RAWARONTEK

RAWARONTEK
Menerima Ilmu kuno



Kejadian jatuhnya Dirga sangat cepat dan tidak terduga. Hingga M yang berusaha meraih tubuh Dirga tidak sempat melakukannya. Mangsa sudah didepan mata tapi terlepas lagi. M merasa marah dia, tapi tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa berteriak.


Walaupun dia jago bertarung, tapi jika harus terjun dari jembatan setinggi puluhan meter dia merasa tidak berani. Apalagi M mempunyai kelemahan yaitu dia tidak bisa berenang. M memiliki fobia air karena sewaktu kecil pernah tenggelam di sungai.


"Kalian semua cepat turun kesana, lalu cari keberadaan orang itu. Kalau perlu susuri sungai. Jangan pernah kembali jika belum menemukannya", kata M berkata sambil berteriak.


"Siap tuan", tanpa pikir panjang Baron dan yang lainnya segera mencari jalan untuk berusaha turun ke sungai tersebut.


Keadaan Dirga sangat mengenaskan dia hanyut di kedalaman sungai yang keruh dipenuhi berbagai sampah. Susah payah dia berusaha untuk mencapai permukaan. Bisa dibayangkan keadaan malam, gelap dan dingin. Serta derasnya air sungai terus mendorongnya ke hilir.


Sudah seperti ada yang mengatur, tiba-tiba tangan Dirga meraih sebongkah pohon pisang yang ikut hanyut mendekati dirinya. Dirga tidak melepas kesempatan itu. Dia segera memeluk erat pohon pisang tersebut sampai dia terombang-ambing permukaan sungai yang sedang mengamuk.


Malam pun berganti pagi. Dirga masih memeluk erat pohon pisang itu. Dirga tidak tahu sekarang dia ada di daerah mana. Tapi dia yakin dia pasti akan selamat. Walaupun tubuhnya menggigil kedinginan tapi dia tetap berusaha bertahan. Namun tiba-tiba Dirga merasakan bahwa tubuhnya ditarik oleh sebuah tangan yang kuat.


Dirga menoleh terlihat olehnya seorang kakek berusaha menyelamatkannya. Hingga akhirnya Dirga berhasil mencapai tepian sungai. Kakek itu membaringkan Dirga lalu bertanya "Nak kau tidak apa-apa?'', kakek itu menepuk pipi Dirga pelan. Sebenarnya dia terkejut dengan kondisi wajah Dirga yang hanya memiliki satu mata saja. Tapi untuk sekarang dia menyembunyikan keterkejutannya.


"Aku baik-baik saja ke cuma kedinginan saja", balas Dirga tubuhnya menggigil dan wajahnya terlihat pucat.


"Syukurlah kalau begitu, ayo aku antar kau ke rumah ku. Lebih baik kau istirahat dulu", kata kakek itu dan tanpa pikir panjang dia mengangkat tubuh Dirga yang ukuran tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari dirinya.


Dirga sebenarnya malu diperlakukan seperti itu. Tapi sekarang ini tubuhnya merasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Jadi dia pasrah saja digendong kakek itu ala bridal style.


Rumah kakek itu tidak jauh dari sungai itu. Berukuran kecil serta sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu dan bambu. Atapnya dari daun kelapa yang sudah dikeringkan. Tapi halamannya cukup bersih dan rapih.


Ada beberapa potong kayu bakar yang sedang dijemur disana. Dirga dibaringkan di bangku bambu yang ada di teras rumah minimalis itu. Kemudian kakek itu berdiri dan melakukan sesuatu yang sangat menakjubkan.


Dengan gerakan cepat jari telunjuk kakek itu bergerak menekan beberapa bagian tubuh Dirga. Setelah itu rasa menggigil Dirga hilang begitu saja. Kemudian tanpa banyak bicara kakek itu masuk kedalam rumahnya dan kembali membawa segelas air hangat.


"Minumlah air hangat ini biar tubuhmu bertenaga lagi", perintah Kakek itu menyodorkannya kepada Dirga yang sudah terduduk. Tanpa keraguan Dirga menerimanya dan meminum air itu. Terasa manis di lidah dan hangat di tenggorokan. Rupanya air itu sudah dicampur gula merah sebelumnya.


