RAWARONTEK

RAWARONTEK
Digoda Maya



Halo para bos ku yang baik hatinya. Selamat datang dan selamat membaca.


"Sudahlah aku maafkan kesombongan mu tadi. Sekarang kalian mendekatkan padaku", perintah orang kurus itu yang bernama M. Jordi bergegas berdiri begitupun Baron dan yang lainnya pun mendekat kearah M berdiri.


Kemudian M mengeluarkan ponselnya lalu memerintahkan mereka untuk menyimpan no hpnya. Setelah tuan M dan para preman itu saling bertukar no hp, dia berkata "Sekarang kalian selidiki tentang orang pemilik ilmu rawarontek itu. Setelah ada kemajuan segera hubungi aku. Aku beri waktu paling lambat 1 bulan. Kalau tidak kalian akan tahu akibatnya".


Lalu M berbalik dan berjalan pergi dari tempat itu. Setelah M menjauh dari sana, barulah Baron dan yang lainnya bisa bernafas lega. "Gila, baru kali ini aku bertemu orang yang hebat seperti dia. Walaupun badannya kurus dan kecil tapi ilmu beladiri orang itu sangat hebat", gumam Baron pelan.


"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang bos Baron?", tanya salah satu anak buahnya polos.


"Kamu nanya? kamu bertanya tanya?" Baron membentak orang itu. Tentu saja semua anak buahnya mundur selangkah. "Pergi cari keberadaan orang pemilik ilmu rawarontek itu", Baron bertolak pinggang.


Segera saja kelima anak buah Baron ketakutan, lalu mereka berpencar dan berlari ke segala arah. "Kenapa aku punya bawahan yang bego?" Baron menggelengkan kepalanya.


Flashback off.


Sore hari yang cerah, saat ini Dirga sedang berlari sendirian di sekitar taman kota. Tidak terasa dia berlari keringatnya sampai bercucuran membasahi baju yang ia kenakan. Karena seringnya Dirga berlari beberapa hari ke belakang ini, dia sudah mulai terbiasa dengan rasa lelahnya.


Stamina tubuh Dirga menjadi sedikit meningkat. Walaupun begitu dia belum ada kesempatan untuk bisa belajar ilmu bela diri. Saat dia sedang berlari pelan tiba-tiba dia tersandung sebuah batu yang tertutupi oleh dedaunan yang kering.


Hingga akhirnya dia pun jatuh terjerembab ke tanah, tidak sengaja keningnya membentur batu keras yang ada di sana. Kening Dirga robek dan mengeluarkan cukup banyak darah. Dia tidak panik karena dia sudah menyadari kemampuan regenerasi tubuhnya yang ajaib.


Dirga hanya merasa sedikit kesakitan akibat benturan itu tangan kanannya menahan darah yang keluar dari keningnya. Hingga beberapa detik darah itu pun mengering dan luka di keningnya itu pun dengan sangat cepat menutup kembali tanpa ada bekas luka sedikitpun.


Tanpa terduga oleh Dirga ada seorang wanita cukup cantik mengagetkan dirinya. Dirga tidak mendengar suara langkah dari wanita itu sampai dia mendengar suara merdu dari samping dirinya. "Kak, kakak tidak apa-apa? Apa perlu aku antar kakak ke dokter? Aku lihat tadi kening kakak terluka mengeluarkan banyak darah".


Gadis itu menawarkan jasanya. Dirga sempat tertegun mendengar suara merdu itu. Dia bisa mencium bau harum dari parfum yang dikenakan gadis cantik berambut hitam panjang itu. "Kak, kakak mendengarkanku kan?", gadis itu menepuk pelan bahu Dirga yang masih duduk menekan kening yang sudah tidak terluka lagi.


"Ah, nona aku tidak apa-apa kok. Untuk saat ini aku tidak perlu dibawa ke dokter. Seperti yang kamu lihat lukaku sudah sembuh". Dirga reflek berkata sambil menatap gadis cantik itu. Dia tidak sadar bahwa kata-katanya berefek sangat besar terhadap gadis tersebut.


