuruhnya mendekat.
Namun, karena tidak ingin melewatkan kesempatan ini, dia mendekatkan dirinya pada mantan pekerja kantoran itu, hingga membuat bahu dari kedua orang itu saling bersentuhan.
Silica merasa agak malu—tetapi pada saat yang sama, dia juga bahagia.
Sementara itu di sisi lain, Amakusa yang tidak mengetahui betapa gugupnya hati gadis di sampingnya, memiliki pikiran yang sangat bodoh di dalam kepalanya.
'Meskipun aku memperingatinya untuk lebih waspada ... Jujur, aku merasa agak menyesal.' (Amakusa)
Amakusa ingat adegan dimana Silica yang ditangkap oleh monster yang ada di wilayah Bukit Kenangan ini dan menyesal karena dia tidak bisa menyaksikan itu sekarang dengan mata kepalanya sendiri—adegan yang cukup menarik itu.
Adegan dimana kaki Silica ditangkap oleh tentakel monster tumbuhan dan—
'Tapi aku tidak bisa membahayakan dia hanya untuk kesenanganku. Aku juga malah terdengar seperti orang menyedihkan karena memikirkan hal seperti ini sih. Kupikir aku hanya akan menyerah di sini.' (Amakusa)
Amakusa mengatakan itu di dalam hati dan mengangkat bahu.
Mantan pekerja kantoran itu kemudian melangkahkan kakinya—atau itu yang ingin dia lakukan, ketika dia merasakan ada suatu hal yang menahan kakinya.
Itu adalah suatu hal yang terasa aneh, berlendir dan terasa licin seperti belut, namun lebih besar serta cengkeramannya lebih kuat.
"Huh?" (Amakusa)
"Alex-san?" (Silica)
Yang menggenggam Amakusa adalah sebuah tentakel besar dan panjang, yang terhubung dengan sebuah monster tumbuhan raksasa yang ada di belakangnya.
Sebelum mantan pekerja kantoran itu bisa merespon, monster tumbuhan itu menggunakan tentakelnya dan menariknya.
"Wa—!?" (Amakusa)
"Alex-san!?" (Silica)
Silica tidak bisa menahan keterkejutannya. Dia melihat Amakusa yang tadinya ada di depan matanya, sekarang sudah dibawa oleh monster tumbuhan itu.
Beberapa tentakel kemudian muncul dengan lebih banyak lagi dari monster tumbuhan itu dan melilit tubuh Amakusa.
Tidak hanya tangan dan kakinya, lehernya bahkan tidak lepas dari lilitan, membuatnya tidak bisa bahkan berbicara. Salah satu tentakel monster tesebut kemudian memasuki sela-sela yang ada di celana Amakusa, menuju—
"A—Alex-san!" (Silica)
Wajah Silica memerah hanya dengan melihat itu. Dipenuhi dengan rasa panik, dia lalu mengeluarkan pedang dari inventarisnya dan berlari dengan sekuat tenaga menuju monster itu—sebelum dia menebasnya.
Beruntung, karena seperti perkataan Amakusa. Monster yang ada di wilayah ini benar-benar lemah dan Silica berhasil membunuhnya hanya dengan sekali tebasan.
Silica terengah-engah karena adrenalin.
Karena tentakel yang menahan Amakusa di udara sudah menghilang, dia kemudian langsung terjatuh ke tanah dan terbaring ke ladang bunga yang luas.
Matanya tampak kosong dan wajahnya dipenuhi dengan ekspresi tidak percaya akan kenyataan.
Karena anime, dia berpikir kalau Silica yang akan diincar monster di sini. Tetapi, siapa sangka kalau dirinya sendiri yang malah tertangkap?
Meskipun Amakusa bisa mengeluarkan dirinya sendiri dari jeratan monster itu, itu tetap akan memakan beberapa waktu. Jadi jika Silica tidak menyelamatkannya dengan cepat tadi, dia tidak tahu pengalaman mengerikan apa yang akan dialaminya.
"Ini pasti karma." (Amakusa)
Ini adalah karma yang harus dia terima karena memiliki pikiran bodoh untuk berharap melihat Silica yang terjerat tentakel.
Amakusa tidak bisa melawan karma. Tubuhnya melemas, matanya mulai menutup.