RAWARONTEK

RAWARONTEK
Menolong seorang gadis muda.



Kakek Wira tubuhnya memudar, dia menatap Dirga sambil tersenyum. Dirga tidak merasakan sentuhan tangan lagi di kedua telapak tangannya, yang sebelumnya menempel dengan tangan kakek Wira itu.


"Sekarang aku sudah merasa tenang meninggalkan dunia ini. Aku harap kau mendapat yang terbaik di dunia ini. Selamat tinggal dan sampai jumpa lagi".


Setelah kakek Wira menghilang sepenuhnya, Dirga juga merasakan bahwa suasana disekitarnya juga ikut berubah. Sebelumnya dia duduk diatas lantai beralaskan tikar bagus, tapi sekarang tikar itu berubah menjadi tikar rapuh, kotor dan penuh sobekan.


Begitupun dengan kondisi rumah dan perabotan lainnya menjadi terlihat rapuh dan berdebu. Dirga seperti tinggal dirumah tidak berpenghuni selama ratusan tahun. Atap dan sebagian dinding bambu itu juga terdapat banyak lubang.


Sehingga cahaya matahari dengan leluasa memasuki rumah tersebut tanpa hambatan apapun. Dirga tersadar dari kejadian yang dialaminya. Segera saja dia bergegas keluar.


Setelah keluar Dirga berbalik kearah rumah yang sebelumnya dia tinggali dengan kakek Wira itu. Dia masih penasaran dan tidak percaya dengan semua ini. "Ya Tuhan apakah aku mimpi?".


Dirga beberapa kali menggosok mata kirinya, tapi tetap rumah tersebut telah berubah menjadi rumah kosong yang hampir roboh. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi sebelumnya. Tapi aku merasa pengalaman bersama kakek Wira terasa nyata buatku".


"Bahkan sekarang ini aku merasakan semua pemahaman ilmu kakek Wira yang luar biasa telah menyatu dengan ingatanku. Siapapun kakek Wira itu, aku harap dia tenang di alam sana".


Dirga baru pertama kali ini melihat orang meninggalkan dunia ini dengan seluruh tubuhnya menghilang begitu saja. Pada umumnya manusia biasa meninggal hanya jiwanya saja yang menghilang.


Tapi berbeda dengan kakek Wira. Setelah beberapa saat mengerti kenapa kakek Wira meninggal seperti itu. Dirga faham bahwa kakek Wira sudah mencapai manusia sempurna, yang hatinya tidak memerlukan dunia lagi.


"Dengan pengetahuan dan ilmu yang diturunkan kakek Wira, aku sekarang menjadi memahami teknik beladiri dan pengobatan kuno. Oleh karena itu sekarang aku menjadi percaya diri menjalani hidup ini".


"Sekarang sepertinya aku tidak merasa takut lagi jika berhadapan dengan para preman yang dulu mengejar ku itu. Aku merasa mereka terkait dengan hilangnya mata kananku",


Dirga mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Lalu dia dengan penuh keyakinan pergi dari tempat itu untuk memulai hidup baru. Dia berpikir saat ini dia memerlukan uang untuk menjalani kehidupan normal.


Terlintas di pikiran Dirga bahwa dia akan meniru kakek Wira. Yang sebelumnya kakek Wira menggantungkan kehidupannya dengan mencari ikan di sungai terdekat. Kakek Wira sangat hebat dalam menangkap ikan hanya dengan kedua tangan kosongnya saja dia mampu menangkap beberapa kilo ikan.


Dan sekarang Dirga memahami kemampuan yang dulu kakek Wira miliki. Sebelumnya waktu Dirga hanyut di sungai itu dia tidak bisa berenang. Tetapi dengan diturunkannya ilmu kakek Wira kepadanya, sekarang Dirga merasa yakin bahwa dia juga bisa berenang dan mampu menangkap ikan dengan tangan kosong seperti Wira.


Karena suasana di pinggir sungai itu sedang sepi. Dirga segera membuka semua pakaiannya kecuali pakaian dalam saja. Tanpa ragu dia lalu melompat ke sungai. Tidak terasa satu jam lamanya Dirga berada di dalam sungai itu.


