Rr

Rr
11. Aku Memang Tak Bisa Punya Anak



Verina mengusap mata. Ia menaikkan kepala menengadah. Namun cucuran air matanya terus tumpah. Verina kemudian menunduk. Ia menjangkau tisu seraya mengentikan tangis. Dadanya terasa nyeri dan sesak.


Verina seakan tidak yakin dengan kertas selembar itu. Dilihatnya lagi tanya menyentuh kertas tersebut. Dibacanya tanpa suara.


...Pengadilan Negeri Pekanbaru menerangkan bahwa pada hari ini...................... nomor....... tanggal...... yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, telah terjadi perceraian antara:


Selanjutnya tertulis nama Timo Hernowo dan Verina Ananda lengkap dengan bin dan binti. Dibagian sudut kanan bawah tertera tanda tangan Panitera. Ada stempel berwarna biru.


Verina menghela nafas. Tangisnya sudah tinggal isak satu-satu. Matanya masih sembab. Ia menaikkan pandangan. Memandang sepenuhnya Timo sambil menggenggam kedua tangan. Ia merasa telapak tangannya sangat dingin.


“Ini. Ini surat cerai kita?” tanyanya dengan suara serak. Ia sudah membaca berulang kali. Sudah paham sekali apa isinya. Namun ia seperti belum percaya juga. Masih perlu lagi memastikannya lagi.


Timo masih menekur. Malah lebih dalam. Wajahnya tertutup ujung topi.


“Bang Timo!” teriak Verina.


Pria itu menaikkan kepala sedikit Tampak wajahnya tersangkut di ujung topi. Tapi ia tak bersuara. Wajahnya tidak berona sedikit pun.


“Ini surat cerai kita?”


Ujung topinya terlihat bergerak. Kemudian kepala Timo mengangguk.


“Kenapa? Kapan Abang urusan semua ini?” tanya Verina lagi. Ia sangat shock mendapatkan surat itu tiba-tiba. Sebelumnya tidak ada samasekali pertanda atau pembicaraan mengenai perpisahan mereka. Tiba-tiba surat itu ada.


Timo tidak buka mulut. Verina menyandarkan punggung. Nafasnya berangsur reda.


“Abang urusan surat ini tanpa setahu aku. Sama sekali tidak memberi tahu. Tiba-tiba abang kasih surat itu.” Verina memencet ujung hidungnya yang basah. “Alasannya tentu karena aku tidak bisa hamil. Baik. Aku memang tidak bisa punya anak, aku...” tangisnya pecah lagi.


Verina tak mengusap air mata. Membiarkan saja. Butiran air bening jatuh membasahi tangan yang berada di pangkuan.


Timo masih diam. Masih menunduk kepala. Ia seperti kehilangan keberanian menaikkan muda, memandangi Verina.


“Kalau itu putusan Abang, aku terima,” Verina berkata bergetar. “Apalagi, itu, itu...” suara Verina terhenti karena sedu, “sudah putusan pengadilan agama. Aku terima,”


Timo masih memandangi ubin bermotif tidak jelas di ujung kakinya. Ia merasa kepalanya sangat berat. Sulit ditegakkan.


Verina berdiri mengambil handuk kecil. Rok dan tangannya masih basah. Verina teringat omongan Mama mertuanya. Jadi, inilah yang mau dibicarakan itu. Dan barusan Timo sudah menyerahkian surat itu meski ia samasekali tidak berbicara.


Agaknya sudah direncanakan lama oleh Timo dan Mamanya. Bukan tiba-tiba. Hanya dirinya yang tidak tahu. Bagi Verina tidak penting untuk mengkonfirmasikannya pula. Sama tidak pentingnya mencari tahu apakah putusan Timo ini juga dampak dari kegiatan reuni SMA yang diikutinya. Semuanya sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


Verina mengutip kertas selembar yang tergeletak di atas meja. Selembar kertas yang memvonisnya. Selembar kertas yang mengakhiri semuanya.


“Kertas ini untuk aku?” tanyanya sambil memasukkan kertas itu ke dalam amplop.


Timo hanya mengangkat kepalanya. Verina tak mengusik lagi.


Digenggamnya amplop berwarna coklat itu. Selesai sudah semua. Kebersamaan dalam sebuah rumah tangga yang hampir empat tahun berjalan berakhir sampai di sini. Timo mengakhirinya sepihak dengan alasan ia tidak bisa punya anak. Putusan telak yang membuat Verina tak bisa mengelak.