Dirga bingung karena dia kelepasan bicara dan tidak sengaja memperlihatkan kelebihan dirinya pada gadis itu. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan Dirga segera berdiri dan pamit untuk pergi dari sana. "Nona maaf ya aku sepertinya harus segera pergi terima kasih sudah mengkhawatirkanku tadi".


Dirga tidak menunggu respon dari gadis cantik itu dia segera berbalik dan dengan cepat pergi dari sana. Tanpa dia sadari gadis itu ternyata mengikutinya dari belakang. Hingga pada sebuah tempat gadis itu berhasil mendekati Dirga kemudian dia berteriak.


"Kak, tunggu boleh nggak kita kenalan namaku Maya. Nama kakak siapa?", Maya mengulurkan tangan kanannya yang lembut seputih salju kepada Dirga. Tentu saja Dirga sebagai laki-laki normal dia berat untuk menolak uluran tangan itu.


Dirga merasa bahwa Maya tidak mempunyai niat buruk terhadapnya. Melihat senyum manis di wajah cantik Maya, hati Dirga mendadak bergetar. Dia tidak menyangka bahwa sore ini akan mendapatkan keberuntungan yang luar biasa.


"Cantik banget," Dirga bergumam sangat pelan, tapi suara itu terdengar oleh Maya. Dirga dengan senang hati menyambut tangan mulus putih dan hangat itu dengan tangan kanannya juga. "Namaku Dirga, senang berkenalan denganmu Maya",


Dirga berkata sambil tersenyum hangat menatap Maya. Keempat mata pun beradu pandang membuat suasana hati Dirga menjadi sangat hangat serta bahagia. Baru kali ini dia merasakan perkenalan dengan seorang gadis yang secantik Maya.


Dirga berpikir bahwa ini adalah cinta pada pandangan pertama. Dirga merasakan tangan lembut itu hingga dia enggan untuk melepaskannya. Seperti ada lem perekat yang membuatnya menempel dengan tangan itu.


"Ah, kak Dirga aku juga senang berkenalan dengan kakak. Tapi bolehkah kakak melepaskan tanganku, aku merasa tidak enak dipandangi oleh orang-orang sekitar." kata Maya tapi dia tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Dirga.


Hingga akhirnya Dirga merasa malu karena sudah menggenggam tangan Maya cukup lama. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Kalau di film anime pasti kepalanya sudah mengeluarkan asap putih mengepul ke atas. "Ah iya maafkan aku Maya aku tidak sengaja", kata Dirga mengeles.


"Tidak apa-apa kak, bolehkah kita mengobrol sebentar?", banyak Maya dengan antusias. Seakan mendapatkan sinyal Dirga pun merasa sangat senang. Itu merupakan sebuah kode dari seorang gadis cantik. Mana mungkin Dirga berani menolak tawaran yang sangat menggiurkan tersebut.


Dirga kemudian mengedarkan pandangannya lalu berkata, "Boleh kok Maya, bagaimana kalau kita duduk di bangku taman yang kosong itu", Dirga menawarkan sambil menunjuk satu bangku taman yang berada tidak jauh dari sana.


"Boleh kak, kalau begitu ayo kita duduk di sana", balas Maya lalu menggenggam tangan kiri Dirga dan menariknya perlahan menuju bangku taman tersebut. Jantung Dirga seperti berhenti berdetak saat itu. "Akhirnya mungkin saat ini Maya adalah gadis yang tepat untuk aku jadikan pacar. Secara selama ini aku jomblo akut. Aku selalu merasa malu dan minder jika harus pertama mendekati wanita.


Tetapi sekarang ini Maya berinisiatif mendekatiku. sepertinya dia ada maksud lain kepadaku. Kalau bukan suka apalagi hehehe", pikir Dirga dalam hatinya.