
"Kak Dirga, apa masih sekolah?" tanya Maya memulai pembicaraan saat mereka sudah duduk bersebelahan di bangku taman itu. Maya mengira Dirga masih anak SMU, sebab wajah Dirga yang awet muda. Orang yang memiliki ilmu rawarontek seperti Dirga memang tidak aneh jiga proses penuaannya berjalan sangat lambat.
"Aku sudah tidak sekolah, Sebenarnya aku sebulan yang lalu masih kerja. Tapi aku terkena pemutihan karyawan, jadi dengan terpaksa harus berhenti." Dirga berkata setengah jujur. Sebenarnya dia diberhentikan secara sepihak oleh perusahaan, karena dia tidak masuk kerja selama beberapa hari tanpa keterangan.
Hal itu terjadi karena sebulan yang lalu Dirga menjadi korban penculikan kelompok mafia human trafficking. "Kalau Maya gimana, apa masih SMU atau sudah kuliah?" Dirga balik bertanya.
"Kalau aku sih masih SMU, tahun depan baru lulus. Kak sebenarnya aku sedang diberi tugas oleh guru bahasa Indonesia. Membuat sebuah novel tentang manusia pemilik ilmu keabadian...", Maya berhenti bicara dan memperhatikan reaksi Dirga.
Mendengar itu Dirga sedikit terkejut. Namun dia menyembunyikan perasaan itu. Dia berpikir bahwa Maya mencurigainya, karena Maya tadi tidak sengaja melihat proses regenerasi di kening Dirga yang sangat cepat.
Tentu saja siapapun orangnya, jika melihat kejadian itu akan merasakan hal yang rumit. Pasti ada yang merasa takut, aneh, atau juga merasa tertarik seperti Maya sekarang ini. "Terus gimana maksudnya?" tanya Dirga menatap Maya.
"Maaf ya kak, tadi aku melihat semua kejadian saat ka Dirga terjatuh. Aku sangat yakin bahwa kening kakak terluka parah. Tapi hanya dalam hitungan detik luka itu sembuh dengan sendirinya. Aku yakin bahwa kakak mempunyai sesuatu kemampuan tersembunyi", Maya berbisik ditelinga Dirga.
"Tenang saja aku tidak akan membocorkan rahasia kakak pada siapapun. Apakah kakak mempelajari ilmu kebal?" Maya lanjut bertanya masih dengan berbisik pelan.
Dirga sebenarnya ingin menyembunyikan kelebihannya, tetapi Maya sudah terlanjur sudah melihat kemampuan regenerasi dirinya. Jadi mau tidak mau Dirga pun mengatakan yang sebenarnya.
"Dugaan kamu salah, aku tidak mempunyai ilmu kebal. Tapi aku tidak tahu kenapa, baru-baru ini sadar, bahwa tubuhku berbeda dengan kebanyakan orang. Tubuhku bisa beregenerasi sendiri dengan cepat. Bahkan sedari kecil sampai sekarang aku belum pernah merasakan sakit.
Tapi aku akan tetap akan merasakan sakit jika terluka seperti tadi." kata Dirga menjelaskan. Maya yang mendengar matanya membulat sempurna. Ada rasa kagum tergambar diwajahnya.
"Berarti kakak seperti manusia super yang ada di film itu ya. Keren banget" kata Maya.
"Ya nggak lah aku masih manusia biasa. Karena aku tidak jago berdiri seperti mereka", Dirga mengeles.
"Kenapa kakak gak belajar saja?"
"Ada sih rencana kesitu tapi, aku belum menemukan guru yang mau ngajarin beladiri", jawab Dirga.
"Itu masalah gampang. Sekarangkan zaman modern kak. Setiap orang pasti punya internet ditangannya. Jadi kakak bisa meniru video gaya beladiri dari cukup dari hp saja kan",
"Oh iya kamu benar, kenapa aku gak kepikiran ya," Dirga tersenyum canggung.
"Satu lagi kak. Apa boleh aku menjadikan kelebihan kakak itu sebagai ide tugas novel sekolahku? tenang saja aku pasti memakai nama inisial untuk menutupi rahasia kakak. Bagaimana?" Maya menatap Dirga penuh harap.
