
Verina menyebutkan ia sedang tidak enak badan. Tidak bisa membantu Bik Tin di dapur. Tetapi Mama mertuanya bukannya percaya. Malah bertambah marahnya. “Pandai betul kamu cari alasan!” dengusnya dengan mata berkilat.
“Betul, Ma. Saya datang...”
“Sudah! Sudah!” Mama berbalik. Ia melangkah cepat setelah menghentakkan kaki.
Verina memandangi hingga mertuanya itu hilang di balik pintu. Ia menghempaskan badan di kursi sofa. Kemarahan mertua itu bukan hal yang baru bagi Verina. Dan nyaris dilontarkan setiap kesempatan bertemunya. Seakan tidak kehabisan bahan. Ada saja yang dipermasalahkan untuk memojokkannya.
Hubungan Verina renggang dengan mertuanya setelah dua tahun ia menjadi penghuni baru di rumah keluarga Mirwan Darmawan. Verina dinilai tidak mampu memenuhi harapan mereka: menghadirkan seorang cucu.
Sebagai seorang istri dan seorang wanita, Verina bukannya enggan punya anak begitu pernikahannya dengan Timo terlaksana. Ia ingin sekali punya anak. Di malam-malam mereka memadu kasih, ia selalu menyebutkan ingin punya banyak anak.
“Setidaknya 6 orang. Biar bisa punya klub bola voli,” kata Verina. Meski itu dianggap canda, namun Verina sangat serius dengan keinginannya punya anak. Tidak saja memenuhi harapan keluarga Mirwan. Tetapi memang itu salah satu tujuannya berumahtangga. Punya anak. Punya keluarga yang bahagia. Ramai dan meriah setiap hari.
*
Sisca menggeliat sambil membuka mata. Di balik gorden putih terlihat rona terang. Cahaya pagi masuk di antara belahan kain penutup kaca. Di sebelah, Morin terlihat masih memeluk bantal guling. Sisca bangkit dari spring bed.
Sisca mendekati jendela kaca dan menyibakkan gorden. Cahaya pagi merembes di antara bangunan tinggi di seberang jalan. Sisca duduk setelah meneguk air mineral dalam botol. Kabut pagi berangsur meninggalkan puncak-puncak gedung. Ia meneruskan pandangan ke sebelah bangunan tinggi berkaca warna silver.
Di seberang jalan berjalur dua, terlihat bangunan berlantai dua melingkari halaman yang cukup luas. Ada dua lapangan bola basket dalam halaman luas setelah gerbang. Di kedua sisi halaman tumbuh bunga-bunga dan pohon pelindung. Di bagian belakang berderet beberapa bangunan yang lebih tinggi dari yang ada di depan.
“Sudah banyak yang berubah,” gumam Sisca. Dulu belum ada bangunan tinggi berwarna silver. Kalau tak salah waktu itu masih tanah kosong. Pun hotel ditempatinya sekarang. Sisca tidak lupa. Di lokasi ini banyak rumah warga yang beberapa di antaranya berjualan makanan dan minuman.
Sudah banyak yang berubah. Hanya bangunan di depan halaman sekolah yang masih bangunan lama. Ada lorong besar di tengahnya yang merupakan jalan ke bangunan yang berada di belakang. Sisca belum lupa. Bangunan sebelah kiri paling ujung adalah lokalnya saat kelas tiga.
“Lihat apa kamu?” tanya Morin yang masih merebahkan badan.
“Sini. Kamu lihat. Sudah banyak berubah sekolah kita dulu,” ajak Sisca tanpa mengalihkan pandangan.
Morin turun dari spring bed dan berdiri di sebelah Sisca. “Sudah lima belas tahun. Tentu sudah banyak yang berubah. Hotel ini aja belum ada waktu itu. Kamu ingat, di sini dulu kedai lontong yang sering kita jajan.”
“Betul. Betul. Tapi dah lupa aku nama ibu yang jual lontong itu.”
Morin mencoba mengingat dan kemudian menggeleng. “Aku pun tidak ingat pula. Ibunya gemuk tapi suka ketawa.”
“Bukan hanya ibu itu dengan kawan-kawan sekelas pun aku sepertinya tidak ingat semuanya. Mungkin kalau ketemu nanti baru ingat. Ah, jadi pingin segera jumpa mereka.”
Morin menghela kursi dan duduk. “Tapi dengan Timo kamu pasti tidak lupa kan?” ledek Morin tertawa.
Sisca melirik dengan senyuman. “Penasaran juga seperti apa penampilan dia sekarang.”
“Pasti tambah ganteng dan bonafit. Kamu tak pernah jumpa semenjak kita tamat?”
