
Flashback
Sebulan yang lalu sesudah Baron dan teman-temannya memukuli Dirga, mereka masih teringat bagaimana tubuh Dirga yang mempunyai ilmu rawa rontek. Mereka berenam masih membicarakan tentang Dirga di sebuah gang kecil.
"Bos Baron aku jadi penasaran kenapa orang itu memiliki ilmu yang mengerikan seperti itu?" tanya salah satu anak buah preman yang bernama Jordi.
Baron pun menjawab pertanyaan itu sesuai dengan pengetahuannya. Jauh sebelum dia menapaki dunia jalanan, Baron sempat diberikan wejangan oleh almarhum kakek buyutnya. "Ada dua kemungkinan manusia bisa memiliki ilmu rawa rontek. yang pertama dengan usahanya sendiri dan yang kedua mendapat warisan dari leluhurnya."
"setiap orang yang ingin memiliki ilmu rawa rontek harus mempunyai mental dan fisik yang sangat kuat, karena usaha yang harus dilaluinya sangatlah berat. Tetapi berbeda dengan orang yang mendapatkan ilmu rawa rontek lewat pemberian leluhurnya, dia tidak perlu bersusah payah melakukan ritual yang berat. Mereka sudah memiliki ilmu rawarontek sejak dilahirkan"
"Dari pengamatan ku tadi, sepertinya korban yang kita pukuli tadi adalah tipe pemilik ilmu rawa rontek yang kedua. Yaitu pemilik rawa rontek warisan dari leluhurnya. Sebab orang tadi tidak memiliki ilmu bela diri saat kita menganiayanya."
"Sedangkan biasanya orang pemilik rawa rontek tipe pertama yaitu mendapatkan ilmunya dengan usaha yang keras, dia pasti mempunyai ilmu bela diri yang sangat kuat. Karena sebelum menguasai ilmu rawa rontek mereka diwajibkan oleh guru mereka menguasai ilmu beladiri sampai puncaknya."
Baron menjelaskan panjang lebar menurut yang dia tahu. "Bos apakah kita bisa mendapatkan ilmu rawa rontek seperti dia?" tanya Jordi lagi.
"Tentu saja bisa. Jika ada seorang master ilmu rawa rontek yang mau mengajarkan ilmunya kepada kita. Namun sayangnya menemukan master tersebut sangatlah sulit, mereka biasanya menyembunyikan kemampuannya pada orang lain." balas Baron.
""Bos Baron ini sepertinya sangat mengerti orang yang memiliki ilmu rawarontek. Bos kita memang memiliki pengetahuan luas ya", kata teman Jordi yang bernama Sura menjilat pimpinannya.
Saat mereka sedang asik berbincang ada seorang laki-laki berperawakan kurus dan pendek melewati tongkrongan mereka. Namun Baron dan yang lainnya baru menyadari kehadiran orang itu saat dia melintasi mereka.
Melihat itu Baron melirik orang itu lalu berteriak, "Hey berhenti. Jika kau mau lewat jalan ini, kau harus bayar pada kami". Ke lima anak buah Baron pun memandangi laki-laki kurus itu. Mereka semua memperlihatkan kegarangan wajah mereka masing-masing untuk menakut-nakuti orang kurus itu.
Bahkan Jordi mengangkat kedua lengan bajunya sampai bahu, memperlihatkan otot tangannya yang kekar serta terdapat tato kepala anjing disana. Orang kurus itu berhenti melangkah setelah mendengar teriakan Baron tadi. Lalu dia berbalik menghadap Baron dan yang lainnya.
"Ada apa? apa kalian ingin memalak ku?", tanpa terduga orang kurus pendek itu dengan berani balik menggertak. Seakan dia tidak merasa takut menghadapai Baron dan yang lainnya.
"Hahahaha..." Baron tertawa terbahak-bahak meremehkan orang itu. Kemudian berkata kepada kelima anak buahnya, "Hei apakah kalian tidak lihat orang kerempeng ini memelototi kita?"
