
Dirga yang saat ini sudah sadar dari pingsannya, dia terduduk mencoba mengingat kembali kejadian yang dia lalui sebelumnya. Dia yakin dengan jelas bahwa tadi dia dipukuli secara sadis oleh para preman yang memalak dirinya.
Dirga memperhatikan seluruh tubuhnya dengan seksama, karena dia tidak merasakan rasa sakit lagi pada tubuhnya. Padahal dia yakin bahwa sebelumya dia mendapatkan beberapa luka parah akibat ulah para preman itu.
Masih terbayang saat sebagian tulangnya yang mereka patahkan, tapi sekarang sudah sembuh kembali. Bahkan tidak merasakan sakit sama sekali.
"Apakah sebelumnya aku bermimpi?, tapi kalau bermimpi kenapa aku terbaring di tanah yang berdebu ini. Jadi aku yakin bahwa kejadian tadi memang sebuah kenyataan. Tapi kenapa tidak ada luka sedikitpun pada tubuhku?"
Dirga berpikir keras kenapa semua ini terjadi kepada dirinya. Kemudian dia teringat bahwa satu kelingkingnya tadi dipotong oleh salah satu preman yang membawa pisau lipat. Dirga segera memandang jari kelingking kirinya yang sudah terputus.
"Hah kemana jari kelingkingku?", Dirga panik sambil merangkak mencari di tanah sekitar. Akhirnya dia berhasil menemukan bagian jari kelingkingnya tergeletak di tanah tertutupi debu. Dia segera mencengkeramnya.
Diperhatikannya lekat jari yang sudah putus itu. Terlintas sekilas dipikirannya bahwa tadi tubuhnya bisa beregenerasi dengan sendirinya. Dia berpikir apakah mungkin jari kelingkingnya juga bisa disambung kembali.
"Tidak ada salahnya jika aku mencobanya", Dirga kemudian menempelkan jari kelingking itu ketempat nya semula. Dan benar saja secara ajaib, perlahan jaringan tulang, daging dan kulitnya menyatu lagi dengan sempurna.
Dirga terkejut sekaligus merasa senang bahwa dia mempunyai kekuatan aneh yang menurutnya sangat hebat. "Jika aku tubuhku bisa beregenerasi dengan cepat seperti ini, apa mungkin aku akan hidup abadi? tapi itu tidak mungkin sebab setiap makhluk yang bernyawa pasti ada saatnya akan mati juga".
Karena sekarang sudah hampir menginjak sore hari menjelang malam. Maka Rian bergegas pulang ke rumahnya, dengan keadaan pakaiannya yang penuh debu dan terdapat juga robekan di sana-sini akibat pengeroyokan tadi.
Sementara itu di sebuah toko handphone terkenal paling besar di daerah itu, ada seorang pemuda tampan berumur sekitar 20 tahunan. Postur tubuhnya yang tinggi dengan berat badan yang cukup membuatnya terlihat sempurna.
Warna kulitnya sawo matang, hidungnya yang mancung dan matanya yang coklat menambah daya tarik buat setiap kaum hawa. Selain perawakannya yang sempurna dia juga sangat ahli dalam menarik pelanggan di toko handphone tersebut.
Hal itu membuat dirinya disukai oleh atasan dan semua teman karyawan sepekerjaannya. Dan akhirnya Bobby diberi kepercayaan penuh oleh pemilik toko untuk mengelola usahanya.
Sementara pemiliknya membuka cabang yang lain diluar kota untuk melebarkan sayap usahanya. "Kak Bobby siang ini mau makan dimana? kalau mau biar aku yang traktir ya". kata Sintia kepada Bobby si pria tampan berkulit sawo matang itu.
Bobby mendengar pertanyaan dari Sintia, dia tersenyum dan melirik ke arah orang yang mengajaknya bicara itu. "Baiklah kalau kamu tidak keberatan aku dengan senang hati akan menerima traktiranmu siang ini", jawab Bobby sambil mengedipkan sebelah mata kirinya.
