
Selamat datang dan terima kasih sudah mampir ke novel ini. Semoga yang membaca selalu sehat dan bahagia dan selamat membaca....
Dirga berjarak sangat dekat kepada patung itu. Dia dengan teliti menatap cairan merah kental yang merembes keluar dari jari-jari itu. Kemudian dia berjongkok telunjuknya menyentuh cairan merah kental itu yang sudah jatuh ke lantai.
Cairan merah itu terasa kental dan sedikit hangat. Kemudian Dirga mendekatkan jari telunjuknya ke wajahnya berniat ingin menghirup aroma dari cairan tersebut. "bukan ini seperti darah manusia?", gumam Dirga saat menyadari keanehan dari cairan itu.
Kerumunan orang-orang tersebut merasa penasaran dengan apa yang Dirga lakukan. Seorang ibu-ibu yang berada tidak jauh dari Dirga menegurnya, "mas kamu sedang apa berjongkok di situ?", tanya ibu-ibu itu menatap Dirga dengan wajah aneh.
"Ah ini Bu saya hanya penasaran dengan cairan yang menetes dari jari patung ini", balas Dirga mengacungkan jari telunjuknya yang masih terdapat noda merah. Mendengar penjelasan Dirga itu orang-orang pun mengalihkan pandangannya ke arah jari jemari patung tersebut.
Semua orang mempunyai pikiran yang berbeda-beda tentang kejadian ini. Tetapi kebanyakan orang merasakan rasa ngeri yang belum bisa dijelaskan. Semua perasaan mereka adalah hanyalah praduga saja. Namun tiba-tiba seorang gadis muda berteriak histeris sambil memegangi handphone yang masih merekam patung tersebut.
Kedua tangannya memegang erat handphone itu dengan gemetar, wajahnya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak menatap ke arah wajah patung wanita lilin itu. Sontak saja kerumunan itu sangat kaget dengan teriakan gadis tersebut yang tiba-tiba.
Kemudian mereka semua mengikuti arah pandangan gadis wanita itu menata ke arah wajah patung lilin tersebut. Begitupun dengar Dirga yang masih berjongkok mengalihkan pandangannya ke arah wajah patung lilin itu.
Dari celah bagian mata dan kedua lubang hidung lilin itu mengeluarkan cairan merah kental yang sama seperti yang keluar dari jari jemari patung lilin tersebut. "Hey ini bukankah sangat mengerikan terlihat dia seperti sedang menangis", teriak salah satu pengunjung sambil terus menatap patung di hadapan mereka.
"Iya bukan hanya itu cairan yang keluar dari tubuh patung itu seperti darah segar", pengunjung lainnya pun ikut berkomentar. Kemudian semua pengunjung yang mengerumuni patung lilin itu mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka semua merasakan ngeri dengan kejadian itu.
"Apakah mungkin patung itu memang manusia betulan?", tanya pengunjung pria mengemukakan dugaannya.
"Kalau begitu seseorang tolong panggil pihak kepolisian", kata salah satu pengunjung hal itu sontak membuat para pengunjung lainnya menjadi panik. Bukan satu dua orang saja yang melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.
Sehingga pihak kepolisian langsung merespon laporan dari para orang-orang tersebut. Tidak berselang lama dua orang petugas kepolisian yang memakai baju bebas dan mendatangi tempat tersebut. Namun semua orang menyadari bahwa mereka berdua adalah petugas polisi karena mereka memakai name tag khas kepolisian.
Para pengunjung yang berada di dekat polisi itu memberikan jalan untuk kedua petugas itu. "Semuanya harap tenang dan menjauh perlahan dari arah TKP", kata salah satu petugas polisi itu sambil mengedarkan pandangannya kepada para pengunjung.
Beberapa hari pun berlalu, pada waktu malam Dirga duduk bersantai sambil menikmati segelas kopi hangat di atas balkon rumah kontrakannya. Rumah itu sengaja tidak memakai genteng, tapi diganti dengan rooftop. Yang bisa digunakan sebagai tempat untuk menjemur pakaian basah.
Dirga melamun sambil memandangi bintang yang kelap-kelip dilangit malam itu. Entah apa yang Dirga pikirkan. Namun tiba-tiba saja kepalannya mendadak pusing 17 keliling. Sebuah penglihatan aneh secara mendadak tergambar di kelopak matanya yang sudah hilang itu.
Ini sangat tidak bisa dipercaya. Tetapi hal itu memang terjadi pada Dirga saat ini. "Aaargh apa yang terjadi kepada kelopak mataku?, kenapa aku seperti bisa melihat dengan mata yang sudah tidak ada?", Dirga berteriak menahan rasa sakit di kepalanya saat penglihatan itu masih terekam samar-samar.
Lewat penglihatan aneh itu Dirga selintas melihat beberapa kertas yang berserakan diatas meja. Pada kertas itu terdapat sketsa gambar beberapa patung wanita. Tidak berselang lama penglihatan itu menghilang. Dirga pun kembali tidak merasakan pusing lagi.
"Apakah kelopak mataku masih terhubung dengan penglihatan bola mataku yang sudah hilang?, aku tadi seperti dapat melihat dengan bola mata yang orang lain gunakan. Mungkin saja bola mataku yang dulu diambil sekarang dipakai oleh salah seorang diluar sana. Tapi kenapa aku melihat gambar sketsa patung wanita yang mirip dengan patung lilin di taman itu ya?", Dirga menjadi menduga-duga.
"Sepertinya masih banyak misteri dibalik tubuhku ini. Dimulai tubuh yang bisa beregenerasi, penglihatan bola mata yang masih terhubung walaupun sudah digunakan orang lain. Aku harus mencari informasi tentang tubuhku ini", Dirga bertekad dalam hatinya.
Disebuah ruangan terdapat beberapa orang pria terlihat sedang melakukan pembicaraan serius. Mereka sedang mendengarkan penjelasan salah satu orang yang berada didepan mereka. Ada sebuah layar proyektor sebagai sumber pembicaraan para pria dewasa itu.
Pada layar proyektor tersebut terdapat gambar sebuah patung lilin yang dulu ada di taman itu. Mereka sudah memecahkan sedikit misteri tentang patung lilin manusia itu. Ternyata patung lilin tersebut bukanlah benar-benar sebuah patung lilin biasa.
Tetapi itu adalah mayat manusia yang diawetkan oleh cairan lilin. Mayat itu korban dari seorang psikopat mengerikan yang saat ini keberadaanya masih belum terlacak. Orang-orang yang ada di ruangan itu adalah pihak kepolisian kota itu.
Para orang-orang itu dipusingkan dengan kejadian ini. Mereka masih menemukan motif apapun dari kejadian patung manusia lilin itu. Saat sedang larut dalam pemikiran mereka masing-masing, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar. Masuklah satu orang pria keruangan itu dengan tergesa-gesa.
Kemudian melaporkan bahwa dia baru saja dapat laporan dari petugas di lapangan. Bahwa kasus manusia patung yang serupa pun ditemukan kembali di daerah lainnya. Segera saja mereka menyelidikinya, berharap dapat menemukan petunjuk yang akan membawa mereka ke pelaku kasus pembunuhan dengan menjadikan mayat korban menjadi patung lilin.
Setelah mencocokan kedua kasus tersebut, mereka menemukan satu petunjuk yang aneh. Bahwa pada kedua patung itu terdapat sebuah huruf yang serupa. Pada setiap bagian tubuh patung itu ditandai dengan huruf PL. Entah apa maksud pembunuh itu.