
Verina mengusap layar HP. Mencari sesuatu di halaman internet. Kemarin atau beberapa hari lalu ia pernah membaca puisi. Ia lupa penulisnya. Tap ia ingat sekali. Puisi tentang reuni SMA. Di halaman FB.
Tiba-tiba ia ingat puisi itu. Dan tertarik untuk membacanya lagi. Tidakkah itu karena ketakutannya saja? Ketakutan yang amat berlebihan. Tidak berdasar sama sekali. Ketakutan yang mengada-ada. Tidak. Verina menggeleng. Bukan ketakutan. Bukan pula mengada-ada. Ia hanya ingin membaca puisi itu lagi. Tidak lebih.
Lalu kenapa ingat puisi itu sekarang? Bukan karena Bang Timo tengah pulang ke Medan. Ke Medan mengikuti acara reuni SMA-nya.
Verina merasa ada kejanggalan menjelang kepergian. Dikuat-kuatkannya hati pergi ke sendirian. Bukan dengan pesawat. Tapi dengan mobil dan ia menyopirinya. Ia menyopiri mobil sendirian untuk perjalanan Pekanbaru-Medan sepanjang 645 km. Bukankah itu sebuah keanehan. Sesuatu yang bisa disebut di luar logika yang wajar.
“Ah, biasalah itu. Dulu malah tiap bulan pulang ke Medan. Seringkali juga bawa mobil sendiri,” kilah Timo ketika Verina mempermasalahkannya.
“Tujuannya beda. Dulu itu untuk pekerjaan. Tapi sekarang untuk reuni. Untuk jumpa teman-teman masa SMA, Abang bela-belain bawa mobil sendirian. Kenapa tidak pakai pesawat saja?” tanya Verina yang merasakan kejanggalan itu.
Timo menggeleng. “Kamu lupa? Aku paling alergi naik pesawat. Kalau tidak penting betul, aku tidak mau.”
“Kenapa tidak pakai sopir. Banyak yang bisa dibawa. Sopir sekalian teman di jalan,” kata Verina menyampaikan alternatif lainnya.
Timo masih menolak. “Ah, malas bawa orang. Banyak maunya,” sebutnya.
“Atau naik bus. Banyak pilihan. Super eksekutif pun ada.”
“Dah bosan aku naik bus,” elak Timo pula.
Ketika berbagai alternatif diajukan dan semuanya ditolak dengan beragam argumen. Tetap juga bersikeras pergi dengan mobil sendirian. Tidakkah itu merupakan keinginan yang aneh?
Verina tidak mau pula menyampaikan keberatan secara tegas. Banyak pertimbangannya. Tiga tahun hidup bersama telah mengajarkan Verina bahwa untuk hal-hal tertentu yang ia tidak bisa bertegas-tegas. Tidak bisa mengatakan tidak pada suaminya itu.
Ia pun tidak hendak berburuk sangka. Atau menyimpan kecurigan yang berlebihan. Ia pun paham. Berjumpa dengan teman-teman lama adalah sebuah kegembiraan yang tidak mudah didapatkan. Bercerita tentang masa-masa lalu yang indah adalah keceriaan yang tidak mungkin dibeli dengan uang.
Kegembiraan dan keceriaan yang tidak didapatkannya di rumah ini. Tidak didapatkannya dari aku. Kalau begitu masihkah mampu aku melarangnya pergi? Membunuh keceriaanya. Mematikan kegembiraannya.
Verina membalikkan badan. Memandangi plafon berwarna putih dengan ukiran coklat muda di sekeliling loteng.
Tidak jauh beda dengan ukiran coklat muda yang berliku, berputar dan berbelok hingga membentuk motif yang menawan. Verina pun memandang hidup yang sudah dijalani sangat berliku. Berbelok-belok. Berputar turun naik.
Tetapi ujungnya, lima tahun sudah berjalan, belum sampai terbentuk wujud yang jelas. Apalagi motif yang indah dan menawan. Belum sama sekali.
Ia yang mesti menjawab dengan diam kenapa keceriaan itu tidak datang. Ia pula yang harus memendam kekecewaan Bang Timo di sudut yang gelap ketika pulang tak ada rengek atau tawa ceria. Ia juga yang pekak telinga mendengarkan kicuan Mama mertua kenapa tidak juga memberikan cucu baginya.
Ah, kenapa kelam hari-harinya? Padahal kesendiriannya dari pagi petang adalah kesepian tidak tertahankan. Kesunyian yang seringkali diratapi.
Sebagai wanita ia bukannya tidak berusaha. Bukan lupa berupaya. Bahkan tak pernah berhenti berdoa. Tetapi akhirnya masih juga dua kata: kamu mandul! Tidakkah itu menyakitkan?