Hal itu membuat Sintia meleleh, jantungnya menjadi berdebar-debar melihat kedipan mata Bobby. "Ah Boby sayang, kenapa kau berkedip seperti itu membuat jantungku hampir copot saja. Aku jadi bertanya-tanya apa sih yang biasanya kau makan sampai bisa seganteng itu?", rumah Sintia dalam hatinya. Tentu sebagai pria normal dia tidak akan menolak rekan kerjanya yang cantik seperti Sintia ini.
Para karyawannya kebanyakan para wanita cantik karena menurut pemilik toko karyawan wanita lebih menarik untuk menarik para pelanggan di tokonya. hanya beberapa karyawan laki-laki saja yang dipekerjakan di toko tersebut termasuk Bobby sebagai kepala cabang disana.
Beberapa bulan kebelakang banyak sekali karyawan wanita yang mengundurkan diri tanpa sebab yang jelas. Lebih tepatnya menghilang tanpa kabar semenjak Bobby menjabat kepala di toko handphone itu.
Sintia mengajak Bobby makan di rumah makan chicken sejenis KFC yang berada tidak jauh dari tempat mereka bekerja. Bobby berjalan pelan di belakang mengikuti Sintia. Ada senyuman tipis di wajah Bobby hampir tidak terlihat saat menatap bagian belakang Sintia.
"Sintia cantik terimakasih atas traktirannya ya", kata Bobby melirik Sintia yang berjalan disampingnya. Mereka sudah selesai makan siang. Sekarang mereka sedang berjalan menuju tempat kerja mereka lagi.
"Iya sama-sama Kak Bobby, apakah kakak suka makanan tadi?" tanya Sintia
"Lumayan enak juga. Lain waktu gantian aku yang akan traktir kamu ya", balas Bobby sambil tersenyum lebar.
Walaupun Bobby menjabat sebagai kepala toko disana. Sikapnya sangat baik dan perhatian kepada karyawan yang dipimpinnya. Umurnya yang masih muda membuat dia sangat dihormati sekaligus disukai oleh para bawahannya.
Beberapa hari berlalu, disebuah taman yang sering dikunjungi pengunjung. Saat ini orang-orang sedang mengerumuni sebuah karya seni patung lilin itu. Entah siapa dan kapan yang menyimpan patung ditengah keramaian.
Pihak pengurus taman pun tidak ada yang mengetahui sejak kapan patung itu berada disana. Hampir setiap orang yang melihat patung itu mengabadikannya dengan kamera ponsel milik mereka.
Ada yang berselfie ria dan ada juga yang merekamnya dengan video ponselnya. Orang-orang yang merekam dengan video kebanyakan adalah kaum pria. Mereka sangat senang melihat pemandangan patung berbentuk wanita dewasa itu.
Lekuk tubuhnya jelas terlihat dengan posisi patung itu yang menawan. Di antara orang-orang yang ada di sana Dirga pun saat ini secara kebetulan ada di sana juga. Setelah selesai berlari pagi, dia penasaran dengan orang-orang yang sedang mengerubuni sesuatu. Akhirnya dia mendekati mereka dan Dirga pun melihat patung yang sangat vulgar tersebut.
Dirga pun tertegun melihat keindahan patung lilin wanita dewasa tersebut dalam hati dia memuji akan ketelitian orang yang membuat patung tersebut. Patung itu terlihat sangat nyata. Dirga mendekati penahan patung itu dia membaca tulisan yang ada di samping patung tersebut.
Papan tulisan itu mencetak sebuah judul yang bernama keindahan patung lilin. Kemudian Dirga menatap patung itu lagi, tetapi saat menatap jari patung tersebut ada cairan berwarna merah yang merembes keluar dari jari jari tersebut.
Cairan kental itu menetes penahan ke bawah lantai. Dirga sempat berpikir mungkinkah patung lilin ini akan meleleh jika terkena panas sinar matahari. untuk memastikannya Dia mendekati cairan merah tersebut lebih dekat lagi. Dirga sangat penasaran dengan cairan itu.