Verina menguatkan hatinya. Apa mesti aku lakukan lagi? Ke mana aku akan pergi? Kertas selembar itu tentu juga memerintahkannya untuk segera keluar dari paviliun ini. Dari rumah keluarga Mirwan Darmawan ini.


“Aku minta waktu ya Bang. Bilang sama Mama. Besok aku berangkat dari rumah ini,” kata Verina menggigit bibir.


Kepala Timo mungkin tidak berat lagi. Mulutnya terlepas kunci. Ia berkata, “Verin, aku minta maaf. Aku...”


“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah terjadi. Abang tidak salah. Mungkin aku yang salah. Tapi sudahlah...” Verina berdiri. Ia masuk kamar. Perlahan merebahkan badan di atas spring bed.


Timo turun. Di rumah besar, Mama menyambutnya. “Sudah kamu omongin sama dia?”


“Sudah kukasih sama dia suratnya,” kata Timo.


Mama mendengus tersenyum. “Baguslah kalau dia sudah baca.”


Timo duduk. Ia menjangkau botol air mineral di atas meja. Mama duduk di depan. Memandangi anak sulungnya dengan mata cerah. Ia senang si anak sudah memberikan putusan penting dalam perjalanan rumah tangganya.


“Apa tanggapannya? Menangis ia?” tanya Mama.


Timo mengangguk tidak jelas. Ia meneguk air mineral lagi. Kerongkongannya terasa kering dan panas.


“Trus kapan ia berangkat?”


Timo menggeleng. “Katanya besok.”


“Besok katanya? Wah, bagus itu. Mau ke mana dia?”


Timo pun tidak tahu. Ia belum bertanya mau ke mana mantan istrinya setelah ini. Tiba-tiba ia merasa menjadi pria yang tidak bertanggungjawab. Menceraikan istri sepihak. Ia urus sendiri surat itu. Tanpa memberitahunya. Setelah surat itu ada ia menyuruh baca. Tanpa omongan pembuka sama sekali. Aku sudah memvonisnya dengan cerai. Ah, betapa kejamnya! Menceraikan dia hanya karena kami belum punya anak.


“Besok kamu kasih uang. Biar ia bisa pergi jauh.”


“Mama!” teriak Timo. Emosinya naik.


Baginya ucapan Mama itu sangat keterlaluan. Bukan ucapan seorang wanita. Bagaimana pun, Verina sudah menemani hidup beberapa tahun, mencuat juga rasa kasihan Timo pada Verina. Sekarang pasti ia tengah menangis di kamar atas paviliun. Sendirian. “Tak perlu Mama ngomong begitu.”


“Kenapa? Dia toh bukan istri kamu lagi.”


Nafas Timo tercekat. “Bagaimana pun ia empat tahun menjadi istri aku, Ma. Hargai juga dia.”


Mama mendengus memalingkan muka.


“Dia sudah akan pergi. Mama tidak perlu bicara keras lagi tentang dia.”


“Tidak keras. Mama malah ingatin kamu. Beri dia uang,” kilah Mama.


“Ucapan pergi jauh itu, Ma. Itu sangat menyakitkan.”


Mama mengibaskan tangan. “Ya, Mama cabut perkataan itu lagi. Udah. Selesai.”


Timo menjangkau dua botol air mineral sebelum berdiri. Teringat ia tidak ada lagi minuman di paviliun. Air galon sudah habis. Ia kembali menaiki lantai dua paviliun.


Pintu kamar tertutup. Diketuknya sambil memanggil nama Verina. Tidak ada jawaban. Diketuknya lagi. Pun tak ada jawaban. Timo beringisut ke jendela. Jendela dengan kaca mati tertutup sepenuhnya dengan gorden. Tidak bisa memandang ke dalam.


Timo kembali ke pintu dengan mengetuknya.


“Erin! Buka pintunya!”


Tidak juga ada jawaban. Satu-satunya pintu masuk lewat depan ini. Tak ada lagi pintu lainnya. Timo tidak ingin terjadi apa-apa dengan Verina. Apalagi kalau dia berbuat nekat. Tidak. Timo membuang bayang-bayangan buruk itu.


Dicobanya kembali memanggil nama Verina. Tak ada juga respon. Mudah-mudahan dia tertidur, kata Timo menenangkan dirinya.