Romantic Triangle

Romantic Triangle
14.Perjanjian



Masih di waktu yang sama..


"Bu..bukan seperti itu" Ucap pria itu gugup.


"Apa maksudmu bukan seperti itu hah!?Dasar hantu mesum" Ucap ku kesal.


"Aku bukan hantu mesum,aku tidak melakukan apapun kepadamu" ucap pria itu.


"Baiklah aku akan percaya" Ucapku tersenyum pada pria itu.


"Terimakasih" Ucap pria itu kembali tersenyum padaku.


"Jangan ganggu aku lagi!" Ucapku yang langsung merubah raut wajah dari senyum menjadi jutek.


Karena kesal aku langsung melangkah kan kaki untuk turun dari atap tapi pria itu kembali memegang tanganku.


"Tunggu,sudah ku bilang aku ingin membicarakan sesuatu padamu" ucap pria itu memegang erat tanganku.


"Tidak, aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan hantu mesum sepertimu" Ucapku menatap pria itu dengan tajam.


"Sampai jumpa ah tidak tidak jangan sampai berjumpa lagi" lanjut ucapanku melepaskan genggaman pria itu dan pergi meninggalkannya.


Setelah turun aku melewati koridor untuk kembali kekantin..


"Benar benar menyebalkan" gumamku sendiri


"Apa yang terjadi dengan Do Yun dan So Eun apa mereka berpacaran?" Tanyaku dalam batin.


Sesampainya di kantin aku langsung duduk di kursi yang telah di pilih oleh Sunny.


"Kau lama sekali,apa yang terjadi pada Do Yun dan So Eun?" Tanya Sunny penasaran.


"Aku tidak tau" ucapku menatap Sunny.


"Apa maksudmu tidak tau?Lalu dari tadi kau melakukan apa!?" Ucap Sunny meninggikan suaranya.


"Kau kesal?jika kau kesal jangan padaku" ucapku.


"Tidak aku tidak kesal" ucap Sunny menunduk .


"Ini semua gara² si hantu mesum itu" ucapku.


"Apa?Hantu mesum?" ucap Sunny heran.


"Aku tidak mengatakan hantu mesum" ucapku.


*Bagaimanapun Sunny tidak akan percaya padaku* Pikirku.


"Hai" ucap Do Yun tidak bersemangat sambil duduk di sisiku.


"Kau baik baik saja?" tanya Sunny menatap Do Yun.


"Tidak,Aku sakit" ucap Do Yun menyimpan kepalanya di pundaku.


"sakit apanya kau tadi baik baik saja" ucapku sambil menjauhkan pundak dari kepala Do Yun.


"Hati ku sangat sakit" Ucap Do Yun kembali meluruskan kepalanya.


"Ceritakan ada apa,Kami kan sahabatmu" Ujar So Eun.


"kami?Kau bukan sahabatku,sahabatku hanya Falisa" ucap Do Yun yang lansung menoleh padaku.


"Emm" gumamku.


"Em?kau juga tidak mengganggapku sebagai sahabatmu?" Tanya Sunny menatap tajam mataku.


"Bukan seperti,kau adalah sahabat terbaiku" ucapku tersenyum pada Sunny.


"Kalian tau So Eun menolaku" ucap Do Yun terlihat sedih.


"Apa?Tapi tadi So Eun bilang dia juga menyukaimu" Ucapku tidak sengaja.


"Kau menguping?" ucap Do Yun uang lansung menatapku.


"Ti..tidak" ucapku memalingkan wajah.


"Pembohong" ucap Do Yun yetus menatapku.


"Kenapa dia menolakmu?" Tanya Sunny pada Do Yun.


Do Yun menceritakan semua yang ter jadi di taman


Flashback 10 menit yang lalu Di Taman...


"Apa kita..-" Ucap Do Yun terpotong oleh ucapan So Eun.


"Tapi..maaf meskipun aku menyukaimu kita tidak bisa membangun hubungan" ucap So Eun menunduk.


"Apa?maksudmu...kau menolaku?" Tanya Do Yun heran.


"Aku tidak menolakmu tetapi untuk saat ini aku hanya ingin berteman denganmu" ucap So Eun menatap Do Yun dengan senyuman.


