
Permukaan air akuarium tampak beriak mengikuti kipasan ekor kedua ikan yang bergoyang. Bergantian bergoyang atau kadang saling berpacu.
Pergumulan berlangsung ketat. Sekali kesempatan, ikan merah bercorak hima mengerahkan kekuatan untuk mendorong mulut melalui gerakan sirip dan kipasan ekor. Ikan merah polos yang sudah siaga, memperlonggar gigitannya. Akibatnya, kepala ikan merah hitam makin nyungsep ke dalam. Bahkan sampai ke ujung kerongkongan ikan merah polos.
Ikan merah polos tersedak. Bertambah panjang kepala ikan merah hitam terbenam membuat ia kesusahan bergerak. Sebaliknya, ikan merah hitam bukan lagi berusah melepaskan dirinya yang terjepit. Ia malah makin kuat menerjang dan menusuk.
Kedua siripnya seolah tidak capek bergerak. Menerjang dan menghempas air. Juga ekornya. Terus mengipas ke kiri dan kanan memberikan kekuatan pada mulut ikan merah hitam.
Ikan merah hitam mulai membenturkan ujung kepalanya seraya melakukan sundulan ke samping dan ke depan dalam kombinasi gerakan yang cepat. Makin lama makin cepat. Kian cepat. Ketika ikan merah hitam melakukan gerakan untuk menarik kepalanya, ikan merah polos tak memberi peluang. Makin kuat jepitan dengan menautkan kedua rahangnya.
Air dalam akuarium sudah bagai lautan yang diterjang badai. Bergulung-gulung lalu memecah di dinding kaca. Batu karang yang semula tersusun indah kini berserakan di dasar akuarium. Mainan kincir dan boneka berhamburan dari posisinya. Air dalam akuarium pun tampak kumuh.
Kepala ikan merah hitam masih terjepit. Dengan mengumpulkan kekuatan, ikan merah hitam berupaya melepaskan kepalanya. Begitu mendapat kesempatan dan dirasakannya jepitan ikan merah polos sedikit longgar, ikan merah hitam menarik kepalanya. Begitu berhasil ia bukannya melepaskan diri. Tetapi malah menghujamkan kepalanya lebih ke dalam mulut ikan merah polos.
Puncaknya, ikan merah hitam menggelepar. Ekornya tegang sesaat. Kedua siripnya mengembang kaku. Tak lama. Beberapa detiknya berikutnya tubuhnya tampak lemas. Kehabisan tenaga.
Perlahan ikan merah polos membuka mulutnya. Kepala ikan merah hitam pun melorot lamban keluar dari mulut ikan merah polos. Ikan merah hitam tersandar di samping batu barang. Ia mengambil nafas. Dari mulutnya keluar pelet yang sudah berwarna putih. Saat dicengkeram kuat oleh gigitan ikan merah polos, sepertinya ikan merah hitam sempat muntah. Muntahan itu keluar setelah mulutnya terbebas dari jepitan ikan merah polos.
Ikan merah polos pun beralih posisi, berpindah ke sudut kolam. Seakan mau menenangkan diri ia mengipaskan sirip dan ekor dengan gemulai. Mulutnya terbuka dan tertutup. Begitu juga dengan matanya. Lebih banyak tertutup.
Ketika terbangun Timo menyalahkan matanya. Ia ingat betul baru saja bermain-main dengan dua ikan setan merah. Satu ikan merah dengan corak bercak-bercak hitam. Sementara satu lagi ikan yang seluruh badannya berwarna merah. Dipastikannya dirinya tidak bermimpi dengan ikan-ikan itu.
Tapi mengapa ada Sisca di sebelahnya. Gadis itu tidur miring membelakanginya. Timo memukul-mukul jidatnya. Kenapa tidak ada ikan-ikan itu? Ke mana dia? Hei, di mana ini? Mengapa aku berdua dengan dia di kamar ini? Apa yang terjadi?
*
Kembali dari Medan, Verina merasa ada yang berubah dengan Timo. Ia tampak lebih periang. Wajahnya lebih cerah dan gembira.
Verina bergarap Timo membawa oleh-oleh khas Medan untuknya. Terserah apa saja. Bolu gulung, pancake durian, bika ambon atau makanan lainnya. Tetapi Timo malah membuka ikan. Dua ekor ikan yang masih hidup.
