RAWARONTEK

RAWARONTEK
Bertemu M



Dirga menatap datar pria kekar yang masih menarik kerah bajunya keatas. Hingga dia menjadi sedikit berjinjit. Setelah mendengar perkataan anaknya, bahwa Dirga yang telah menolong cedera anaknya dia segera melepaskan tangannya.


Pria itu segera melangkah mendekati anak gadisnya dan berkata "benarkah kau sudah tidak apa-apa? bukanya kau tadi tertabrak mobil. Ayah sangat jelas melihatnya". pria itu memegang kedua bahu anak gadisnya penuh kekhawatiran.


Sebelum kejadian dia sedang mengambil uang di mesin ATM terdekat. Setelah keluar dan ingin menyebrang jalan, dia tidak sengaja melihat mobil yang bergerak sangat kencang. Dalam hatinya dia mengutuk keras pengendara yang mengendarai mobil itu.


Tapi kemudian hal mengerikan terjadi saat dia terus memperhatikan mobil itu. Entah sengaja atau tidak mobil tersebut menabrak anak gadisnya yang berjalan di bahu jalan. Suara benturan keras jelas terdengar olehnya.


Pria itupun bergegas dengan panik menuju anaknya. Tapi setelah sampai dia melihat tangan anak gadisnya sedang dipegang Dirga. Dan ekspresi anaknya meringis menahan sakit, saat proses membetulkan tulang lengan yang terkilir itu.


Tentu saja dia sangat marah. Anak gadisnya yang baru tertabrak mobil bukannya langsung dibawa ke klinik, ini malah dipegang pegang orang tidak dikenal. Tetapi setelah mendengar kebenaran dari anaknya langsung, dia menjadi merasa malu dan sedikit bersalah juga.


Setelah bernapas lega dia pun kembali berbalik menghadap Dirga. Usia Dirga dengan anak gadisnya hampir seumuran. "Nak maafkan bapak yang sudah bersalah kepadamu. Bukannya berterima kasih bapak malah membentak kamu. Sebagai permohonan maaf terimalah uang ini".


Pria itu memberikan beberapa lembar uang 100 ribuan kepada tangan Dirga. Tapi berusaha menolaknya. "Tidak usah pak saya benar-benar ikhlas menolong anak bapak. Bukankah kita sebagai manusia harus saling tolong menolong?" kata Dirga tanpa keraguan menolak dengan halus pemberian pria itu.


Mendengar perkataan Dirga pria itu tersentuh. Dia tidak memaksa, tapi akhirnya dia hanya memberikan kartu namanya dan berkata "Baiklah jika kamu bersikeras tidak menerima uangku. Tapi setidaknya kamu terimalah kartu namaku ini. Mulai dari sekarang anggap aku dan anakku ini sebagai saudara mu.


Hubungi aku jika perlu sesuatu aku pasti akan membantu". balas pria itu, lalu mengajak anaknya pergi dari tempat itu. Dirga menerima kartu nama pria itu dan membaca sebuah nama yang tertera di sana. Handaka Santosa, Presdir Santosa grup. Ada juga nomor telepon disana.


Setelah puas melihatnya Dirga menyimpan kartu nama itu kedalam saku bajunya. Dirga berpikir sejenak setelah dirinya menerima warisan ilmu kuno dari kakek Wira dia jadi percaya diri. Sekarang tujuannya adalah mengambil kembali mata kirinya yang sudah diambil kelompok mafia human trafficking.


Dia berpikir bahwa para preman yang dulu mengejar dirinya mungkin adalah komplotan mafia tersebut. Oleh karena itu untuk saat ini sekarang dia akan berangkat kembali ke kota asalnya Sundaran.


Jarak antara kota Majadaka ke Sundaran tidaklah terlalu jauh. Hanya dengan menaiki sebuah bus dalam satu jam setengah maka dia akan sampai disana. Sesampainya di kota Sundaran, Dirga langsung menuju ke arah bukit yang ada tidak jauh dari rumahnya.


