Rr

Rr
03. Morin Merasa Tak Enak Hati



Dengan cepat ketiganya melahap sarapan. Mereka seakan tidak menikmati lagi menu sarapan di hotel berbintang empat itu. Kepala masing-masing sudah dipenuhi gambaran keceriaan berjumpa dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan remaja mereka.


“Ayo, ayo...” teriak Morin melihat Sisca yang masih mengedarkan pandangannya begitu mereka sampai di pinggir jalan.


Sisca memandangi hotel yang mereka tempati. Sebagai orang hotel, entah mengapa, ia selalu membandingkan hotel yang didatangi dengan hotel tempatnya bekerja. Menurutnya, hotel di kawasan Medan Petisah ini hanya kalah tinggi dengan hotelnya di Sibea-bea di pinggiran Danau Toba. Untuk penampilan dan pelayanan tidak jauh berbeda.


Ketiganya melintasi jalan yang tak begitu ramai. Karena masih pagi dan hari libur pula. Meneruskan jalan di trotoar sekitar 200 meter mereka segera disambut pintu gerbang yang penuh dengan papan bunga. “Wah, hebat! Ramai papan bunganya,” celetuk Nadia senang.


Tapi Sisca cemberut. “Aduh, kenapa tidak ingat ya. Mestinya buat papan bunga juga aku,” katanya menyesali kelupaannya. Tidak saja menambah kemeriahan tetapi juga bisa untuk promosi hotel, pikirnya.


“Tuh, masih ada petugas bunganya. Mungkin bisa pesan pada mereka,” kata Nadia menyarankan.


“Masih pagi ini, belum terlambat,” ujar Morin pula.


“Tunggu ya aku jumpai mereka,” kata Sisca seraya mendekati dua orang petugas yang tengah memasang papan bunga. Ia minta dibuatkan papan bunga berukuran besar. Ternyata masih bisa. Diserahkannya kartu namanya. “Dari hotelnya itu saja. Tak perlu nama aku,” katanya dan langsung membayar biayanya.


Sisca kembali mendekati Morin dan Nadia dengan tawa senang. “Untung sekali masih bisa.” Di kepalanya sudah tergambar papan bunga besar dengan nama Hotel Grand Sibea-bea terpampang. Ha ha sekalian promosi, katanya dalam hati.


“Sepertinya belum ramai yang datang,” kata Nadia setelah melihat hanya beberapa mobil yang terparkir di halaman depan sekolah. “Apa kita yang kepagian?”


“Betul, kita yang kepagian,” ujar Morin membenarkan. “Baru pukul delapan lebih.”


“Baguslah kita kepagian dari pada terlambat,” kata Sisca menahan senyum.


Morin tak mau meledek meski ia tahu arah ucapan Sisca. Ia maklum saja dan hanya berkata, “Tentulah lebih baik.”


Sudah banyak berubah. Tapi bangunan sekolah bagian depan belum berganti semua. Masih bangunan lama satu lantai dan tampak dengan jelas ketuaannya. Halaman depan tampak asri dengan bungan dan tanaman pelindung.


Menjelang sampai lorong di antara bangunan sekolah Sisca menahan langkah. Ia berpaling ke samping kiri. Tampak barisan pot besar dan kecil yang ditumbuhi beragam bunga. Di belakangnya berdiri tembok pembatas dengan bangunan di sebelahnya.


Sisca menarik mata dengan nafas kecewa. Dulu di sana adalah tempat parkir sepeda motor. Dan ia belum lupa. Sepulang sekolah ia seringkali ke sana. Bukan mengambil sepeda motornya yang parkir di situ. Melainkan mengikuti Timo yang akan mengantarnya pulang dengan sepeda motor besar yang bunyinya melengking bagai suara pabrik. Duh, kenapa tak ada lagi tempat parkir itu?


“Oii mak! Besarnya!” teriak Morin memecahkan kenangan Sisca dengan tempat parkir. Sisca dan Nadia pun tercengang dengan mata melotot. Tenda besar dan tinggi melingkupi halaman tengah. Tenda dengan beragam warna. Meriah sekali. “Aku kira acaranya di aula. Ini bakal rame sekali,”


Belum sempat ketiganya mengatupkan mulut menelan kekaguman, mereka sudah disambut sapaan para penerima tamu yang berpakaian seragam. “Selamat pagi kakak. Selamat datang. Silahkan isi dulu buku tamunya.”


Nadia yang pertama mengisi buku tamu karena dekatnya yang berjalan di sisi kiri. “Tolong sekalian ya,” kata Sisca yang masih mengedarkan pandangan.