Sekarang Dirga sudah mendapatkan sekitar 3 kilo ikan air tawar. Dirga memperhatikan daerah sekitar untuk mencari sesuatu untuk bisa membawa ikan-ikan tersebut. Dia berencana akan menjual ikan itu ke pasar terdekat.


Pucuk di tiba ulam pun tiba, mata kiri Dirga menangkap kantong plastik yang terapung terbawa air sungai. Segera dia meraihnya dan memperhatikan bahwa kantong itu masih layak pakai.


Dirga berjalan sambil menenteng 3 kg ikan. Dia bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya mengenai di mana letak pasar terdekat. Sesampainya di pasar Dirga segera mencari para penjual ikan.


Dirga menawarkan ikan yang di bawahnya kepada beberapa penjual di sana. Akhirnya ikan itu pun ada yang membelinya dengan harga rp100.000. Dirga merasa senang karena ikan tangkapannya itu laku terjual.


Dirga pun duduk di sana bersama pelanggan lainnya yang menunggu nasi kuning tersebut. Setelah menghabiskan satu piring nasi kuning itu. Dirga kemudian mendorong nya dengan segelas air teh hangat.


"Berapa bu nasi kuningnya?", tanya Dirga sambil merogoh uang 100.000 di kantong celananya.


"10.000 aja dek", balas ibu itu.


"Baik ini uangnya Bu", Dirga memberikan uang selembar tersebut. Setelah menerima kembaliannya Dirga memasukkan kembali uang sisa ke dalam kantong celananya lagi.


Baru saja dia akan berbalik pergi, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara gedebuk seseorang yang terjatuh. "Aduh sakitnya", suara meringis seorang gadis muda sambil memegangi tangan kirinya. Gadis itu ternyata seorang yang menjadi korban tabrak lari pengendara mobil.


orang-orang di sekitar segera menyusul mobil yang sudah menabrak gadis itu. tetapi mereka tidak bisa menyusulnya. Dirga segera menghampiri dan gadis tersebut. dibantu para warga sekitar gadis itu dibawa ke tempat yang aman di pinggir jalan.


setelah Dirga memindai tubuh gadis itu, dia merasa yakin bahwa gadis itu hanya terdapat luka terkilir pada tangan kirinya. sehingga dengan kemampuan pengobatan Dirga dia dengan mudah bisa menyembuhkan gadis itu.


sebelumnya orang-orang di sana menyarankan agar gadis tersebut dibawa ke rumah sakit saja. karena mereka melihat ada darah yang menetes dari pergelangan tangan gadis itu. tetapi dengan sigap Dirga mencegahnya.


Dia meyakinkan orang-orang bahwa Dirga bisa menyembuhkan gadis itu. orang-orang di sana sebenarnya merasa ragu dengan perkataan Dirga yang mampu menolong gadis itu.


tetapi tanpa banyak bicara Dirga segera memegang pergelangan gadis itu dan terdengarlah suara gemeretak tulang di sana. seketika itu gadis tersebut meringis terlihat kesakitan. melihat hal itu orang-orang di sana mengutuk Dirga dengan sumpah serapah.


"sudah kubilang seharusnya dia dibawa saja ke rumah sakit"


"iya malah sok-sokan ingin membantu segala"


"sekarang lihatlah gadis itu menjadi semakin kesakitan karena pemuda itu"


orang-orang di sana memaki-maki Dirga karena melihat gadis itu yang seperti tidak membaik. saat sedang berada dalam situasi tersebut seorang pria paruh baya datang menerobos kerumunan itu.


dia langsung menarik kerah baju Dirga dan membentaknya. "kau apakan anakku? berani-beraninya kau berbuat seperti itu pada anak gadisku".


pria kekar dengan pakaian yang terlihat bersih dan rapi, meluapkan kemarahannya kepada Dirga. namun Dirga tetap tenang, dia tidak berusaha membalas perlakuan pria yang mengaku ayah dari gadis tersebut.


"tunggu ayah jangan sakiti dia Aku tidak apa-apa. dia benar ayah barusan dia yang sebenarnya menyembuhkan rasa sakit di tangan kiriku ini. sekarang Aku sudah tidak merasakan sakit lagi berkat orang itu", teriak gadis itu mencoba menahan pria kekar yang ingin memukul Dirga.


pria itu menahan pukulannya setelah mendengar perkataan anaknya itu.