
“Ya, tak apa,” ujar Sisca.
Morin tidak melepaskan rengkuhannya. Ia belum puas dengan kalimat pendek itu. “Bilang iyanya dengan senyuman,” kata Morin. Sisca bergeming. “Senyum dong,” rayu Morin lagi.
“Iya he he.”
Gantian Morin yang memberengut sambil melepaskan tangannya. “Masih belum tulus senyumannya,” katanya merajuk.
Dan itu membuat Sisca melepaskan kejengkelannya. “Sudah setulus-tulusnya.” Sisca menghela tangan Morin. “Sudah rame tuh. Lihat sana!”
Betul sudah ramai. Kursi bagian depan sudah hampir penuh. Suasananya pun sudah seperti di pasar. Keduanya tidak bisa langsung ke tempat duduk Nadia yang sudah melambai-lambaikan tangan. Sisca dan Morin jumlah beberapa teman sekelas mereka. Jumpa teman lama harus diteruskan dengan cipika-cipiki seraya bertanya apa kabar masing-masing.
Makin ramai yang datang. Sisca dan Morin segera menuju kursi dua di sebelah Nadia yang sudah kepayahan menjagainya. Menjelang duduk Sisca melayangkan pandangan segala arah. Namun tidak terlihat yang dicarinya.
Sisca pura-pura tidak mendengar ketika Morin menyeletuk. “Kok Timo belum tampak ya.” Ia menaikkan dagu memandangi panggung. Seakan mengikuti acara seremonial sudah dimulai. Sebagaimana biasa tentu penuh dengan sambutan. Sambutan guru, kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan dan perwakilan alumni.
Hanya beberapa perkataan yang masuk ke dalam kepalanya. Selebihnya masuk ke telinga kiri lalu keluar melalui telinga kanan. Meski tidak terlalu penting tetapi sambutan atau pengarahan itu tetap harus ada. Sebab begitulah lazimnya.
Sisca lebih banyak meletakkan matanya pada lorong masuk di antara bangunan sekolah daripada ke panggung. Ia penasaran dan ingin sekali melihat bagaimana sosok Timo sekarang. Tentu sudah sebagai pria dewasa. Tapi kenapa dia belum datang juga?
Acara seremonial berlalu dengan lamban. Sisca malah merasakan pantatnya kepanasan karena lama duduk. Dan ia mulai gelisah. “Banyak betul yang pidato,” rungutnya.
Morin tahu penyebab kegelisan Sisca tapi ia menahan mulut. “Tentu harus ada acara resminya. Sambutan dan pengarahan. Sabar. Bentar lagi juga selesai,” kata Morin.
Tapi Nadia bukan saja tidak bisa menahan mulut ia malah mengusik. “Betul datang juga jagoan kita,” katanya.
Sisca tidak mengalihkan mata dari panggung seakan tidak mendengar perkataan dari sebelahnya. Nadia mengoyangkan ujung sikunya. “Infonya sekarang dia di mana?”
“Di Riau.” Morin yang menjawab.
“Mungkin saja dia terlambat. Aku dengar jalan dari Riau itu jauh lebih parah dari Sumbar. Aku yakin dia datang. Betul tidak Rin?”
Sisca masih diam. Pura-pura menikmati nyanyian di atas panggung.
“Aku pun berharap begitu,” kata Morin melirik Sisca.
Sisca baru mulut ketiga Morin di sebelah kanan dan Nadia di sebelah kiri sama-sama melirik padanya. “Orang yang tidak datang untuk apa diomongin,” kilahnya.
“Tapi dalam hati berharap dia datang kan?”
Sisca merasa tidak perlu menjawab. Keduanya pasti tak percaya kalau ia mengatakan tidak. Bagaimana pun kilahnya. Sejujurnya, kata Sisca pada dirinya, kalau pun berharap ia hanya ingin melihat penampilan Timo sekarang. Tidak lebih dari itu. Meski tidak tahu pasti, tapi ia yakin Timo sudah punya istri. Sudah berkeluarga dan mungkin sudah punya anak. Apalagi lagi yang bisa diharapkan darinya?
Selesai sudah sambutan dan pengarahan. Sudah masuk pada acara hiburan. MC-nya ternyata alumni yang seangkatan dengan Sisca. Hendro dan Puti yang saat masih sekolah sudah menjadi penyiar radio swasta. Keduanya selalu menjadi andalan MC dalam setiap acara di sekolah.
