Rr

Rr
08. Namanya Ikan Setan Merah



Menjelang tengah malam mereka tiba di Sibae-bae. Sisca mengarahkan Timo menuju hotel. Sampai di halaman hotel Sisca tersenyum. Bukan saja karena mereka selamat sampai. Tetapi lebih banyak karena ia melihat halaman parkir dipenuhi mobil tamu hotel.


Tonang menyambutnya di lobi. “Bos mau aku antar pulang atau di bermalam di sini?”


“Mungkin di sini,” kata Sisca. Ia minta Tonang mengambilkan travek bag di mobil Timo.


“Bagus hotel kamu,” puji Timo yang kemudian sampai di lobi.


“Aku hanya pekerja di sini.”


Timo mengangguk-angguk. “Sama saja itu,” katanya.


Sisca menyuruh anggotanya mengantarkan Timo ke kamar hotel. Timo  berdalih, “Dengan kamu saja. Kita cerita-cerita dulu. Kangen aku,” ujarnya seraya menghela tangan Sisca.


Sisca ingin menolak. Namun tangannya sudah berada dalam genggaman Timo.  Ia terpaksa mengikuti langkah Timo. Timo menghentikan langkah di depan akuarium besar di koridor menuju ruang lift. Akuariaum dengan lampu kuning emas di atasnya menarik perhatian Timo. Terlebih dengan ikan di dalamnya. Dua ekor ikan. Satu berwarna mereka dibaluti bercak hitam. Sementara satu lagi merah polos.


“Ikan apa itu?” tanyanya.


“Ikan predator.”


“Ikan Louhan?”


“Itu ikan asli Danau Toba. Namanya ikan iblis merah,” jelas Sisca.


“Ah, masak iya?”


“Orang sini menyebutnya ikan Tayu-tayu. Ikan itu memangsa ikan-ikan yang ada di danau. Nelayan kehabisan ikan tangkapan mereka,” sebut Sisca pula.


“Wah, menarik juga,” kata Timo yang langsung punya rencana membawa ikan itu ke Pekanbaru.


Sampai di depan pintu kamar hotel yang langsung terbuka begitu menempelkan kartu, Sisca kembali diliputi keraguan. Timo mendorongnya masuk. Pria itu kembali menyampaikan pujian terhadap kamar hotel. Tentu saja. Sisca membawanya bukan ke kamar tipe standar.


“Ceritalah tetang kamu,” kata Timo setelah menyodorkan minuman botol pada Sisca.


“Cerita tentang apa?”


“Tenang apa saja. Aku ingin mendengarkan kamu cerita.” Timo bukan merayu. Ia mengutarakan keinginannya apa adanya. Dan ia belum lupa. Dulu, Sisca selalu luluh dengan keterus-terangannya.


Soal itu Sisca belum berubah. Ia seakan tidak bisa menolak keinginan Timo. Ia cerita tentang dirinya yang bekerja di perhotelan begitu tamat Fakultas Ekonomi di salah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Bekerja pada sejumlah hotel di Jakarta dan Bandung. Sampai enam bulan belakangan ia bekerja di hotel yang baru dibangun di Sibae-bae.


“Kamu lagi yang cerita,” ujar Sisca kemudian.


Dua ikan dalam akuarium adalah jantan dan betina. Ikan warna merah dengan bercak hitam di beberapa bagian badannya adalah ikan jantan. Sementara yang warna merak polos adalah ikan betina. Bodi ikan merah hitam jauh lebih besar.


Kedua ikan itu dikagetkan cecak yang berlarian di dinding akuarium. Kedua ikan berlarian. Menyebabkan air dalam akuarium bergoyang. Setelah berkeliling dan berliku pada sisi batu karang yang terpasang dalam di lantai, kedua ikan itu kembali tenang. Keduanya berdiam di sudut akuarium sambil mengipaskan siripnya.


Beberapa lama kemudian, entah apa penyebabnya, Ikan Setan Merah bercak hitam terlihat mengejar ikan merah. Ikan setan merah yang jantan mengejar agresif seraya mengayuhkan kedua sirip dengan cepat. Ekornya terlihat mengipas-ngipas kencang.


