
“Baik, Bos. Aku cari calon tikus ya. Takutnya macet lagi. Sudah jam pulang kantor soalnya.”
Sisca menyerah kendali sepenuhnya pada Aritonang. Medan sudah lama ditinggalkannya. Ia tidak paham lagi dengan jalan. Apalagi jalan tikus.
Sisca seakan meninggalkan beban berat di hotel. Begitu mobil mobil CUV Aritonong meninggalkan gerbang hotel lalu berbelok menyusuri Jalan Gatot Subroto, kepala Sisca terasa ringan. Ia menyandarkan badan dengan enteng.
Sisca masih sempat menoleh ketika mobil lewat di depan SMA-nya. Tanaman pelindung yang berbaris di pinggir halaman sekolah seperti melambaikan tangan kepadanya. Sisca tersenyum miring. “Selamat tinggal masa lalu,” ujarnya tercekat.
Sisca mencoba menikmati perjalanan. Namun tidak ada yang bisa dinikmati selain jalan-jalan dalam kawasan pemukiman yang padat dan berdesakan. Setelah berliku mengikuti jalan kecil dan berputar-putar, mobil pindah ke jalan tol. Jalan pun lapang dan lega. Begitu mobil melaju kencang dengan tenang tanpa guncangan, Sisca merasa beban pindah ke kelopak matanya. Ia memejamkan mata.
Terbawa ke dunia lain yang tenang dan nyaman beberapa lama, Sisca kemudian terbangun. “Kita sampai di rest area, Bos. Aku isi BBM dulu,” kata Aritonang menurunkan Sisca di depan salah satu restoran.
Ternyata sudah malam. Lampu-lampu di rest area tampak berkilauan dengan beragam warga. Terbiasa selama dua tahun lebih pandemi Covid-19, Sisca pun memasang masker sebelum masuk restoran.
Sisca menunggu Tonang. Ia pun merasa belum lapar. Ia mengedarkan pandangan. Tamu restoran cukup ramai. Tinggal beberapa meja yang kosong. Semuanya tentulah pengguna jalan tol yang tengah melakukan perjalanan. Pakai mobil pribadi atau bus.
Mata Sisca terhenti pada deretan meja sebelah kiri di dekat jendela kaca. Pada seorang pria pakai topi. Ia duduk sendirian di depan meja kecil yang panjang menghadap ke halaman. Dari tempat duduknya Sisca hanya melihat punggung dan sisi badan sebelah kanan.
Heh! Bukankah itu dia? Mata Sisca terbelak tidak percaya. Meski malam diterangi cahaya lampu, Sisca yakin tidak salah dengan pandangannya. Diperhatikannya lebih teliti. Ia pakai topi dan tidak kelihatan rambutnya. Melihat raut wajah yang panjang, hidung tipis serta kumisnya yang hitam lebat, Sisca tidak ragu dengan matanya.
Namun Sisca belum yakin sepenuhnya. Bisa saja orang lain yang mirip dengannya. Tidak sedikit orang yang berwajah sangat mirip. Bagaimana mungkin ia ada di sini?
Sisca tidak mengalihkan pandangan. Wajahnya yang hanya tampak bagian mata ke atas membuatkan tidak takut memperhatikan pria itu. Lagipula jaraknya agak jauh. Sisca yakin pria itu tidak tahu kalau ia diperhatikan.
“Bengong saja, tak pesan makanan Bos?” usik Tonang yang telah duduk di depan Sisca.
“Kamu saja,” katanya menggeleng. “Belum lapar.”
Ketika kemudian pelayan datang, Sisca pesan minuman sari buah. Sebetulnya ia enggan melepaskan masker bila menyantap makanan. Pikirannya masih tentang pria berjaket kulit warna hitam itu. Ia masih mencari cara bagaimana melihat pria dari depan dan dari dekat.
Belum ia mendapatkan apa-apa, pria itu terlihat berdiri. Badannya cukup tinggi dan berisi. Ia menyandang tas lalu berjalan meninggalkan meja. Ia berjalan ke arah meja Sisca duduk yang dekat dengan pintu.
Begitu melihat wajah dan cara berjalannya, Sisca berteriak dalam hati. Tidak salah lagi. Memang dia. “Timo!” ujarnya ketika pria itu berjalan di samping kanannya. Balutan masker memberikan keberanian padanya.
Pria itu menghentikan langkah dan menoleh. “Ya, saya Timo. Siapa ya?”
