Rr

Rr
10. Terlihat Tumpahan Air Mata di Kertas Itu



Di suatu pagi hari yang lembab.


“Mau kopi hitam atau pakai susu?” tanya Verina setelah menyerahkan sepasang baju dan celana pada suaminya. Pakaian seragam perusahaan.


Timo baru selesai mandi menggelengkan kepala tanpa suara. Ia memasang kemeja lalu kemudian celana.


“Tidak mau minum?” tanya Verita bingung.


Timo menggeleng. Juga tanpa suara.


“Sarapan?”


Timo menggeleng lagi. Masih dengan tidak bersuara. Verina menghela nafas. Tak biasanya begini.


Hanya bila pagi-pagi ada acara atau tersebab telat betul. Dua hal itu yang menyebabkan Timo tidak sarapan di rumah. Bila tak sarapan di rumah –karena menemani tamu perusahaan Timo pasti minta dibuatkan kopi saja. Kopi hitam atau pakai susu. Tapi ia lebih suka kopi hitam saja. “Tinggal sarapan di luar,” begitu seringkali katanya sebelum berangkat.


Tetapi pagi ini masih pukul 07.05 WIB. Bahkan tampak masih pekat kabut pagi. Hujan gerimis. Dan tidak pula ada agenda atau mengikuti kegiatan pihak lain. Tetapi kenapa menolak sarapan pagi di rumah? Bahkan tidak mau ngopi. Sungguh, tidak biasanya.


“Mau ketemu seseorang di hotel,” sebut Timo kemudian seakan mengerti dengan kegundahan istrinya.


“Pagi-pagi begini? Jumpa siapa?”


“Tamu perusahaan.”


“Mungkin belum bangun mereka. Apalagi hujan begini,”


“Sudah janji.”


“Tak mau ngopi dulu?” tanya Verina menekan keheranannya.


Timo menggeleng. Melangkah turun dari lantai dua paviliun.


Verina mengikuti turun tangga. Ia menutup mulut usai menghela nafas. Bukan ia yang keburu menduga-duga dan menyimpan prasangka apa-apa. Tetapi tidakkah sikap dan perilaku Bang Timo itu yang memancing dugaan dan menimbulkan prasangka?


Verina mencium tangan suaminya. Ia kemudian memandangi mobil double cabin warna silver meninggalkan halaman. Menghilang di sisi gerbang pagar.


Verina kembali masuk kamar. Ia tidak hendak melepas suaminya dengan prasangka. Tak mau menduga-duga. Seperti biasanya, ia melepas dengan doa dan kepercayaan sepenuhnya. Bahwa suaminya akan bekerja sebagai seorang manager di perusahaan industri kelapa sawit. Bekerja untuk masa depan keluarga. Bahwa ia tidak akan mengapa-apa. Tidak berbuat sesuatu yang mengkhianati kepercayaan sang istri. Bahwa ia akan kembali ke rumah sore nanti dengan sehat tidak kurang sesuatu apa.


Verina mengambil sapu. Membersihkan ruangan atas. Di lantai atas pavilliun yang mereka tempati ada kamar tidur, toilet, ruangan tamu dengan seperangkat kursi jati Jepara.


Tak sampai setengah jam kemudian, Verina pindah ke rumah besar. Ada pintu di bagian belakang yang menghubungkan dengan paviliun. Tidak mesti ke luar pintu depan.


Sudah ada Mbak Tin di dapur. Mencuci piring. Tidak ada kompor yang hidup. “Apa yang bisa saya bantu Mbak?” tanya Verina.


“Bikinkan minuman buat Bapak. Air panasnya sudah masak.”


“Untuk ibu?”


“Sepertinya belum bangun.”


Verina sudah tahu minuman pagi papa mertuanya. Dibuatkannya teh susu hangat dengan gelas besar. Lengkap dengan tutup porselen warna putih. Dibawanya ke ruang tengah.


Papa sudah duduk di meja ruang tengah. Sendirian sambil baca koran. “Ini Pa minumannya,” kata Verina selesai meletakkan gelas minuman.


Papa tidak mengalihkan mata dari koran. “Iya,” katanya pendek.


Verina kembali ke dapur. Ia berpapasan dengan Mama. Mungkin baru bangun. Verina mengangguk memberi sapaan selamat pagi..


“Katanya sakiiit,” ujar Mama mertua dengan bibir melengkung.


“Udah baikkan, Ma.”


“Tapi...”


“Sudah ngomong Timo sama kamu?” tanya Mama dengan pandangan suram.


“Ngomong apa, Ma?”