Tapi sudahlah. Hidup tak senantiasa sesuai dengan asa. Jalani saja apa adanya. Verina membalik badan. Dijangkaunya kembali android tipis berwarna putih. Pencet-pencet lagi. Cari-cari lagi. Login lagi. Wow! Jumpa. Ditemukannya bait puisi itu. Betul di halaman FB. Devoro nama pemilik akunnya. Verina tidak tahu ia nama orang atau nama kucing. Tak penting itu baginya. Puisinya yang ia suka. Ini puisinya:
buka cerita lama masa SMA
senda gurau kenang cinta pertama
pesta gembira itu bagai bawa gempa
hempaskan sendi rumah, patahkan tangga
padahal baru tiga tahun dibangun
aku menjadi korbannya!
Belum sempat melanjutkan bacaan pada bait berikutnya, Verina mendengar teriakkan dari bawah. Memanggil namanya. Dengan kesal bercampur malas ia keluar kamar. Tanpa melihat pun ia sudah tahu siapa yang memanggil. Di rumah ini hanya seorang yang suka berteriak memanggilnya. Dan Verina juga tidak berani menyuruhnya berhenti berteriak.
Verina mendekati pinggir pagar beton pembatas lantai dua. Tidak salah dugaannya. Wanita setengah baya berwajah lonjong itu berkacak pinggang. Melemparkan pandangan mata bulat ke atas.
Bergegas Verina turun melalui tangga yang berliku di pinggir dinding. Ia mengulurkan tangan sambil menekuk kepala begitu sampai di depan wanita berusia 55 tahun itu. Salaman itu disambutnya dengan menyentuhkan ujung jari pada tangan Verina tanpa genggeman. Verina menelan kembali senyumannya.
“Ada apa Ma?” tanya Verina suara hormat.
“Ada apa? Dipanggil kenapa diam saja?”
“Maaf. Tak dengar, Ma. Aku di dalam kamar.”
“Mentang-mentang suami kamu tak di rumah kerjanya tidur dan tidur!”
“Bukan tidur, Ma?”
“Main HP. Chatting. Main internetan. Begitukan?”
Verina diam dan menurunkan mata.
“Banyak yang bisa kamu kerjakan di rumah ini atau di sebelah.”
“Sudah, Ma," jawabnya dengan suara rendah.
“Sudah apa? Sudah kotor lagi?”
Verina menelan nafas. Tidak ada yang benar dalam pandangan Mama Timo ini terhadap dirinya. Selalu salah. Padahal, semenjak pagi ia sudah melakukan pekerjaan sebagaimana hari-hari sebelumnya. Membersihkan ruangan paviliun bertingkat tempat ia bersama Timo tinggal.
Verina tidak pernah absen membantu Mbak Tin. Bantu memasak. Membersihkan rumah dan dapur. Setiap hari. Hanya mencuci pakaian yang tak dibantunya. Mencucikan pakaian dua orang tidak berat bagi Mbak Tin. Mak Tin adalah asisten rumah tangga di rumah utama tempat kediaman Mama dan Papa, mertua Verina.
Sudah lima tahun Verina tinggal di rumah ini. Semenjak menikah dengan Timo. Rumah besar dan tampak mewah. Bertingkat dua dengan delapan kamar. Lima di bawah, dan tiga di lantai dua.
Hanya setahun di kamar dalam rumah utama. Pada bulan ke 13 usia perkawaninan, Timo mengajak pindah ke paviliun. Alasannya, biar Mama atau Papa tidak tergganggu bila ia pulang malam. Punya pintu sendiri. Verina tidak membantah. Ia tahu itu hanya alasan Timo kepadanya. Sebab, Mama sudah ngomong langsung kepadanya. Mengatakan bahwa ada keluarga Mama yang akan tinggal di sana.
Verina hanya bertanya apakah Bang Timo sudah tahu. Apakah ia juga sudah setuju?
“Sudah dikasih tahu. Dia mau!” begitu penjelasan Mama. Verina pun tidak bertanya lagi. Bila suaminya sudah tahu dan setuju, ia tentu tidak mungkin menolak. Ia mesti mengikutinya.
“Kamu itu disuruh kerja, malah bengong. Kamu ke sana cepat. Bantu Tina. Mama mau arisan besok!”
“Maaf, Ma. Saya tak bisa,” ujar Verina takut-takut.
Muka Mama kembali tegang. “Apa kamu bilang?”
---------
hai kak,
jangan lupa beri jempol dan komen ya
biar author kian semangat.