Rr

Rr
05. Karena Lagu Kamu Itu



Sisca mendengarkan lagu itu dengan gemuruh di dada. Bukan menggembirakan atau menghibur. Tetapi malah menyesakkan dadanya. Sisca mengeluh tanpa suara. Aduh, kenapa lagu itu yang dinyanyikan Morin. Lagu yang populer di tahun 90-an itu sudah dilupakannya. Bukan lagi masuk daftar lagu kesukaannya.


Dulu mungkin suka. Belasan tahun yang lalu. Saat lagu itu tengah populer. Saat CD lagu itu diterimanya dari seseorang. Tapi itu sudah lama sekali. Ah, tidak! Aku tidak mau lagi mengingatnya, teriak Sisca dalam hati.


Nadia paham dengan perubahan mendadak yang terjadi dengan Sisca begitu mendengarkan lagu itu. Ia menanggapi dengan santai dan mencoba menularkannya pada Sisca.  “Wah, masih ingat Morin lagu itu,” ujarnya dengan suara datar.


Sisca tidak mendengarkan. Ia juga tidak mendengarkan alunan suara Morin yang berliku. Telinganya dipenuhi desauan angin kegalauan. Ia seperti mendengarkan angin limbubu yang menghentak dan bergulung-gulung di sekitar telinganya.


Nadia melihat pelipis Sisca dipenuhi bintik-bintik bening. Segera bertambah banyak dengan bintik yang kian membesar. Jatuh mengalir dan pecah di sebelah pipinya. “Kamu keringatan Ika,” ucap Nadia heran. Hari masih pagi dan cuaca belum panas. Kipas angin besar yang berdiri di sisi kiri bahkan belum dihidupkan.


Karena tidak ada reaksi, Nadia mengeluarkan tisu lalu menempelkan ke pelipis dan pipi Sisca. Beberapa lembar tisu langsung kuyup dan diusapkannya beberapa lembar lagi. Keringat Sisca terus merembes.


Di panggung Morin masih melantunkan lagu dengan penjiwaan sepenuhnya. Terdengar dari suaranya yang bergetar dan gerak tubuhnya yang meliuk. Penonton terpaku. Terdiam. Tidak kuat lagi mengikuti gerak suara Morin yang membubung tinggi dan meliuk seketika. Morin benar-benar membius para penonton dengan tembang lawas itu.


Dan itu membuat Sisca jatuh. Kepalanya jatuh di pundak Nadia. Ia seperti pingsan atau kehilangan tenaga. Tapi Nadia mendengar nafas karibnya memburu dalam rengkuhannya.


Nadia menghembuskan nafas panjang ketika Morin menyelesaikan lagu Ruth Sahanaya itu. Para penonton bersorak minta tambah. Dalam hati Nadia berteriak; jangan lagu lama lagi Morin!


Teriakan Nadia seperti didengar Morin. Ia terdengar menyanyikan tembang barat. Nadia tak tahu lagu siapa dan apa judulnya. Namun merasa sering mendengarkannya. Meski masih terkulai di atas pundaknya, Nadia berharap Sisca mendengarkan lagu yang dinyanyikan Morin sekarang. Lagu yang ceria dan riang.


Ketika kembali ke kursi usai menyelesaikan lagu keduanya, Morin kaget melihat Sisca. “Kenapa dia? Kenapa?” tanyanya sebelum duduk.


“Mungkin capek,” kata Nadia seadanya.


“Capek? Ah, tadi masih segar bugar. Capek kenapa pula?”


Nadia tidak menjawab. Ia menahan hati untuk berkata meski ia tahu pasti penyebabnya adalah nyanyian yang dibawakan Morin. Ia tidak mau memperkeruh suasana.


Menjadi tanda tanya besar dalam kepala Morin; ada apa dengan Sisca? “Kenapa kamu sayang?” tanyanya memijati pundak Sisca. Morin menyodorkan botol air mineral yang sudah dibukanya. “Kamu minum dulu biar segar.”


Sisca menggerakkan kepalanya. Terasa berat. Ia membuka mulut menghisap ujung pipet yang dipegang Morin. Usai minum ia bagai mendapatkan tenaga dan segera menaikkan kepala dari pundak Nadia. Ia mencoba tersenyum.


Morin tergelak pendek. “Pasti karena lagu kenangan itu. Kamu terhanyut. Iya kan?”


Sisca diam saja. Namun gerak tubuhnya mengatakan iya. Melihat reaksi Sisca tidak seperti yang dikuatirkannya, Nadia segera berujar pasti. “Iya karena lagu kamu itu!”