"Baiklah aku mengerti" Ucap Do Yun memberi senyuman palsu.


"Tapi dia bilang dia tidak menolakmu" ucapku pada Do Yun.


"Tetap saja aku merasa di tolak" ucap Do Yun.


"Sudahlah jangan patah hati seperti itu wanita kan banyak,iyakan Falisa?" ucap Sunny yang tiba tiba langsung menatapku.


"Kenapa kau menatapku?" ucapku heran.


"Meskipun wanita banyak wanita yang ku sukai hanya satu" ucap Do Yun


"Bukan satu tapi dua" ucap Batin Do Yun.


Ding Dong~(Bel masuk berbunyi)


"Sudah bel ayo cepat" Ucap Sunny.


kamipun keluar dari kantin dan langsung lari masuk kelas.


Semua siswa yang ada dikelas sudah duduk dengan rapih.


Pak gurupun masuk kekelas dan memberi pelajaran.


Ding Dong~ Bel pulang.


"Falisa hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu,Aku harus pergi kerumah sakit menjenguk nenek" ucap Do Yun.


"Tidak apa apa,semoga nenek mu cepat sembuh" ucapku tersenyum.


Aku pun pulang Tanpa Do Yun...


Perjalanan menuju rumah..


"Kita berjumpa lagi" ucap hantu pria itu yang tiba tiba berjalan di sisiku.


"Lagi lagi kau mengejutkanku!" ucapku mengtikan langkah kaki.


"Maaf nanti aku akan memanggil namamu dari jauh" ucap pria itu menatapku.


"Kau tau namaku?" ucapku heran.


"Tentu aku tau" ucap pria itu santai.


"Aku mohon hentikan,Kau sangat menggangguku" ucapku menatap tajam matanya.


"Jika kau tidak ingin aku mengganggumu dengarkan apa yang ingin ku bicarakan padamu" ujar pria itu.


*Aku menghela nafas dan memastikan di sekitaranku tidak ada orang agar aku tidak di anggap gila.


"Baiklah aku akan mendengarkanmu" ucapku menatapnya.


"Kau masih heran bukan kenapa kau tiba tiba bisa melihat arwahku sedangkan kau tidak bisa melihat arwah orang lain,aku juga heran kenapa aku merasa hanya kau yang bisa nembantuku menemukan identitasku" ujar pria itu serius.


"Apa maksudmu?Langsung saja ke intinya" ucapku.


"Jika kau ingin aku pergi dari sisimu bantulah aku menemukan identitasku." ucap pria itu Menatapku


"Kau gila?aku bahkan tidak tau kau siapa kenapa kau menyuruhku mencari identitasmu,Lagi pula apa hantu sendiri tidak bisa mengetahui identitasnya?" ucapku.


"Saat aku membaca buku di buku itu tertulis arwah tidak bisa mengetahui dirinya siapa dan benar aku tidak ingat siapa aku siapa,namaku,dimana tempat Tinggalku" ujar pria itu.


"Kau bisa meminta bantuan pada orang yang mempunya indra keenam kenapa harus aku?" Tanyaku kembali heran.


"Apa kau mengetahui kenapa aku bisa menjadi seperti ini?" Pria itu kembali bertanya.


"Ti..-" ucapku terpotong oleh pikiran yang tiba tiba ada di benaku.


aku kembali memikirkan kecelakaan pada saat itu.


"Kau tau?benar itu jawabannya kenapa hanya kau yang bisa membantuku" ucap pria itu terus menatapku.


"Aku hanya melihat kau mengalami kecelakaan aku tidak tau yang lainnya" ucapku.


"Apa aku mengalami kecelakaan?" Tanya pria itu.


"Em saat itu kau menyenggolku dan berlari sangat cepat lalu mobil datang ke arah mu dan.." ucapku terhenti.


"Bantulah aku kau harus mencari rumah sakit mana yang merawatku" ucap pria itu.


"Kau sudah mati kenapa masih mencari identitas" ucapku.


"Aku belum mati" ujar pria itu.


"Terserah kau" ucapku kesal.


"Berjanjilah untuk membantuku" ucap pria itu tersenyum.


"Setelah aku membantumu enyahlah dari kehidupanku" ucapku.


"Baiklah" ucap pria itu tersenyum.


Bersambung:)