“Jangan-jangan masih di radio,” kata Nadia pula.
“Kamu siapa-siap saja, nanti pasti dipanggil,” kata Sisca pada Morin.
Dulu, saat angkatan mereka kelas 2 dan 3 SMA, tidak ada yang tidak kenal dengan Morin A Sidabutar. Dia adalah siswa SMA Petisah Teladan yang jago nyanyi. Morin selalu mewakili sekolah bila ada lomba nyanyi atau kegiatan yang berhubungan dengan kemampuan olah vokal. Ia bersaing dengan seorang siswi lainnya yang Sisca sudah lupa namanya.
“Pasti dipanggil,” ulas Nadia. “Apalagi MC-nya mereka berdua itu.”
“Tak masalah. Amanlah itu,” tanggap Morin santai.
Tidak salah dugaan Sisca dan Nadia. MC memanggil Morin naik ke panggung. “Adik-adik yang dibawah kami mungkin tidak tahu. Kak Morin A Sidabutar ini pernah menjuarai ajang lomba bintang radio televisi tingkat Sumatera Utara untuk kategori pelajar. Kalau saat itu sudah ada Idol atau X Factor mungkin dia bisa juara juga,” teriak Hendro.
Sisca dan Nadia berteriak kencang. “Nah, betul kan!” Sebagian besar alumni yang kenal dengannya mengelu-elukan nama Morin.
Morin berdiri. “Aku nyanyikan lagu kesukaan kamu,” kata Morin sebelum melangkah.
Lagu kesukaan aku? Sisca pun bingung. Lagu kesukaannya banyak. Nyaris semua penyanyi wanita terkenal mancanegara ia suka.
Ia suka dengan Katy Perry yang bernama asli Katheryn Elizabeth Hudson itu. Ia suka semua nyanyi di album yakni Teenage Dream pada tahun 2010 yang langsung berhasil berada di puncak tangga musik Billboard 200 AS. Ia juga ngebet mendengarkan lagunya yang berjudul “All Too Well” dari Taylor Swift.
Sisca juga merasa sudah meninggalkan penyanyi Rihanna. Lagu terbarunya yang berjudul “Umbrella” yang paling populer hingga sekarang dan berhasil mendapatkan penghargaan Grammy Award pertamanya dalam kategori Best Rap and Sung Collaboration adalah satu lagu favoritnya.
Lady Gaga ia juga suka. Lagu penyanyi bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini yang enak dipendengarannya adalah lagu “Poker Face” dan “Bad Romance”. Jadi, lagu siapa yang dimaksudkan Morin?
Terasa lama penantian Sisca dengan balutan rasa penasarannya. Sebab Morin menyalami para guru yang duduk di depan sebelum naik ke atas panggung. Dengan mantan wali kelas 3IPA3, ibu Rohana, mesti cipika-cipiki pula.
Tiba di atas panggung, Morin tampak bagai penyanyi profesional. Sekilas sosoknya mirip dengan Raisa. Sisca malah berdebar menunggu lagu apa yang akan dinyanyikan Morin.
“Lagu ini khusus aku persembahkan untuk karib setia. Alumni juga dan dia datang sekarang. Siapa namanya? Lebih baik tidak aku sebutkan, biar penasaran,” ujar Morin. Para alumni menyambut meriah dengan teriakan “Hhhuuuu.”
//Mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya// Apa yang ku inginkan di saat-saat ini
Kau takkan percaya kau selalu di hati// Haruskah ku menangis tuk mengatakan yang sesungguhnya.//
Bait awal nyayian yang dilantunkan Morin itu menyentakkan hati Sisca. Ia merasa kenal sekali dengan irama dan nyanyian itu. Ia coba mengingat. Itu lagu lama.
//Kaulah segalanya untukku, kaulah curahan hati ini//Tak mungkin ku melupakan tiada lagi yang ku harap hanya kau.//
Mendengarkan bait kedua itu Sisca berteriak, “Kaulah Segalanya, Ruth Sahanaya!” Beruntung teriakannya kalah kuat dengan nyanyian yang juga terdengar di kursi para alumni. Ramai yang ikut bernyanyi dari kursi mereka. Suara Morin malah ikut tertelan.