“Heh, mana bisa? Pakai tanda tangan dan tulis nomor HP juga.”


Baru puluhan orang yang datang. Taksiran Sisca kursi yang terbagi dua tempat dengan jalur jalan di tengahnya bisa diduduki 400 hingga 500 orang. Di kedua sisi terlihat deretan meja yang sebagiannya sudah terisi dengan minuman dan kotak-kotak kue. Juga masih banyak papan bunga di depan bangunan sekolah yang melingkari halaman tempat acara reuni.


“Sepertinya belum ada teman kelas kita yang datang,” sebut Sisca setelah menatap satu per satu para tamu yang sudah duduk.


“Makanya kita jalan-jalan dulu,” kata Morin. Sisca langsung setuju. Tapi Nadia yang masih merasa capek dengan perjalanan semalaman naik bus dari Padang mencari alasan, “Aku tungguin di sini. Sekalian jaga kursi,” tunjuknya pada barisan kursi kedua dari depan.


“Betul juga. Bisa kehilangan posisi strategis kalau tidak dijaga.“


Morin dan Sisca cengengesan. Ia menarik tangan Morin yang segera tahu tujuannya ke mana. Begita sampai di belakang tenda makanan terdengar suara keterkejutan Sisca. “Heh, sudah bangunan baru.”


“Aduh, hilang lagi tempat kenangan kita,” geleng Morin melihat deretan kelas yang sudah berganti bangunannya.


Sisca tidak menghentikan langkah. Ia mendekati bangunan yang menurut perhitungan peta ingatannya adalah kelas mereka dahulunya. Meski begitu ia memerlukan dukungan Morin. “Di sini kan kelas kita dulu?”


Tapi bukan dukungan yang didapatkannya. Sebab Morin berkata, “Tak pasti juga. Posisi bangunan baru ini beda dengan yang lama.”


“Iya juga ya,” gumannya. Sisca tegak tertegun. Ia mencoba mengembalikan memorinya. Beberapa jenak kemudian ia memastikan tidak lupa. “Betul di sinilah kelas kita itu. Aku ingat sekali kelas kita itu dulu kalau diluruskan ke halaman tengah ini persis sejajar dengan tiang ring bola basket. Nah, itu tiangnya di sana,” tutur Sisca menunjuk tiang gawang bola basket di tengah halaman di antara deretan baris kursi.


Dalam hati Morin memuji ingatan sohibnya itu. Namun ia lebih suka mengikuti keisengannya. “Sepertinya posisi lapangan basket sudah berganti juga.”


Sisca menggeleng cepat. “Tidak!” ujarnya pasti. “Lapangan basket terletak paling pinggir. Beberapa meter di sebelahnya rak beton dua tingkat. Dulu tempat duduk tempat kita nonton kalau ada tanding basket. Kamu ingat kan?”


“Ingat. Tapi tempat itu sudah tak ada lagi. Sudah jadi halaman,” kata  Morin pula yang menyebabkan Sisca ragu sendiri dengan ingatannya.


Namun ia masih berusaha mencari kepastian. Beberapa lama kemudian wajahnya kembali cerah. “Kelas kita itu dua ruangan dari pojok bangunan,” ujarnya mendapatkan ingatan baru. “Bangunan ini tetap enam lokal seperti dulu itu. Betul bangunan baru, tapi panjangnya masih sama dengan bangunan lama. Masih enam lokal juga,” tambahnya.


Morin membenarkan. Tidak salah hitungan Sisca. Namun dalam hati saja.


“Betul, betul,” kata Sisca tertawa memastikan. “Inilah kelas kita dulu.”


“Kalau betul trus untuk apa?” tanya Morin berlagak bodoh.


Sisca pun bertanya pada dirinya. Untuk apa? Susah-sudah ia mengembalikan ingatan ke belasan tahun yang lalu hanya untuk memastikan lokal terakhir mereka di sekolah ini. Tetapi setelah didapatkanya kepastian itu ia pun bertanya apa keperluannya. Mengembalikan kenangan indah masa SMA?


“Bagaimana bisa mengingat yang lama bila lokal dan bangunannya sudah berubah?” tanya Morin enteng.


Morin tahu sekali apa yang ada dalam pikirannya. Tapi perkataan Morin itu terasa menusuk jantungnya. Sisca memalingkan kepala. Tak jadi menengok ke dalam jendela kaca. Ia bergegas melangkah tanpa suara.