Sisca menggeleng. “Bisa juga sebaliknya.” Tapi segera ditimpanya perkataan itu. “Semoga saja tidak begitu.”
“Pasti belum ada yang datang. Acaranya pukul sembilan. Masih lama. Sekarang baru jam tujuh,” ujar Sisca melirik jam.
“Kita ke restoran hotel dulu sarapan. Jangan-jangan ada kawan kita yang juga nginap di hotel ini. Bisa ketemu mereka. Ramai itu. Ayo mandi.”
Tanpa menunggu persetujuan, Morin berdiri bergegas ke toilet. “Aku duluan ya.”
Sisca setuju. “Wah, benar juga. Pasti ketemu di restoran.”
Setengah jam kemudian keduanya turun ke lantai satu. Morin menggunakan celana kulot warna hijau muda dipadu dengan kemeja dan hijab putih. Berpenampilan agak formal. Ia juga menambahkan ikat pinggang di bagian bawah agar bentuk badannya terlihat kurus. Sementara Sisca lebih santai dengan celana jeans selebor dengan bagian atas t-shirt hitam agak ketat yang dibaluti blazer motif kotak-kotak.
Mereka disambut dengan keramahan standar hotel berbintang dengan mengantar ke meja tengah sisi kanan. Begitu duduk Sisca mengedarkan mata. Sudah banyak tamu hotel yang sarapan. Mengembalikan pandangannya dengan wajah muram, Sisca menggeleng. “Sepertinya tidak ada yang aku kenal.”
“Kita ambil sarapan dulu. Mungkin bentar lagi ada kawan-kawan kita yang turun,” ujar Morin seraya beranjak ke meja tempat menu sarapan yang tertata dengan apik. Cukup banyak pilihan menu sarapan. Morin mengambil bubur kancang hijau, dua potong roti, buah-buahan dan teh hangat dengan creamer. Sementara Sisca tertarik dengan nasi goreng putih, roti panggang, jus buah dan white coffee.
“Aku yakin reuni kita nanti bakal meriah. Banyak yang datang karena ini ulang tahun ke 30 sekolah kita. Seperti kamu dan aku baru kali ini datang.”
“Aku karena jauh saja. Kalau masih tinggal di Medan atau kota-kota terdekat pasti datang,” kata Sisca beralasan.
“Sekarang sudah dekat kan.”
“Tak jauh memang tapi kerjaan yang banyak. Hotel kami yang di Toba itu baru beroperasi enam bulan ini. Banyak yang harus ditangani.” Sisca menghentikan suapannya. “Kamu sendiri yang tinggal di Sibolga tak pernah datang.”
“Tahun-tahun kemarin itu susah ninggalin anak-anak. Masih kecil-kecil. Ke depan tidak lagi. Aku bakal datang bila ada kegiatan reuni.”
Morin melayangkan pandangan pintu masuk restoran dan kemudian menujuk lurus ke depan. Ia berteriak dengan wajah cerah, “Itu yang gemuk berbaju biru sepertinya teman kita. Aduh, lupa aku namanya. Siapa ya?”
Sisca mengikuti arah tunjuk Morin. Seorang wanita berjibab berpakaian dress biru masuk ruang restoran. Ia memutar ingatan. “Sepertinya dulu tidak berkacamata. Aku ingat. Dia Nadia. Ya, pasti Nadia itu,” kata Sisca seraya menaikkan tangan menggamitnya. “Nadia, Nadia sini.”
Wanita itu memandang dengan mata bulat. Detik kemudian ia tersenyum dan melangkah dengan cepat ke arah Morin dan Sisca. Badannya bergoyangan. “Kamu Sisca dan Morina?” tunjuknya dengan mulut terbuka.
Morina dan Sisca berdiri mengembangkan tangan. Ketiganya berpelukan. “Lima belas tahun kita tak jumpa ya. Wajah saja kalau sudah lupa-lupa ingat.”
Ketiganya saling mematut. “Kamu tinggal di mana?
“Aku di Padang. Malam tadi nyampe. Kalian berdua nginap di sini juga?”
“Aku dan Sisca sampai sore. Barengan.”
Meski meja porsi enam orang itu isinya hanya bertiga, namun meja di tengah sisi kanan itu sibuk dan meriah. Sibuk menceritakan diri mereka masing-masing dan meriah dengan tawa dan ledekan. Mereka menyampaikan kerinduan dan kegembiraan bisa berjumpa.
“Pasti bakal meriah reuni kita nanti,” kata Nadia yang mengaku memerlukan kekerasan hati untuk bisa datang. “Karena penasaran ingin melihat kawan-kawan lama.”