Sisca terperanjat. Reflek matanya terbelalak seraya memiringkan kepala. Ia bagai kehilangan nafas. Pria itu tersenyum. “Maaf, bisa dibuka maskernya.”
“Icis! Kamu Icis kan?” teriak pria itu tidak kalah kagetnya.
Tidak salah lagi. Adalah Timo satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilnya Icis. Teman-teman sekolah, rekan kerja atau pun keluarga di rumah kalau tidak memanggilnya Sis, Sisca pastilah Ika. Icis adalah panggilan dari Timo seorang.
Timo mengembangkan tangan lalu merangkul. Sisca pun terbenam dalam pelukan pria yang ditunggu-tunggunya di acara reuni. Tonang bengong mendengar manejernya terisak dalam rangkulan pria itu.
Setelah menenangkan hati atas kekagetan luar biasa dengan pertemuan di rest area yang tidak disangka-sangka itu, Timo bercerita perjalanannya terhalang karena jembatan yang roboh di daerah Cikampak, Tak jauh dari perbatasan Riau dengan Sumatera Utara. Ia bersama ratusan kendaraan yang terjebak dalam kemacetan tidak bisa bergerak mencari jalan alternatif selain terpaksa menunggu jembatan darurat dipasang.
“Sebelumnya aku memastikan akan hadir pada acara reuni itu,” katanya meyakinkan Sisca.
Keduanya sama-sama tidak percaya mereka bisa berjumpa. Tidak di arena reuni yang mereka rencanakan. “Benar-benar anugerah besar. Luar biasa sekali perjumpaan ini,” ujar Timo yang tak henti-hentinya memperlihatkan luapan kegembiraannya.
Sisca pun bercerita tentang meriahnya acara reuni. Banyak teman-teman semasa SMA itu yang datang. Tidak sedikit yang datang jauh dari Kalimantan dan Minahasa karena memandang penting dan perlunya. Sisca juga bercerita tentang Nadia dan Morin. Beberapa cerita sengaja dilebihkannya menggambarkan berkesannya acara reuni hingga membuat Timo benar-benar merasa rugi. Hanya soal dirinya yang sampai uring-uringan menunggu seseorang yang tak diceritakannya.
“Untuk apa lagi ke Medan? Semua sudah balik ke daerah masing-masing,” kata Sisca ketika Timo berencana akan ke Medan juga.
“Ya, untuk aku ke sana?” tanya Timo pada dirinya. Timo mengaku kecewa sekali tidak bisa mengikuti acara reuni. Padahal ia sudah jauh-jauh hari mengagendakannya. Ia bahkan sempat bersitegang urat leher dengan Verina sebelum berangkat.
“Kok pindah ke mobil kamu?” tanya Sisca heran ketika Timo menyuruhnya pindah mobil.
“Aku antar kamu!”
Sisca menjelaskan ia memakai mobil hotel. “Aku bersama dia. Tak perlu diantar,” elaknya menunjuk Tonang.
Tapi Timo tetap memaksa. Ia membujuk Tonang jalan sendirian. Duluan. Memperlancar bujukannya Timo menyodorkan dua bungkus rokok pada driver hotel bertubuh gendut itu. Tonang pun terkekeh. Ia segera melompat naik mobil.
“Tempat tinggal aku masih jauh lho,” jelas Sisca. Sisca bukannya keberatan diantar Timo. Sejujurnya ia suka. Bukankah bertemu dengan pria ini yang diharapkannya? Bukankah pria ini yang menyebabkan ia bersemangat datang ke acara reuni.
“Tak masalah. Aku antar sampai-sampai.”
Sisca percaya dengan Timo. Tapi ia tidak percaya pria masih sendiri. Dan ia tidak mau kepergiannya sekarang ke Sibae-bae memicu hawa panas dalam keluargannya. Kegembiraan besar yang menyembur dari sudut hatinya yang lain membuat Sisca sangsi sendiri dengan sikapnya.
Dia hanya mengantar. Mengapa aku sampai berpikiran negatif? Lalu kenapa tidak mensyukuri perjumpaan ini? Bukankah ini impian kamu sendiri?
Perjalanan malam di jalan yang turun naik dan berliku membuat kepala Sisca tidak bisa berpikiran dengan jernih. Kata-kata indah Timo ditingkahi gelak tawa yang khas membuat Sisca terperangkap di antara kenangan masa lampau dan impian masa depan.