Verina agak sedih sekaligus heran. Semenjak kapan pula ia suka ikan? Taman di samping rumah dengan air mancur dan kolam kecil tidak pernah didekatinya. Beberapa kali Verina minta sudut taman itu diperbaiki dan kolamnnya diisi ikan. Timo malas dan mengaku tidak suka memelihara ikan. “Menghabiskan waktu saja,” begitu alasannya.
Tapi kenapa sekarang dia membawa ikan? Verina tak bertanya. Ia malah saku. Karena akuarium tempat ikan itu diletakkan di paviliun. Setidaknya ada ikan-ikan yang bisa dipandangi atau diajak bermain.
Verina lebih tertarik bertanya soal reuni. “Gimana reuninya? Meriah?”
Di luar dugannya pula, Timo seperti tidak suka ditanyai tentang reuni itu. “Tidak ada yang menarik,” jawabnya dengan muka kaku.
“Tidak menarik, kenapa?” tanya Verina tanpa bermaksud menyelidiki.
Verina tersenyum. “Tentu ada sebabnya.”
“Malas ngomong!” Suara Timo terdengar ketus.
Verina menahan hati. Tapi tak mampu menahan mulutnya. “Ramai yang ikutan reuni?” tanyanya lagi.
Timo melirik tak suka. Tampak dari matanya. “Ramai.” Pendek saja. Tanpa penjelasan apa-apa.
“Boleh lihat foto-fotonya?”
“Tak ada foto.”
Verina menekan rasa dongkol. “Acara reuni tanpa foto? Sangat tidak masuk akal,” ujarnya menggeleng-geleng. Dalam bayangan Verina, kegiatan terbanyak dalam reuni itu adalah foto-foto dan selfi.
“Memang tak ada!” tandas Timo pula. Verina melihat wajahnya suaminya bagai tembok lama yang buram catnya.
Kemudian Verina tidak saja menahan hati. Ia juga menahan rasa perih yang menoreh sudut hatinya. Varina menautkan mulut dan tak bertanya lagi.
Verina yakin seyakinnya foto-foto reuni itu ada. Hanya Timo yang tidak mau memperlihatkannya. Mungkin Timo tidak bawa kamera. Tetapi foto-foto itu di HP.
Verina berusaha mematikan keinginannya. Tidak apa bila memang tidak diperbolehkan melihatnya. Bukan sesutau hal yang sangat perlu sekali. Mungkin saja bagi Timo itu adalah bagian dari masa lalunya yang istrinya tidak boleh tahu. Bahkan tidak boleh melihatnya.
Selama ini, Verina pun tidak pernah usil dengan HP suaminya. Tak pernah membukanya bila tidak disuruh. Baginya HP sama dengan sebuah rumah privacy. Boleh dimasuki tapi mesti seizin pemiliknya.
Sepulang dari Medan, kemudian Verina merasa Timo tidak hanya malas ngomong soal reuni itu. Timo juga seakan malas berada dekat dirinya. Ketika ia menggeser badan mendekati Timo yang baru merebahkan badan, suaminya itu malah memunggungi. “Aku capek,” desisnya.
Verina tergugu. Ia mendekati hanya untuk memberikan kehangatan. Ia tahu Timo capek. Mengendarai mobil sendirian dari Medan ke Pekanbaru sejauh itu sendiran pulang pergi. Ia bermaksud memijati. Mengurangi rasa capek dan kepenatan. Tidak meminta sesuatu. Tapi kenapa begitu tanggapannya?
Verina melepaskan nafas dan turun dari spring bed. Duduk di depan pintu kaca. Di luar, jauh di bawah, lampu sebagian kota Pekanbaru bagai tumpah di kanvas pelukis. Bercak-bercak merah di antara kegelapan yang menghitam. Ia seperti memandangi lukisan alam yang penuh misteri.
Memindahkan matanya ke samping kanan iaemandangi kerindangan pohon-pohon. Sebagian besar kawasan pemukiman di Rumbai Bukit masih dipenuhi dengan hutan-hutan kecil atau semak belukar.
Verina melihat kegelapan malam yang bergerak ditiup angin pada daun-daun. Di pepohonan itu ia seakan kegelapan hari-harinya di perjalanan malam. Bertambah larut dan makin menghitam.
Namun Verina menguatkan hati seraya menyandarkan badan sepenuhnya pada kursi. “Bagaimana pun gelapnya malam, bagaimana pun buntunya jalan, aku harus kuat. Kuat bertahan. Kuat melanjutkan perjalanan,” gumam Verina memandangi bulan yang tertutup awan hitam.