Rr

Rr
06. Perlu ke Tukang Reparasi Kunci



Morin mengerti. Maksud Nadia, jangan nyanyian kenangan juga. Makanya Morin pun melantunkan tembang ceria bernada optimis. Tidak cukup satu. Melainkan tiga. Tidak hanya Sisca dan Nadia, semua tamu pub terhibur dan terpukau. Meski masih diminta melanjutkan karena penampilan Morin yang tidak kalah dari penyanyi aslinya namun ia memberi kesempatan pada tamu pub lainnya. “Nanti aku tambahin lagi,” janjinya.


Kian malam kegembiraan di ruangan pub kian meningkat. Terlebih sudah ada yang turun dan berjogel di depan panggung. Nadia pun mengajak Sisca bergoyang. Morin ikut mendorong melihat Sisca masih enggan melepaskan kaki.


Hanya beberapa jenak badan Sisca bergerak dengan kaku. Tidak saja disebabkan goyangan Nadia, ia pun ingin bergembira. Untuk apa bermuram durja? Dengan pikiran begitu kakinya pun menjadi ringan. Setelah itu ia seakan melampiaskan kemurungan siang tadi dengan gerakan kaki dan liukan badan yang membuat tamu pub bergairah melihatnya. Sisca yang berpakaian gaun selutut bermotif bunga dengan kaos ketat lengan pendek bagai menampilkan peragawati yang tengah berjoget.


Tamu pub makin banyak yang pindah ke depan. Bergoyang di dekat panggung. Seakan tidak mau kalah dengan Sisca, para wanita berlomba memperlihatkan kemenarikan goyangan mereka. Tentu saja aksi mereka menjadi hiburan tersendiri bagi kaum pria.


Morin gembira maksudnya dengan Nadia berhasil dengan sempurna. Sisca sudah melupakan harinya yang murung. Sudah tak ingat lagi duka yang membalut. Nyanyian dan goyang terus berganti.


Hari sudah berganti nama ketika mereka masuk kamar hotel. Entah karena pengaruh minuman atau keceriaan di pub masih tersisa, mereka malah tidak bisa tidur. Mata ketiganya masih tegak. Alhasil, mereka bercerita tentang apa saja hingga kemudian kelelahan menjelang subuh datang.


*


Adalah suara telepon yang mengusik tidur Sisca. Ia kemudian terbangun. Jam di dinding menunjukan angka 11:35. Dengan malas ia menjangkat pesawat airphone di meja samping spring bed.


Ia sudah tahu siapa yang menelpon. Setelah mendengarkan suara di gagang telpon yang didahului permintaan maaf, Sisca berkata, “Ya, rencananya memang begitu. Siang ini kami check out,” kata Sisca. “Tapi kami minta waktu ya. Soalnya baru kebangun nih,” sebutnya. Kebanyakan batas waktu check out di hotel hingga 14.00. Tapi ada juga yang lebih cepat.


Morin dan Nadia masih tidur. Mereka sama sekali tidak terganggu dengan deringan telpon dari petugas resepsionis hotel. Kemudian Sisca membangunkan kedua rekannya. “Hei! Orang hotel nanya, kita jadi check out sekarang atau diperpanjang," teriaknya.


Setelah diguncang barulah Morin menggeliat dan mengucek matanya. Nadia pun terbangun. “Apa, apa? Aduh, udah siang ya?”


“Udah sebelas lewat. Kita check out atau nambah?” tanya Sisca lagi.


Nadia terperanjat dan segera duduk. “Aduh, aku ada janji sama saudara. Aku check out,” katanya.


Setali tiga uang dengan Morin. Ia pun tidak bisa memperpanjang nginap di hotel. Ia mengaku sudah punya agenda pula.


“Ya, sudah, Kita check out siang ini. Tapi aku sudah minta waktu, tak perlu buru-buru.” Sisca pun tidak punya rencana menambah waktu berada di Medan. Ia juga akan kembali ke Samosir.


Nadia buru-buru mandi. Ia mengaku janji jumpa saudaranya pukul 11.00. Selesai mandi dan berpakaian ia segera pamitan. Ia bahkan menolak ajakan makan siang sebelum pergi. “Tak enak aku sama saudara. Ini sudah telat,” dalih Nadia.


Sisca dan Morin tak menahan lagi. “Jangan lupa kita komunikasi,” ujar Sisca mengingatkan.


“Tentu sayang,” teriak Nadia.


Kemudian Sisca dan Morin makan siang di restoran hotel. Mereka sudah check out. Travel bag mereka dibawakan office boy turun. Tanpa dapat menunggu lebih lama, usai makan Morin pun meninggalkan hotel. Ia dijemput temannya.