"Ah..segarnya. Kek terimakasih kakek telah menyelamatkan saya. Kalau boleh tahu sekarang ini saya ada dimana? dan siapakah kakek yang baik hati ini?", tanya Dirga bertubi-tubi.


Mendengar dia berada di kota tetangga dia kaget. Bahwa semalaman Dirga terhanyut sejauh puluhan kilometer. Tapi dia segera tersadar lalu menjawab pertanyaan orang yang ada di depannya, "Kalau nama saya Dirga kek, ceritanya saya tidak sengaja tergelincir lalu terbawa arus sungai".


"Oh begitu ceritanya. Kasihan sekali, pasti orang tuamu khawatir. Ngomong-ngomong nak Dirga ini asalnya dari mana?" tanya si kakek penasaran.


"Jangan khawatir kek selama ini saya hidup sebatang kara. Kedua orang tua saya sudah tidak ada. Sebelumnya saya tinggal di desa Pancar kabupaten Sundaran", Dirga menjelaskan.


"Apa kamu hanyut sampai sejauh itu?" kakek Wira terkejut mendengar penjelasan Dirga. Dia sedikit tidak percaya orang biasa bisa bertahan hidup setelah terhanyut di air bah sejauh itu dan keadaan masih segar bugar tanpa luka sedikitpun.


"Iya kek sepertinya saya beruntung masih diberi kesempatan untuk hidup", jawab Dirga.


"Ya kau memang benar. Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu padamu. Oh iya kakek hampir lupa, sekarang jika kamu mau. Kamu ganti baju sekarang. Pakai saja baju kakek yang cocok dengan mu. Biar kamu tidak kedinginan. Nanti masuk angin", kakek Wira berbaik hati memberikan bajunya sendiri untuk dipakai orang yang baru dia temui itu.


"Baiklah kek jika kakek mengijinkan saya tidak akan sungkan", jawab Dirga lalu masuk kedalam dan mengganti bajunya.


Hari-hari pun berlalu, Dirga masih ada ditempat itu. sebelumnya meminta izin untuk menginap beberapa hari dirumah kakek itu. Dengan alasan bahwa dia tidak punya uang kerena semua uang dan hpnya hanyut terbawa air sungai.


Kakek Wira pun tidak keberatan dengan kehadiran Dirga. Dengan adanya Dirga disana kakek Wira jadi ada teman ngobrol. Sebab selama ini dia juga tinggal seorang diri di gubuk itu. Apalagi Dirga orangnya tidak malas. Dirga selalu membantu pekerjaan rumah Wira.


Kakek Wira sebenarnya dia adalah orang misterius pemilik ilmu warisan sekte kuno, walaupun dia sudah berumur tetapi kekuatan tubuhnya luar biasa. Sekarang ini dia sedang mencari pewaris ilmunya. Melihat sifat dan kebaikan Dirga dia menjadi tersentuh.


Oleh karena itu, suatu hari Wira mengajak Dirga berbicara serius. Dirga mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan Wira padanya. Dirga sebenarnya sangat senang akan mendapatkan warisan ilmu kuno. Tapi entah kenapa dia mencoba pura-pura menolaknya.


Tapi setelah Wira menjelaskan bahwa dia ini adalah wasiat terakhir dan dia menjelaskan setelah memberikan ilmu itu Wira akan meninggalkan dunia ini. Dengan sedikit paksaan akhirnya Dirga yang enggan itu terpaksa menerima warisan ilmu kuno itu.


Wira dan Dirga duduk bersila saling berhadapan. Kedua tangan mereka ditempelkan satu sama lain. Kedua mata mereka terpejam. Terdengar Wira melantunkan kata-kata aneh dari mulutnya. Suara itu pelan tapi terdengar jelas oleh Dirga. Dan entah kenapa Dirga merasa mengerti maksud kata-kata itu.


Setelah beberapa saat Wira berkata, "Sekarang sudah selesai. Aku wariskan ilmu ini kepadamu, aku berharap kau menggunakan ilmu ini untuk kebaikan. Tapi jika kau menggunakannya untuk kejahatan maka kau akan menerima akibatnya. Bukalah matamu dan tebar kebaikan didunia ini cucuku".


Dirga membuka matanya, tetapi dia langsung terkejut karena melihat tubuh Wira memudar dan perlahan menghilang dari pandangannya.