Ikan setan merah yang merah polos berusaha mengelak. Ia berlari berusah menjauh. Sekali waktu ia berbelok dengan meliuk badan secara tiba-tiba. Berusaha mengecoh si merah hitam. Berkali-kali ikan merah berhasil mengecoh dan ia selamat dari kejaran.


Namun ikan merah hitam tidak kehabisan semangat. Ia terus mengejar dan memepet ikan merah polos ke sudut akuarium. Tak lama, ikan merah polos mulai kelelahan. Ia tersusul dan tidak bisa lagi menghindar. Ikan merah polos terkepung di sudut.


Melihat buruannya tersudut, ikan merah bercorak hitam membuka mulut. Bermaksud menggigit ekor ikan merah polos. Ikan merah polos meronta dengan kuat. Dan ia berhasil melepaskan diri.


Ikan merah hitam makin naik pitam. Dengan mengerahkan semua tenaga ikan merah hitam kembali mengejar. Ikan merah polos kini bukan lagi menghindar. Ia malah melawan. Begitu ika merah bercorak hitam tiba di dekatnnya, ikan merah polos membalikkan badan. Memberi perlawanan dengan mulut terbuka.


Maka terjadilah pergumulan itu. Keduanya saling menyerang dengan mulut terbuka. Silih berganti melakukan pembalasan.


Ikan setan merah bercorak hitam lebih menguasai keadaan. Bisa dimaklumi. Tubuhnya lebih besar dan ia pun jantan. Ikan merah bercorak hitam terus berupaya mengurung ikan merah polos di sudut akuarium. Ikan merah hitam ambil ancang-ancang. Ia bermaksud menyudahi perlawanan ikan merah polos dengan sebuah hantaman.


Ikan merah polos mengerti apa yang akan dilakukan ikan merah hitam. Ia menyiapkan diri meneriman serangan. Ditunggunya dengan mulut kembang-kempis. Begitu ikan merah hitam menyerang dengan hujaman ujung mulutnya, ikan merah polos tidak mengelak. Ia membuka mulutnya. Dibukanya lebar-lebar.


Ujung kepala ikan merah hitam yang mengeras masuk ke dalam mulut ikan merah polos. Lalu dengan cepat dipertautkannya mulut dengan sekuat tenaga. Kepala ikan merah hitam terjepit.


Ikan merah polos senang sekali. Kepala ikan merah hitam tidak bisa bergerak. Meski ikan merah hitam berusaha mencabut kepalanya, namun ikan merah polos memperkuat jepitan dengan mulutnya.


Ikan merah hitam menggeliat. Badannya bergoyang-goyang. Namun tidak bisa bergerak melepaskan diri. Cengkeraman dan gigitan ikan merah polos sangat ketat dan kuat. Apalagi mulutnya juga tidak terlalu lebar.


Ikan merah hitam masih berusaha melepaskan diri. Ia berusaha memberi kekuatan pada kedua sirip dengan melakukan gerakan mengayuh. Juga dibantu dengan dorongan melalui kipasan ekornya.


Ikan merah merasa capek dengan gigitannya. Ia mulai memainkan siasat. Perlahan didorongnya ikan merah hitam hingga ekornya sampai di depan dinding kaca akuarium. Dengan perlahan pula dilonggarkannya jepitan gigitannya.


Merasa ada peluang, ikan merah hitam menarik menarik kepalanya. Ia tidak sadar ujung ekornya berada di dinding kaca. Ikan merah hitam tak bisa melepaskan kepalanya.Ekornya terhalang bergerak ke belakang. Terlihat ikan merah hitam maju mundur.


Ikan merah polos membuka mulutnya. Namun ia tetap berjaga agar ikan merah hitam tidak bisa mencabut kepalanya. Saat dirasakannya gerakan panjang menghela ke belakang, ikan merah polos segera melakukan gigitan. Kepala ikan merah hitam pun terjepit.


Sesungguhnya ikan merah hitam tak pula ingin melepaskan diri sepenuhnya. Ia merasa keenakan juga. Jepitan mulut ikan merah polos tak menyebabkan kepalanya luka atau terasa sakit. Malah dirasanya bagai pijatan.


Itu yang membuat ikan merah hitam suka memundur dan mendorong kepalanya dalam mulut ikan merah polos. Ikan merah polos pun menikmati permainan ikan merah hitam. Tampak dari matanya yang terbuka dan tertutup bergantian.