Sebagai pria normal Dirga tentu merasa senang dengan hal tidak terduga itu. Dapat tercium harum tubuh Maya . Itu membuat jantung Dirga berdetak kencang. Adiknya pun berontak tanpa terkendali. Segera saja Dirga merapatkan kedua pahanya menutupi hal itu.
Malu dong jika Maya melihat adik Dirga mendadak bangun. "Eh, maaf kak. Aku jadi tidak sadar memeluk kakak saking senangnya", wajahnya memerah karena malu. Segera Maya melepaskan pelukannya itu, lalu bersikap biasa lagi.
"Tidak apa-apa Maya, aku tidak merasa terganggu kok." jawab Dirga pelan. Dia juga sama malunya dengan Maya, karena baru kali ini dia dipeluk oleh wanita selain almarhum ibunya. Namun dalam hatinya tentu saja Dirga merasa sangat bahagia.
"Kak sepertinya ini sudah hampir malam, aku pamit pulang dulu ya. Takut dicari mama, nanti aku hubungi lewat WA ya", kata Maya.
"Baiklah, mau aku antar?" tawar Dirga.
"Tidak usah kak, makasih atas waktunya ya" jawab Maya. Maya berdiri dan melambaikan tangannya lala berjalan pergi.
"Hati-hati dijalan", Dirga berteriak setelah sadar Maya sudah jauh darinya. Setelah itu Dirga pun beranjak untuk pulang. Namun sekilas sudut matanya melihat seseorang yang sedang menatapnya tajam dari arah kejauhan.
Orang itu mengangkat hp ditangannya lalu melakukan panggilan. Entah apa yang dia bicarakan, namun yang jelas Dirga mempunyai firasat buruk tentang hal itu. Dia pun bergegas berjalan cepat mencoba menghindari orang itu.
Walaupun Dirga tahu tubuhnya bisa sembuh kembali jika terluka. Tapi itu tetap saja dia akan merasa sakit. Oleh karena itu lebih baik dia menghindari hal-hal yang tidak penting. Namun saat Dirga menjauh dia melihat bahwa orang tadi yang mengawasi juga berjalan mengikutinya.
Orang yang sedang mengikuti Dirga berperawakan kurus pendek. Namun Dirga merasa ngeri saat menatap orang itu. Seolah dia sangat berbahaya. Sesaat kemudian dibelakang orang itu, bergabunglah 6 orang yang Dirga kenali.
Tidak lain mereka adalah Baron dan anak buahnya. Sedangkan orang kurus itu tentu saja M. Merasa takut akan hal itu Dirga pun berlari sekuat tenaga.
Tentu saja M dan ke enam preman itu pun ikut berlari.
Karena selama ini Dirga sering berlatih lari, maka dia pun merasa percaya diri bisa lolos dari pengejaran itu. Setalah beberapa lama terus berlari Dirga pun merasa kelelahan. Nafasnya menjadi tidak teratur. Sampailah dia didekat sebuah jembatan yang sangat tinggi. Dibawah jembatan itu mengalir sebuah sungai yang deras.
Air bah itu terlihat berwarna kecoklatan dan meluap. Karena sebelumnya di daerah hulu sungai terjadi hujan lebat. Dirga bersandar di penghalang jembatan baja itu untuk memulihkan staminanya. Tetapi baru beberapa nafas berlalu dia dikejutkan oleh teriakan keras tidak jauh darinya.
"Mau lari kemana lagi kau hah", bentak Baron yang sudah ada disana tanpa Dirga sadari. Saking kagetnya Dirga dengan suara itu dia terperanjat. Kemudian dia menoleh kearah suara itu. "Ampun bang, apa salah saya?" kata Dirga sambil mundur kebelakang.
Sesaat kemudian M dan kelima anak buah Baron datang bergabung. Sebagian dari mereka ada yang membawa balok kayu ditangannya. Melihat itu Dirga semakin ketakutan dan mundur selangkah demi selangkah kebelakang. Tapi karena Dirga fokus kepada mereka, tanpa sadar dia menginjak pelepah pisang yang ada pinggir jembatan itu. Dirga terpeleset dan jatuh dari ketinggian jembatan dan tercebur ke sungai.