“Soal kalian.”


Verina tak mengerti ucapan mertuanya yang belum jelas maksudnya. “Soal kalian. Soal apa, Ma?”


“Kamu tunggu ja. Timo pasti ngomong soal itu!”


“Soal apa, Ma?” tanyanya Verina sedikit menaikkan intonasi karena Mama terus berjalan. Ia makin heran dengan sikap mertuanya itu. Bicara namun tak jelas maksudnya.


Mertuanya tidak menjawab dan meninggalkannya tanpa berkata apa-apa.


Verina terpaku tegak. Soal apa yang mau diomongkan Bang Timo? Kalau ada yang mau dibicarakan kenapa tadi pasi ia justru buru-buru meninggalkan rumah. Ngopi pun tidak mau.


Menjelang tidur Verina sempat bertanya soal apa yang akan dibicarakannya Timo kepadanya seperti yang ditanyakan Mama siangnya. Namun Timo itu mengaku tidak ada.


“Kata Mama, Abang ada mau bicara sama aku. Soal apa?”


Timo menggelengkan kepala. “Tak ada,” katanya.


Verina tentu lebih percaya pada suaminya. Dan Timo mengatakan tidak ada. Mungkin Mama yang mengada-ada. Lagi pula, kalau Bang Timo mau bicara mengapa mesti ngomong dulu sama Mama. Bisa langsung bicara sama dia. Toh selama ini komunikasi mereka lancar-lancar saja.


Dan Verina sudah melupakan soal itu, ketika beberapa hari kemudian Timo memintanya naik ke lantai dua. Verina pun heran kenapa Bang Timo pulang siang. Saat istirahat siang jarang ia pulang ke rumah. Jarak rumah dengan kantor perusahaan sekitar 30 km. Belum sempat ia bertanya, Bang Timo mendorongnya segera naik tangga.


Ia duduk di kursi jati bulat mini. Timo mondar-mandir sebelum duduk. Ia seperti resah atau gelisah. Kemudian ia meletakkan map coklat di atas meja. Tampak kekakuan di wajahnya.


“Tidak biasanya Abang pulang siang. Ada apa?” tanya Verina setelah Timo duduk.


Timo tidak menjawab. Terdengar justru hembusan nafasnya. Ia menekuk kepala. Kedua tulang rahangnya tampak bergerak-gerak. Namun mulutnya terkatup.


“Ada apa Bang? Ada masalah?”


Timo menaikkan mata. Memandang lurus pada mata Verina. Tapi hanya beberapa detik. Kemudian Timo mengalihkan pandangan seakan mengenal memandangi istrinya. Ia menunduk seraya membekap muka dengan telapak tangan.


“Apa apa Bang? Bicaralah,” kata Verina. Ia melihat Timo beda sekali siang ini.


 “Kamu. Kamu baca surat itu,” tunjuk Timo dengan dagunya pada amplop di atas meja. Kemudian kepalanya kembali tertunduk.


“Surat? Surat apa?” Verina tak menjangkau amplop. Ia mencari mata Timo. Beberapa detik saling tatap. Namun Timo kembali mengelak. Seakan tidak berani memandang mata istrinya. Ia justru memandang amplop.


“Surat apa sih?” tanya Verina seraya menjangkau amplop berukuran HVS itu.


Tidak dilem. Dapat terbuka dengan mudah. Verina segera mengeluarkan kertas di dalamnya. Hanya selembar. Segera ia mendekatkan kertas ke depan mata. Membacanya dalam hati..


Mata Verina terbelalak. Ia menggeleng tidak percaya. Verina mengusap mata. Jangan-jangan matanya salah lihat. Dipandangi lagi lebih dekat dengan mata terbuka lebar. Tidak. Ia tidak salah lihat. Ia tidak salah baca. Besar tulisannya dengan warga huruf hitam.


Verina tidak meneruskan mata membaca. Wajahnya menjadi pasi. Matanya tertancap pada kepala Bang Timo. “Surat apa ini, Bang?” tanyanya dengan suara parau.


“Bacalah,” kata Timo.


Verina tidak bisa membacanya. Matanya berkabut. Kemudian malah basah. Basah oleh kucuran air mata. Di antara raungan tangis ia bertanya lagi. “Ini untuk aku, Bang?”


Timo tak menjawab. Raungan tangis Verina membuatnya kehilangan kata-kata. Ia menunduk. Matanya terpaku pada kertas selembar yang tergeletak di atas meja. Kertas yang barusan dibaca istrinya. Di kertas itu terlihat tumpahan air. Air mata Verina.