Di bukit tersebut Dirga mencari beberapa tanaman herbal. Setelah mendapatkan ilmu dari kakek Wira Dirga juga menguasai beberapa teknik penguatan tubuh. Rumput yang dulunya tidak berguna di mata Dirga, tapi sekarang dia tahu bahwa beberapa rumput itu adalah rumput herbal.


Yang jika diolah dengan sedemikian rupa maka rumput itu bisa menjadi ramuan untuk memperkuat tubuhnya. Setelah merasa cukup mengumpulkan rumput tersebut, maka Dirga sekarang bergegas ke rumahnya untuk mengolah rumput tersebut menjadi herbal alami.


Sesampainya di rumah Dirga segera membersihkan dan merebus tanaman itu. Setelah 30 menit Dirga memasukan tanaman yang sudah direbus itu kedalam bak mandi bersama dengan air rebusannya. Dengan tambahan air dingin secukupnya.


Selama satu jam Dirga berendam dengan air hangat itu. Keajaiban pun terjadi pada tubuhnya. Kulitnya menjadi halus dan bercahaya. Masa ototnya semakin membesar. Pandangan matanya menjadi tajam. Begitupun pendengarannya menjadi meningkat.


"Untuk hari ini sepertinya sudah cukup", kekuatanku menjadi bertambah. Tinggal latihan yang cukup aku pasti dapat menghapal jurus beladiri peninggalan kakek Wira. Walaupun sebenarnya dia sudah hapal tetapi tubuhnya belum terbiasa melakukan gerakan beladiri.


"Ternyata mereka kali. Baguslah aku jadi tidak perlu bersusah payah mencari mereka", gumam Dirga menunggu kedatangan mereka.


Baron memimpin para anak buahnya. Tetapi mereka hanya berenam, sedangkan M tidak ada bersama mereka.


"Kau ikut dengan kami kalau mau selamat" bentak Baron, kedua matanya melotot seperti akan keluar. Sekarang Dirga tidak takut pada mereka. Justru dia merasa senang karena inilah saat yang tepat menguji ilmu beladiri nya.


"Kalau bicara itu yang sopan, gak usah sambil ngegas", ledek Dirga tersenyum sinis.


"Kau sudah berani ya? apa kau mau kami pukuli lagi?" Baron menakuti.


"Oke jika kalian jual aku beli", Dirga langsung memasang kuda-kuda tarung menyamping, satu tangannya melambai kepada Baron dan teman-temannya.


"Kurang ajar, serang dia..jangan takut tuan M membantu jika terdesak", Baron memerintah anak buahnya.


Teriakan para preman itu membuat takut orang sekitar. Mereka yang ada disana segera menjauh. Tapi sebagian ada yang menonton pertunjukan bagus yang sebentar lagi akan dimulai.


Karena air rendaman tumbuhan herbal itu badan Dirga menjadi semakin kuat. Dengan dipadukan ilmu beladiri yang sudah dia pahami sangat mudah Dirga melumpuhkan mereka berlima.


Baron melihat itu terbelalak tidak percaya. "Bangsat sejak kapan dia jadi jago gini?. Jika seperti ini aku harus meminta bantuan tuan M". Baron segera melakukan panggilan telpon.


"Ayo maju, kenapa kamu cuma diam saja?" tantang Dirga pada Baron yang masih diam ditempat.


"Tunggu saja kau sebentar lagi bos kami akan datang", tunjuk Baron mengancam.


Dirga berlari dengan cepat mendekati Baron, kaki kanannya bergerak menendang dada Baron hingga terpental beberapa langkah. Baron terkapar di tanah memegangi dadanya yang terasa remuk.


"Dasar para pecundang, mulai sekarang kalian jangan menggangguku lagi", Dirga lalu berbalik dan berniat akan meninggalkan tempat itu. Tetapi tiba-tiba M datang dengan aura membunuh yang kuat.


Dirga menghentikan langkah kakinya. Pandangan matanya tertuju pada pria kurus yang berjalan kearahnya sambil tersenyum lebar. "Siapa kau? aku tidak punya masalah dengan mu", kata Dirga mundur selangkah.


Dirga sedikit terpengaruh dengan aura membunuh yang dikeluarkan M. Wajar karena Dirga belum pernah membunuh manusia dia tidak punya aura membunuh seperti M.