Morin kembali tergelak. “Jangan terlalu dihayati. Kenangan seringkali menghanyutkan bila diikuti.”


Sisca menegakkan badan setelah minum air mineral lagi. Kenapa aku hanyut? Kenapa cengeng betul? Ia menoleh pada Morin dan Nadia seakan menyesali diri kenapa mesti terhanyut dengan kenangan masa lalu karena nyanyian itu. “Cengeng sekali aku ya,” katanya pada dirinya.


“Kenangan memang membuat orang cengeng dan lupa diri,” kata Morin pula.


“Nyanyian kamu itu membuat Sisca lupa diri,” sebut Nadia.


“Oh ya?”


“He he itu karena aku yang nyanyi.”


“Sangat menjiwai.”


“Dan menghanyutkan.”


Acara reuni yang berlangsung hingga petang itu memang menghanyutkan. Tidak kurang dari 600 orang yang datang. Dari berbagai angkatan. Usai makan siang acara kian santai dan akrab. Tampilan pun berganti. Tidak lagi seperti orang tengah muktamar atau rapat akhir tahun. Berganti dengan meja dan kursi seperti di restoran yang duduk melingkar. Lebih santai dan akrab.


Timo sepertinya tidak datang. Melalui kesepakan yang tidak diketahui Sisca, keduanya bergantian permisi dengan alasan mau ke toilet. Tetapi mereka sesungguhnya mencari Timo di antara ratusan meja yang memenuhi halaman tengah sekolah.


Morin dan Nadia sama-sama tidak menemukan pria terselip di antara ratusan alumni. Mereka sampai pada kesimpulan yang menyakitkan: Timo tidak datang! Namun keduanya tidak berbicara sepatah kata pun tentang hal itu. Mereka tidak ingin membuat Sisca bertambah murung.


Memang tidak hanya Timo yang tak datang. Menurut catatan yang didapatkan Morin dari panitia, dari kelas 3IPA3 tahun angkatan mereka sebanyak 12 orang yang tidak datang dari 30 orang jumlah seluruhnya. Namun ketidak-datangan Timo menjadi ganjalan bagi mereka. Terutama bagi Sisca.


Menjelang usai acara reuni, banyak kesepakatan yang dihasilkan. Banyak rencana dan agenda alumni yang disepakati. Juga terbentuk terbentuk pengurus alumni. Namun tidak satu pun yang tinggal di kepala Sisca. Ia kembali ke hotel dengan kepala tertunduk dan mata berkabut.


Morin dan Nadia paham dengan wajah Sisca yang berselimut duka. Namun mereka bersikap seolah-olah tidak tahu. Keduanya menampilkan kegembiraan layaknya berjumpa teman lama. Tidak ingin mengusik kebersamaan mereka yang tinggal semalam, Nadia bahkan ngotot pindah ke kamar Morin dan Sisca.


“Pakai extra bed maksud kamu?” tanya Sisca heran.


“Kita bertiga seranjang. Hanya aku sendiran yang berbodi sehat sempurna kan?”


“Kami?”


“Kalian berdua bagai orang tak pernah makan nasi.”


Sesungguhnya Nadia bermaksud menyempurnakan kegembiraan dan kesenangan mereka bertiga mengikuti kegiatan reuni ini. Ia tidak mau kegembiraan Sisca sumbing karena tidak datangnya Timo. Paling tidak, ia ingin tidak ada kemurungan di wajah Sisca sampai mereka berpisah esok siang. Morin yang selalu bicara apa adanya dipikirnya tidak mampu menyembuhkan Sisca sendirian.


Usai makan malam di restoran hotel, Nadia mengajak ke pub. “Penyanyi ini harus menghiburkan kita. Bila perlu sampai pagi.”


Morin tentu bagai pemain sepakbola diajak ke lapangan sintetis terbaru. Ia menahan tawa. Tenggorokannya mungkin sudah gatal, hanya bisa beberapa lagu di acara reuni. Sementara bagi Sisca tak alasan darinya untuk mengatakan tidak.


Tidak begitu ramai pub malam itu. Kepala pelayan yang datang bertanya pesanan minuman, Nadia mengatakan ia akan turun bernyanyi. “Kamu bisa nyanyi?” tanya Sisca.


Nadia terkekeh. “Belum tahu saja kamu.”


Ketika kemudian sampai waktunya penyanyi pub menyampaikan panggilan kepada tamu untuk bernyanyi dan menyebutkan nomor meja mereka, Nadia segera menyikut Morin. “Lagu masa depan,” katanya mengingatkan.