“Kamu tak apa menunggu sendirian kan?” tanya Morin.


Keduanya berpelukan. Lama. “Jaga kesehatan kamu. Jangan kerja terus,” kata Morin di ujung telinga Sisca. “Kamu juga. Jangan menyanyi terus. Segera cari pendamping,” sebut Sisca mengusap-usap punggung Morin.


Morin melepas pelukan dan memandangi dengan kening berkerut. “He! Kamu juga masih sendiri! Ingat itu.”


Sisca tertawa. “Semoga segera kita mendapatkannya.”


Sepeninggal Morin dan Sisca duduk menunggu jemputan, kata-kata itu kembali terngiang-ngiang dalam kesendiriannya. Mendapatkan siapa? Siapa yang datang menjumpai?


Tak ada yang kurang dengan dirinya. Sebagai wanita dengan berpenampilan good looking, bukan tidak ada pria yang tertarik dan serius pada Sisca. Banyak dan ia tinggal pilih. Sebagian besar bahkan tidak pula kalah statusnya dengan dirinya sebagai seorang manejer marketing di sebuah hotel berbintang empat.


Namun, entah mengapa, tidak seorang pun yang dipilihkan. Bukan tidak cocok dengan kriteria atau standar yang ditetapkan. Ia sendiri yang tidak berminat menetapkan pilihan. Ia menolak memilih atau mengelak menentukan dengan sejumlah alibi.


Tetapi sekarang, saat merasa kulit muka mulai berkurang tegangnya, Sisca menyesali diri. Kenapa kemarin-kemarin itu tidak mau memilih dan menetapkan? Kenapa sekarang setelah usianya berkepala tiga ia baru merasa memerlukan kehadiran seseorang dalam hidupanya? Kenapa sekarang? Tidakkah sudah terlambat? Sisca terduduk dengan bombardir pertanyaan-pertanyaan itu di sudut restoran hotel.


Semula ia berharap jumpa dengan Timo di acara reuni. Bukannya berharap banyak. Tapi paling tidak bisa membuka pintu hatinya yang seakan sudah lama tergembok. Entah mengapa, Sisca merasa kunci gembok itu ada pada Timo.


Tapi sudahlah. Pria itu tidak datang. Tidak perlu berharap banyak lagi. Mungkin aku mesti pergi ke tukang reparasi kunci untuk membuka gembok itu, pikir Sisca pula.


Seorang driver mengantar tamu hotel ke Medan. Berjanji akan menjemput Sisca dan mereka sama-sama ke Sibea-bea di Kabupaten Samosir. “Tapi kenapa dia belum datang juga?” keluh Sisca. Jam di tangannya menujukkan pukul 14.10 WIB.


Sebelum Sisca bertanya masuk pesan WA dari Aritonang, driver hotel yang ditunggunya. “Sori buk, mungkin agak telat. Macet parah di jalan mau ke sana”.


Sisca melepaskan nafas. Salah satu masalah yang mesti diterima dengan lapang dada di negeri ini adalah kemacetan. Dipastikannya tidak akan sebentar. Sisca memesan jus guna menyegarkan penantian. Restoran hotel sepi. Hanya berisi tiga meja.


Sisca merasa tampilan ruangan restoran hotel ini kalah bila dibandingkan dengan restoran hotelnya. Ornamen dan dekorasi ruangan oke. Tapi tiang-tiang beton yang berjejeran membuat ruangan restoran terkesan sempit. Beda dengan restoran hotel Sibea-bea yang tanpa tiang. Luas dan lapang. Untuk pelayanan dan menu makanan tidak jauh berbeda. Karena sudah ada standarisasi sesuai dengan tipe dan bintang hotel.


Satu lagi kelebihan hotelnya adalah view yang langsung ke danau. Restoran dan cafe berada di tingkat tiga. Punya pemandangan langsung dan luas ke arah Danau Toba.


Satu setengah jam atau dua jam kemudian Aritonang datang. Tergopoh-gopoh ia masuk restoran dan langsung minta maaf atas kemacetan yang menghalanginya. Ia mendekati travel bag Sisca. “Kita langsung berangkat buk?” tanyanya yang tampak merasa bersalah.


“Santai saja. Kamu mau makan? Tak perlu buru-buru.”


Dengan sikap kikuk Aritonang mengaku memang lapar. Ia hanya bisa minum menunggu kemaca pesan soto Medan. “Kita langsung ke Siabe-bae? Tak perlu ke tempat lain lagi?”


“Kita langsung saja.”