Orang kerempeng itu tidak gentar saat berhadapan dengan Jordi, yang ukuran tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari tubuhnya. Kini tersisa hanya tinggal beberapa langkah saja diantara Jordi dan orang kurus itu.
"Sekarang kau patahkan kedua kakimu lalu bersujud kepadaku. Maka aku akan mengampuni nyawa tidak berharga mu itu", bentak Jordi dengan jari telunjuk tangan kirinya menempel tepat di pelipis orang itu dengan sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah orang kurus itu.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Jordi, orang itu memejamkan kedua matanya lalu menarik udara sekitar melewati kedua lubang hidungnya perlahan, kemudian dia menyimpan energi murni diperutnya. Dengan kecepatan luar biasa orang kurus kecil itu melakukan gerakan sangat cepat. Sulit bagi orang biasa menangkap pergerakannya.
Belum sempat Jordi berkedip, dia tiba-tiba merasakan sakit di daerah tenggorokannya. "Hek", suara Jordi tertahan keluar seperti orang yang terkena cekikan. Satu detik kemudian Jordi jatuh tengkurap dibawah kaki orang kurus itu.
Jordi diam tidak bergerak lagi, kedua matanya terbelalak. Seakan tidak mempercayai kejadian yang telah dia terima saat ini. Sedangkan orang kurus pendek itu menatap tajam kearah Baron dan berkata lantang, "siapa lagi selanjutnya?, atau kalian maju saja sekalian. Aku tidak punya banyak waktu meladeni kalian semua".
Kejadian itu sangat cepat hingga Baron dan keempat anak buahnya belum sempat bereaksi. Mata mereka tidak berkedip, dan mulut mereka juga terbuka lebar. Jika saja ada serangga yang masuk tiba-tiba, pasti mereka tidak akan menyadarinya.
"Hei, apa kalian semua tuli?" orang kurus itu berteriak menggelegar bagaikan suara guntur menyadarkan keterkejutan Baron dan teman-temannya.
Baron tidak menyangka sedikitpun orang kecil dan pendek itu mempunyai ilmu beladiri yang sangat hebat. Jordi yang mempunyai badan tinggi besar, kelar dan bertato itu roboh hanya dengan satu gerakan saja. Bahkan mereka tidak sempat melihat pergerakan mematikan orang kurus itu.
Melihat keterampilan beladiri orang kurus itu, Baron menyadari bahwa dia tidak akan sanggup melawan orang itu. Bahkan jika mereka maju bersama pun dia tidak yakin dapan melumpuhkan orang itu. Selama ini Baron dan yang lainnya hanya preman rendahan.
Mereka tidak mempunyai ilmu beladiri apapun. Mereka hanya mengandalkan gertakan, keberanian dan otot saja. Tetapi sekarang mereka dihadapkan dengan orang yang memiliki ilmu beladiri hebat seperti orang yang ada dihadapan mereka.
Mendadak saja keberanian mereka semua menjadi menciut. Keempat anak buah Baron mundur kebelakang Baron dengan rasa ketakutan. Dihadapan orang itu mereka semua berkeringat dingin.
Kemudian Baron mendadak cengengesan dengan kedua tangan ditempelkan didepan dada. Seperti orang yang sedang meminta maaf. "Tuan tolong jangan diambil hati, kami tadi hanya bercanda. Kami tidak bermaksud mengganggu perjalanan anda. Untuk itu, kalau mau anda pergi silahkan saja. Kami tidak akan menghalangi anda". Baron berkata sambil mendekat dengan kaki yang gemetar.
Orang kurus yang ada dihadapan Baron diam tidak bereaksi. Matanya masih menatap tajam kearah Baron. Terlihat jelas bahwa dia sangat marah dengan keadaan ini. Hal itu membuat Baron semakin ketakutan. Dia dengan cepat memutar otaknya agar orang itu segera menekan amarahnya.
Baron segera merogoh kantong celana jeansnya yang lusuh penuh sobekan. Kemudian dia menyodorkan lembaran uang ratusan ribu kepada orang yang ada didepannya dengan wajah dibuat seramah mungkin.